Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
56 . Kisah Riski Di Hari Yang Telah Lalu


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama , Riski dengan asyiknya menikmati pemandangan yang begitu mantap. Sinar kekuningan dari mentari yang kian pekat nampaknya telah membuat hatinya damai, walaupun pikirannya kacau hari ini. Dia sendiri tak tahu bagaimana caranya untuk membuatnya bersemangat.


Semuanya menurutnya terjadi karena mimpi semalam. Sebenarnya lebih tepat memori yang diputar saat mimpi soalnya yang ada di mimpinya adalah memori saat dimana keluarganya mulai tercerai berai. Sebenarnya ia tidak mau mengingat hal ini, tapi ia tak bisa. Otaknya terus menyimpan memori terburuk dalam hidupnya.


Sore itu, ia sebenarnya membayangkan bagaimana jika hari itu tak ada. Keluarganya juga tidak bercerai berai, Riski juga tidak perlu bekerja di rumah makan. Pokoknya hidupnya pasti enak sekarang.


Dia sebenarnya merindukan masa lalu yang sangat indah. Masa dimana ia menjadi pusat perhatian teman-temannya, masa dimana ia bisa mendapatkan cinta dengan mudah, masa untuk bisa melakukan semuanya dengan mudah. Pokoknya banyak sekali hal yang ia bisa.


Dulu, banyak uang sih. Mereka mungkin mendekati karena silau oleh pesona yang di tebar oleh selembar kertas. Lelaki atau wanita sama saja, ia bahkan pernah berpikir untuk tidak mempunyai teman, ia juga tidak percaya dengan cinta. Nyatanya mereka semua pergi bahkan dengan mudahnya mencemooh dirinya yang sudah tidak punya apa-apa lagi.


Teman itu tidak perlu begitu juga dengan cinta. Lagian yang didapat cuma cinta palsu wajar jika dia berpendapat seperti itu. Lagian katanya bodoh jika masih terperosok ke lubang yang sama, makanya Ia pernah berpikir seperti itu. Perlahan tapi pasti, ia sendiri tidak tahu kenapa pertahanannya menjadi lemah saat mendapat teman yang bisa menerima dirinya tanpa memandang apakah ia punya uang atau tidak.


***


"Kita sekarang berteman kan?" Riski ingat hari pertama masuk rumah makan, rekan kerjanya yang telah lebih dulu bekerja disana dengan tersenyum berkata demikian. Waktu itu ia bertekad pada diri sendiri untuk tidak berhubungan dengan orang lain lebih jauh.


"Hmmmm, mungkin ya. Habis ini aku ngapain?" Waktu itu ia berusaha menghindar.

__ADS_1


"Habis ini kita ngobrol. Jangan takut, enggak bakal aku ngelakuin hal yang aneh."


"Tapi aku ini....."


"Aku tahu. Aku pernah lihat kamu di tv, waktu itu enggak sengaja sih . Aku tahu kamu anaknya......."


"Itu tau, kayaknya lebih baik hubungan kita cuma sebatas teman kerja aja deh," Riski langsung memotong omongannya. Dia tidak ingin mendengar lebih jauh lagi .


"Kenapa rupanya? Kau malu karena bapakmu? Santai aja, aku enggak bakal membahas soal itu kalau kamu mau jadi temanku. Aku janji."


"Kalau misalnya aku tidak mau berteman?"


"Mainnya maksa, ya udah aku mau jadi temanku. Tapi boleh enggak aku tanya?"


"Silahkan."


"Kenapa sih kamu mau jadi temanku? sedangkan orang-orang yang sebelumnya ku kenal mereka langsung menjauh saat aku kehilangan semuanya."

__ADS_1


"Soalnya aku ingin berteman dengan semua orang yang ku kenal bagaimanapun caranya aku enggak peduli. Selama tujuanku tercapai apapun akan ku lakukan."


"Apa untungnya sih berteman sama aku? sekarang aku udah enggak punya apa-apa. Aku enggak punya uang banyak sekarang."


"Temenan bukan soal uang. Aku lebih suka mendengarkan kisah-kisah dari teman-temanku daripada uang. Lagian saat mengetahui sisi lain yang menarik dari seorang teman rasanya menyenangkan sekali."


"Aku juga enggak punya sisi...."


"Kita sekarang teman kan?" belum sempat Riski menyelesaikan perkataannya, orang ini main asal potong saja.


Seiring waktu yang telah berlalu, ia akhirnya berhasil memperoleh kepercayaan dirinya mengenai pertemanan. Segala hal buruk yang ia pikirkan perlahan terkikis. Perlahan tapi pasti ia akhirnya bisa percaya pada hubungan yang menurutnya rumit ini. Walaupun begitu ia senang karena akhirnya ia mendapat teman yang menurutnya tulus padanya.


Sayangnya dia pergi ketempat yang jauh sekarang. Padahal tanpa dia, mungkin Riski akan tetap memiliki pandangan buruk terhadap orang-orang. Hidupnya yang sepi bertambah kelam tanpa ada senyum yang keluar dengan begitu lepasnya.


Walaupun dia sudah tak ada namun akan ada yang menggantikannya. Begitu katanya saat hari terakhir bertatap mata. Rasanya menyedihkan, tapi dia mempunyai alasan yang lebih kuat untuk pergi. Rela atau tidak ia harus ikhlas menerimanya.


Mungkin karena itu juga ia akhirnya bisa dekat dengan Ilyas di hati pertama dia bekerja. Selain karena ia diberi kepercayaan oleh bos yang menurutnya sok sibuk itu, ia ingin berteman dengannya dengan tulus . Ia juga tak sabar untuk mendengar cerita yang mungkin menarik darinya.

__ADS_1


Biar begitu, ia tetap ingin melupakan kenyataan yang pahit di waktu yang tak lagi bisa disentuh olehnya. Ia tidak ingin mengingat lagi hari dimana ayahnya masuk penjara, dan yang lebih penting ia tidak ingin mengingat hari dimana ibunya pergi meninggalkan dirinya sendiri.


__ADS_2