Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
38. Sore Yang Penuh Cerita


__ADS_3

Seperti biasa, Ilyas memarut kelapa dengan santainya ditemani angin sore yang begitu segar. Hari ini sepertinya akan berjalan dengan mulus. Tak ada dipikiran Ilyas akan ada sesuatu hal yang mendebarkan akan terjadi.


Benar saja, tak lama setelah ia memarut tiba-tiba saja mesin parut yang sedang dipakai itu berhenti. Seketika langsung panik , dia langsung memikirkan banyak hal yang buruk . Ia benar-benar sangat takut. Mana yang diparut baru setengahnya , entah harus berbuat apa Ilyas.


"Mati lampu Yas lagian," Hasan yang berada di dapur segera menangkap pikirannya Ilyas yang sedang kacau balau.


"Beneran?" Ilyas berkata setengah tak percaya.


"Cek aja dulu kalau enggak percaya," terdengar suara dari dapur.


Setelah mendengar ucapan Hasan itu, Ilyas segera pergi melihat meteran listrik untuk memastikan kebenaran ucapan itu . Dan setelah ia melihat dengan matanya sendiri, ia percaya juga sekaligus bingung karena ia harus menyelesaikan setengah pekerjaannya itu. Mukanya terlihat lesu, walaupun lega karena mesin parut yang ia pakai tidak rusak, tapi tetap saja ia galau berat. Mendadak kepalanya pusing.

__ADS_1


"Kau bisa marut pake tangan enggak Yas? Soalnya kan kita enggak tahu kapan hidupnya lagi ," suara Riski terdengar jelas olehnya, Ilyas yang belum pernah memarut dengan manual mukanya terlihat makin lesu. Dia bingung harus menjawab apa.


"Hmmmm, bisa kalau diajarin," akhirnya dia berkata begitu.


"Bentar, aku ambilkan parutan kelapanya dulu," Riski segera pergi untuk mengambil alat yang dimaksud. Tak lama, ia kembali dengan alat pemarut kelapa tradisional.


"Cobain dulu," Riski menyerahkannya kepada Riski. Tak lupa, ia juga memberinya sebuah kelapa yang sudah ia pisahkan dari batoknya.


Sambil terus mengeluh didalam hati, Ilyas berusaha mengerjakan. apa yang harus ia kerjakan. Matanya terus saja melihat kearah kelapa yang masih tersisa banyak sekali. Ia merasa tidak sanggup. Rasanya menyesal telah membayangkan mati lampu saat sedang memarut kelapa.


Andai saja tadi pagi tidak memikirkan sesuatu yang sangat memberatkan begini, pasti tak akan terjadi. Walaupun ia tahu waktu tidak bisa lagi diputar , tapi ia ingin memutar waktu. Rasanya ingin sekali menangis. Tapi kan tidak mungkin ia menangis disitu.

__ADS_1


Bang, aku kayaknya hari ini pulang terlambat. Jangan khawatir lagi ya


Segera Ilyas memberitahu Yusuf dengan mengiriminya pesan . Soalnya dia juga tak tahu kapan akan selesai. Sebenarnya mau nanti saja ia mengabari, tapi ia takut Yusuf akan melakukan hal yang berlebihan seperti kemarin. Yang kemarin itu sudah lebih dari cukup.


"Yas, mending kau buat santan aja dulu . Sisanya besok lagi, tapi ya berangkatnya yang cepat ya. Kalau bisa sekalian ikut jama'ah di masjid sekitar sini. Selesai sholat langsung kau parut," begitu masuk ke dapur, Riski segera berkata begitu. Tampaknya mereka berdua tadi keluar untuk berunding.


"Enggak apa-apa?" Ilyas merasa tidak enak walaupun ia senang juga terlepas dari parutan tangan tradisional .


"Mau gimana lagi. Enggak mungkin nungguin sampai hidup lampu, kayaknya bakal lama juga mati lampu," kali ini Hasan yang ngomong.


"Ya udah kalau gitu ," jawab Ilyas segera mengerjakan apa yang harus dikerjakannya.

__ADS_1


"


__ADS_2