Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
54. Tanpa Tujuan


__ADS_3

"Lakuin aja yang menurutmu benar. Kalau mau udahan ya udahan aja kalau mau lanjut jangan menyerah. Laki kan?" sambil menerima segelas minuman berisi kopi Abangnya Fitri berkata.


Yusuf diam, apa yang dia bilang memang benar. Lagian untuk apa sebuah hubungan dilanjutkan kalau ada pihak yang masih ragu? Kan enggak ada gunanya juga. Bagaimanapun juga Yusuf harus bersikap tegas, kalau tidak sampai kapanpun dia akan tetap menyedihkan seperti itu.


"Ya udah ya, kalau enggak ada yang mau dibicarakan lagi . Makasih minumnya," orang yang diajak bicara oleh Yusuf tadi segera menghabiskan segelas kopi yang terlihat masih berasap kemudian langsung berkata begitu. Nampaknya dia sudah ingin pergi dari sana .


Karena sudah ada alasan lagi untuk terus berada disana, Yusuf segera pergi setelah membayar yang ia pesan tadi. Karena tidak punya tujuan yang jelas Yusuf memutuskan untuk jalan-jalan saja, mumpung bisa juga. Lagipula ia sudah membuktikan bahwa dengan jalan-jalan ia akan menemukan sesuatu yang baru. Entah itu apa yang jelas bisa mengurangi tingkat kegalauan yang ia miliki.

__ADS_1


Di sebuah jalan yang lumayan sepi, entah mengapa matanya Yusuf terfokus pada dua sosok renta yang masih terlihat romantis. Di depan rumahnya yang terbuat dari papan, mereka berdua nampak sedang saling menyuapi satu sama lain layaknya pengantin baru.


Romantis kali ya mereka, siapapun pasti iri melihatnya. Mungkin itulah definisi cinta tak mengenal umur, bahkan semakin berumur malah semakin mesra. Yusuf senang sekali melihatnya walaupun dia sendiri iri. Ingin rasanya diusianya yang senja nanti ia bisa seperti mereka.


Rasanya kayaknya mantap kali, biar nanti diledekin cucu pun tidak masalah. Orang baper kalau ngelihat pasangan seumurannya lagi kasmaran atau mungkin juga kepada pasangan pengantin baru. Tapi apa mereka pernah baper ya melihat dua insan berusia senja masih terlihat romantis.


Ingin sebenarnya memotret momen seperti itu, tapi karena tidak kenal ia takut ada orang melihat terus dikirain buat apa lagi dia mengambil foto. Karena ia sebenarnya tidak tahu berada di mana jadinya dia melewatkan kesempatan itu begitu saja agar tidak terkena masalah.

__ADS_1


Tak terasa, karena memang sedang tidak bekerja ia bahkan sampai tidak sadar sudah hampir setengah harian ia berjalan-jalan tanpa tujuan yang benar-benar jelas. Ia sadar waktu berlalu begitu cepat saat suara adzan mulai terdengar di setiap masjid yang berada disekitarnya. Sebenarnya antara percaya atau tidak, ia bahkan sampai melihat jam di ponselnya untuk memastikannya.


Sebelum sholat, ia mencari tempat makan dulu. Rupanya perutnya lapar ternyata. Nasi warteg yang tadi pagi ia makan rupanya telah selesai diproses. Ususnya butuh sesuatu untuk diproses lagi. Setelah memilih beberapa tempat, ia akhirnya memilih bakso beranak sebagai menu makan siangnya.


Usai makan ia segera mencari masjid untuk sholat , namun saat sedang mencari masjid, entah kenapa tak jauh dari sana terlihat kerumunan orang , karena penasaran ia ikut juga bergabung bersama kerumunan itu. Terlihat darah memenuhi pinggiran jalan di mana rupanya baru saja terjadi kecelakaan disana . Seorang pemuda tanggung berwarna hitam manis terbujur kaku didekat motornya yang terlihat rusak parah.


Entah kenapa, Yusuf jadi ingat dengan adiknya yang mengalami kejadian yang mungkin sama dengan orang itu. Yusuf entah kenapa tidak tahan berada disana. Ia tidak ingin melihat darah yang mulai membeku, hal itu mengingatkannya kepada adiknya yang mengalami kejadian menyedihkan seperti itu. Ia tidak ingin lagi mengingat senja yang cerah namun sangat kelam dihari itu.

__ADS_1


Ia memutuskan untuk segera sholat kemudian pulang, lebih baik begitu daripada terus melihat wajah pria yang meninggal tadi dipinggiran jalan. Ia ingin tidur, tidak peduli akan mimpi buruk yang akan menemaninya tidur tadi. Sorenya ia berencana untuk datang ke kuburan di mana adiknya sedang beristirahat disana. Ia ingin menceritakan keluh kesahnya yang tidak bisa terucap saat berhadapan dengan orang lain .


Entah kenapa, saat dulu ia pernah hampir tidak ingin ke kuburan saat ia belum bisa merelakan adiknya beristirahat dengan tenang, tapi kini kalau lagi ada masalah yang tidak bisa diucapkan ke orang lain ia selalu datang ke kuburan untuk curhat. Tidak peduli mau dikata orang apa, yang jelas dia sendiri senang. Ditambah lagi ia sebenarnya mulai suka dengan senja yang terlihat indah sekali diantara bunga-bunga yang sedang bermekaran disana. Lagipula ia sadar, suatu saat ia akan berbaring di salah satu tempat yang tersedia. Walaupun dia tidak tahu dimana tanah yang akan menjadi tempatnya nanti, yang jelas suatu saat ia akan berada disana bila waktunya telah tiba .


__ADS_2