Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
25. Hari Yang Berakhir


__ADS_3

Selesai sholat ashar Yusuf mengambil handphone untuk bermain game. Namun saat ia melihat layar, pemberitahuan panggilan tak terjawab terpampang jelas disitu. Dia segera menelpon Fitri setelah tahu panggilan itu atas namanya. Pikirannya kacau karena tidak biasanya pacarnya itu menelponnya.


Beberapa kali ia menelpon hasilnya nihil. Tak ada jawaban darinya. Rasa resah gelisah menghinggapi dirinya. Karena tak ada jawaban juga, akhirnya dia menyerah juga. Nanti malam ia akan mengubunginya. Setidaknya sambil menyiapkan alasan kenapa ia terlihat tidak peduli dengannya.


Pada akhirnya ia bermain dengan perasaan tidak tenang. Pikirannya tidak tertuju kepada yang ada didepannya, melainkan kepada seseorang yang berada jauh di sana. Seseorang yang menurutnya adalah tujuan hidup terakhir.


Yusuf jadi menyesal tadi ia tertidur, kalau tidak pasti akan tahu apa maksud dan tujuan ia menelpon. Sebenarnya ia juga sudah sangat rindu mendengar suara lembut kekasihnya. Tapi semua sudah berlalu. Tak ada cara untuk mengulang yang telah lalu.


"Aku bakal ada disaat kamu membutuhkanku kok. Aku janji," Yusuf mengingat kata-kata yang pernah ia lontarkan saat ia baru berpacaran. Sekarang rasanya kata-kata ini hanya kalimat tanpa makna. Terasa kosong karena tak ada pembuktian darinya. Yusuf merasa gagal menjadi pacar yang baik. Ia merasa tak berguna sekarang.


***


"Pulang yok dah mau tutup nih kebun binatang," ajak abangnya saat Fitri sedang asyik melihat kuda Nil.


"Ayok . Tapi tadi kayaknya pas mau kesini aku lihat ada yang jualan nasi bakar. Penasaran aku rasanya kayaknya mana. Soalnya kan belum pernah nyobain juga," Fitri setuju untuk pergi dari kebun binatang. Tapi sebelum sampai rumah ia meminta kepada abangnya untuk mencoba makanan yang belum pernah ia rasakan.


"Kamu ini. Tapi ayolah. Kali aja kan penjualnya cantik jadi nanti kamu bisa makan nasi bakar tiap hari," sambil tersenyum ia mengiyakan saja yang dibilang adiknya itu.


"Maksudnya kalau penjualnya cantik biar aku bisa makan nasi bakar tiap hari itu apa?" Fitri sebenarnya mengerti , tapi ia ingin diperjelas lagi .


"Hmmmm... Apa ya? Daripada ngurusin gituan mending kita langsung ke tempat nasi bakar yang kau bilang itu," dia berkata dengan santainya sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kebun binatang yang nampaknya mulai terlihat sepi.


Tak seberapa lama kemudian mereka sampai sampai juga di warung yang dimaksud. Yang menjual ternyata seorang wanita muda berambut pendek. Wajahnya sungguh sangat indah, bak bidadari kahyangan.


"Mbak, aku pesan nasi bakar satu ya yang isiannya enggak terlalu pedes terserah mau diisi apa," begitu sampai Fitri langsung memesan .


"Oh, ok. Kalau mas yang disebelahnya?" jawab penjualnya sambil bertanya.


"Aku isian apa aja mau. Mbaknya punya udah punya pacar?" Sungguh perkataan yang diluar dugaan. Fitri sampai kaget mendengarnya. Tak lama setelah perkataan itu keluar, tanpa memikirkan apapun Fitri langsung mencubit pinggang abangnya sekeras yang ia bisa .


"Belum. Baru putus, kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Enggak apa-apa," sebenarnya ia ingin merayu tapi melihat reaksinya adiknya akhirnya kalimat itu tertahan di tenggorokannya.


"Bentar ya aku buatin. Mending kalian tunggu ditempat duduk."


"Aku nemenin kamu disini boleh? Sekalian aku ingin melihat cara bungkus nasi," terdengar suara buaya sedang menebarkan rayuan maut. Entah mengapa, kalau ada yang cantik rasanya sayang banget ditinggalin.


