Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
33. Terlalu Berlebihan


__ADS_3

Saat sedang dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja ia menoleh ke arah rumah makan tempatnya kerja. Disana, ia seperti melihat seseorang yang tak asing berada didepan rumah makan itu sambil melamun. Karena penasaran, ia mendekati orang itu.


Berapa terkejutnya ia begitu pula dengan orang itu. Untuk pertama kalinya, Ilyas melihat orang itu terlihat bersedih. Air mata yang mengalir dengan lembut itu buktinya.


"Yas, kau darimana aja?" Begitu melihat Ilyas didepan matanya, ia langsung bertanya begitu. Sebenarnya ingin sekali rasanya memeluknya seperti adik kecil. Tapi enggan dilakukan olehnya. Bukannya tidak mau, tapi kalau melakukan hal seperti itu pasti akan ada pikiran aneh dari orang yang melihatnya.


"Tadi main dulu sebentar."


"Lain kali jangan diulangi ya. Kalau mau kemana-mana bilang," kata Yusuf lagi.


"Sebenarnya aku ingin bilang. Tapi tau sendiri aku enggak punya ponsel. Mau pulang ke rumah dulu tapi kayaknya gimana gitu . Lain kali aku enggak bakal ngelakuin hal kayak gini lagi."


"Mau ponsel yang gimana kau?"


"Hmmmmm..." Pertanyaannya Yusuf rada aneh menurutnya.


"Enggak usah sungkan. Sama aku ini."

__ADS_1


"Belum kepikiran mau yang kayak mana. Belum ada duit buat beli juga."


"Ke toko ponsel yuk. Biar nanti kau bebas milihnya. Enggak usah lihat harga, biar nanti aku yang bayar," Yusuf berusaha meyakinkan. Dia seperti berencana untuk membelikan ponsel agar kejadian seperti ini tak terulang lagi.


Ilyas merasa bersalah. Padahal tadi niatnya cuma ingin memastikan kebenaran ucapan Hasan, tapi malah begini akhirnya. Ada rasa menyesal didalam hatinya. Lain kali, ia takkan melakukan hal seperti ini lagi.


***


"Pilih aja yang mana kira-kira cocok untukmu," setibanya di toko ponsel Yusuf berkata begitu.


"Yakin yang itu?" Setelah melihat ponsel yang ditunjuk oleh Ilyas , Yusuf hanya berkata begitu .


"Kalau aku pilih yang ini sih. Yang lebih mantap," Yusuf memberi penawaran.


"Ini aja bang. Menurutku bagus juga kok."


"Terserah mu aja," Yusuf menyetujuinya.

__ADS_1


***


Senja sudah menyapa. Warna langit yang berwarna jingga tampak menghiasi langit . Setelah membeli ponsel baru, mereka langsung pulang ke rumah.


"Aku mandi dulu ya bang," Begitu masuk Ilyas langsung berkata begitu.


"Ya udah sana . Habis mandi kita makan."


"Siap," Ilyas segera masuk ke kamar untuk mengambil handuk kemudian langsung ke kamar mandi.


Sambil mengguyur badannya, ia memikirkan hal yang dilakukan oleh Yusuf tadi. Ia merasa semua yang dilakukan itu terlalu berlebihan sekali. Ia merasa bersalah , tapi ia senang ada orang yang memperhatikannya . Sudah lama ia tak merasakan hal itu. Terakhir kali ia sudah lupa. Tapi yang itu terjadi sebelum orangtuanya selalu bertengkar.


Tadi, untuk pertama kalinya Yusuf menangis. Ingin rasanya bertanya. Tapi ia tidak berani. Takutnya nanti malam Yusuf jadi Sedih. Ia tidak ingin hal itu terjadi.


Selesai mandi ia langsung menemui Yusuf yang sudah berada dimeja makan. Segera ia duduk di bangku yang kosong. Didepannya sudah tersaji sebungkus nasi yang tampak lezat.


"Makan dulu Yas. Aku pilih menu yang spesial lho buat kau. Kau pasti suka," sambil membuka bungkusan nasi , Yusuf berkat seperti itu .

__ADS_1


__ADS_2