
"Beresin gudang yok, dah lama diberesin," Usai mengambil Motor milik Ilyas di bengkel ia berkata begitu.
"Mumpung aku libur juga," lanjutnya.
"Oke bos," Jawab Ilyas mengiyakan.
Mereka kemudian menuju gudang yang terlihat lama sekali tidak terjamah manusia.
"Kotor banget ya? Maklum aja. Aku mau bersihin gudang sendirian rasanya males banget. Untung ada kau, jadinya kan aku bisa mengatasi rasa malas walaupun sedikit."
"Hari ini juga mumpung aku bisa. Tadi aku lihat ada rumah makan cari pegawai. Mungkin habis ini aku mau ngelamar. Kali aja kan keterima," Ilyas menanggapi ucapannya Yusuf.
"Kau mau kerja? " Yusuf lumayan kaget juga mendengarnya. Ucapan yang ia dengar itu rasanya tak pernah ada dalam pikirannya.
"Iya. Pingin nyari pengalaman sama temen juga. Kali aja bisa dapet jodoh."
"Masih kecil dah mikirin jodoh. Masalah jodoh itu gak selamanya indah dek. Enggak gampang dapetinnya," Yusuf tak mengira anak umur segitu dudah mikirin soal jodoh, padahal KTP aja belum punya .
"Makanya nyari dari sekarang. Biar nanti kalau udah umurnya nikah tinggal nikah. Enggak perlu nyari pasangan lagi."
"Terserahmu deh. Mending kita mulai beresinnya," Yusuf e
tak ingin memperpanjang kata-kata lagi. Lagipula ia merasa takkan menang melawannya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mendukung apa yang dilakukan oleh Ilyas.
"Rumah makan mana yang katamu nyari pegawai?" sambil memulai membereskan gudang yang nampaknya puluhan tahun tidak pernah diurusin.
__ADS_1
"Lupa namanya. Yang jelas di depannya ada warung sate gitu. Semoga aja belum ada yang daftar disana,"
"kalau misalnya udah ada yang daftar?"
"Cari lagi yang ada. Entah itu rumah makan lagi ataupun toko. Daripada di rumah terus, gabut banget rasanya. Pingin punya uang juga."
"Semoga beruntung ya," sambil menaruh beberapa barang tak terpakai Yusuf berkata.
"Semoga," Ucapannya Ilyas mengandung harapan.
"Itu nanti taruh di samping rumah ya. Biar nanti kalau di jual ke tukang rongsokan gampang tinggal manggil aja," Yusuf berkata sambil menunjuk ke barang yang menurutnya tidak terpakai lagi.
"Siap bos."
Segera Ilyas melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
Mungkin inilah penyebab ibunya pergi saat itu. Waktu itu bapaknya juga tidak mengatakan bahwa mereka bercerai, ia selalu saja berkelit dengan ribuan alasan . Sekarang orang bisa dimintai keterangan mengenai hal ini sudah tiada. Bapaknya sudah wafat tiga tahun lalu akibat penyakit diabetes.
Padahal dahulu, hubungan mereka masih terlihat romantis. Tapi kenapa bisa bercerai? Setidaknya beritahu anaknya kalau mau cerai, Yusuf rasanya tidak terima karena dia merasa harus mengetahui mengenai ini dan itu. Lagipula saat surat itu dikeluarkan, ia sudah duduk di bangku SMA. Sudah bisa maklum, walaupun belum tentu bisa menerima.
Setelah kepergian ibunya, bapaknya tidak mencari pengganti lagi. Mungkin saja ia masih cinta , atau memang sudah tak ingin lagi. Apapun itu, pasti ada alasannya sendiri.
Adiknya dulu, saat masih kecil terus memanggil nama ibu Kaka sedang panas tinggi. Hanya saja, semakin besar ia nampaknya tidak terlalu memperdulikan. Ia tak pernah lagi menanyakan mengenai ibunya lagi. Berbeda dengan Yusuf yang sampai saat ini masih menginginkan ada sosok ibunya. Ia terkadang iri dengan orang lain yang punya keluarga lengkap.
"Lihat tuh, istrinya kabur . Pasti enggak pernah diurusin," komentar nyinyir salah seorang tetangga yang pernah ia dengar mengenai bapaknya.
__ADS_1
"Pasti enggak bisa muasin istri sampai kabur dia nyari cowok lain," bunyi komentar yang lain.
"Istrinya gak bener tuh. Dia pasti selingkuh. Dia pasti kabur sama selingkuhannya," Komentar nyinyir belasan tahun lalu rasanya tak pernah hilang dari pikirannya.
Orang itu tau apa? Kenapa mereka berkata seolah mereka tahu segalanya? Sedangkan anaknya aja tak diberitahu mengenai perceraian yang sudah berlalu sangat lama.
Nanti sore ia berencana ke makam bapaknya. Ia ingin protes mengenai hal ini. Walaupun mungkin tak didengar, setidaknya ia bisa mengeluarkan isi hatinya. Sekalian ia ingin mampir ke makam adiknya. Ia ingin bercerita mengenai Ilyas.
Terdengar langkah kaki dari luar, Yusuf segera memasukkan lembaran kertas itu kembali ke tempatnya. Ia tak ingin Ilyas tahu mengenai hal ini. Terutama sekali karena ia tak ada sangkut-pautnya.
"Udah bang. Adalagi yang mau dibawa keluar juga?" Tanyanya saat masuk lagi ke gudang.
"Belum ada. Oh ya, kau beneran enggak mau sekolah? Bukannya ngelarang kau kerja, tapi ya gimana ya ngomongnya," sebenarnya Yusuf bertanya untuk mengalihkan pikirannya mengenai hal yang baru diketahuinya mengenai orang tuanya.
"Kalau dibilang mau sih mau. Tapi kan aku kabur enggak bawa ijazah. Tau sendiri kan daftar sekolah harus pake ijazah," Ilyas menjawab pertanyaannya Yusuf.
"Kalau KK? Besok kau kalau mau buat KTP kan harus pake KK."
"Enggak punya KTP ya enggak masalah lah . Lagian kayaknya enggak terlalu penting juga," jawabnya dengan santai.
"Nikah lho harus pake ada KTP . Kalau enggak ada enggak bisa ngurus surat nikah."
"Itu urusan nanti. Bisa diatur itu. Lagian aku nikahnya juga masih lama."
"Ya udah . Kau beresin bagian sana aja " Yusuf berkata sambil menunjukkan bagian mana yang harus Ilyas bereskan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Ilyas terlihat berlari kencang sambil berteriak mengucap bahwa di situ ada ular sedang tertidur. Kerena penasaran, Yusuf segera melihat ketempat itu, dan benar saja disana ada ular sanca berukuran sedang sedang tertidur . Nampaknya ia baru memakan sesuatu. Yusuf segera meninggalkan ular itu. Jalannya agak santai. Ia ingin menelpon salah seorang tetangganya yang katanya mau membeli ular .
Setelah menelpon , ia segera menenangkan Ilyas yang ternyata sangat takut dengan binatang melata tersebut. Ia masih berkeringat dingin. Dadanya rasanya berdegup sangat kencang. Nafasnya tinggal separuh saja. Bagaimanapun juga ia merasa bersalah padanya.