"Modus. Udahlah bagus kita duduk aja. Digangguin terus malah nasi bakarnya gak jadi ," Fitri segera menyeret tangan Abangnya itu.


***


"Akhirnya selesai juga pekerjaan hari. Gimana hari pertama kerja . Menyenangkan bukan?", Riski yang sedang mematikan kompor berbicara kepada Ilyas .


"Lumayan . Walaupun agak kesusahan, semoga kedepannya enggak terulang lagi."


"Wajar sih masih kesusahan. Enggak ada orang yang langsung pintar saat pertama kali mencoba. Yang penting kamu tidak menyerah , hal yang memberatkan pasti bis kamu bisa lalui dengan baik. Keren enggak kata-kataku?" dengan sangat percaya diri , walau tidak diajak mengobrol pun dia berkata begitu.


"Iyain aja biar dia seneng," Sinis kali Riski berkata.


"Habis ini kita pulang. Cuma ya kalau kau mau disini aja ya silahkan. Enggak ada yang melarang," Riski yang sedang mencuci tangannya menjawab.


"Besok berangkatnya agak cepat ya. Soalnya kita besok ada pesanan diambil pagi," Kali ini yang berucap adalah Hasan.


Mereka bertiga kemudian meninggalkan rumah makan setelah menguncinya. Sebelum pulang, mereka sempatkan diri dulu untuk sholat Ashar mumpung masih ada waktu. Mereka sholat di masjid yang berada tak jauh dari tempat mereka bekerja.


Mentari terlihat berwarna kuning saat mereka menuju ke area parkir seusai sholat. Hari yang akan berlaku ini rasanya cukup melelahkan . Tapi Ilyas merasakan kesenangan didalam hatinya . Ia tak sabar untuk menanti hari-hari yang akan berlalu nantinya. Ia berharap kesenangan yang ia miliki hari ini akan berlanjut terus.


***


"Enak kali nasi bakarnya. Bakal langganan terus lah aku kalau kayak gini. Apalagi yang jualan bidadari yang turun langsung dari kahyangan," setelah satu suapan , Abangnya langsung berkomentar.


"Bilang aja mau PDKT sama dia."

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Enggak salah kan aku PDKT? Aku juga jomblo dia juga sama . Kalau punya pacar iyalah aku terima dibilang salah ," Protes abangnya saat mendengar jawab yang terdengar ketus .


"Enggak salah kok. Makasih ya hari ini bang. Kalau Abang mau sama dia bakal ku dukung kok. Orangnya juga kelihatannya baik."


"Gitu dong. Adik yang baik memang harus mendukung abangnya," terlihat senyuman manis abangnya.


"Ya udah. Aku mau istirahat dulu dikamar," mereka memakan nasi bakar di rumah karena Fitri menolak untuk makan ditempat. Sebenarnya ia malu melihatnya tingkah abangnya yang merayu penjual nasi bakar itu tapi ia hanya mengatakan bahwa ia ingin pulang di rumah secepatnya.


Begitu sampai, Fitri langsung menutup pintu kamar kemudian tidur. Ia sama sekali tidak menyentuh handphone yang ia tinggal saat pergi ke kebun binatang tadi. Lagipula ia memang sedang malas untuk melakukannya.


***


"Gimana tadi ? Lancar?" begitu pulang, Ilyas yang merasa lelah langsung ditanyai oleh Yusuf.


"Enggak lancar-lancar banget sih. Tapi mending lah disana aku dapet teman kerja enak. Bahkan mereka duluan yang ngajakin ngobrol. "


"Enaklah. Gimana bosnya? Cerewet enggak ?" Tanya Yusuf lagi.


"Dia nongol cuma mantau terus pergi entah kemana. Jadi ya enggak tahu juga aku."


"Oh gitu. Nanti kau mau ku masakin apa?" Yusuf memberi tawaran.


"Adanya apa?"


"Ada kubis , wortel, bayam, kangkung, kembang kol."


"Hmmmm, perkedel kayaknya mantap tuh. Aku minta perkedel aja sama sayur kacang panjang pakai ikan teri."


"Oke siap. Ada lagi?" Yusuf menyanggupi .


"Itu aja. Ya udah, aku mandi dulu ya," Ilyas kemudian melangkah ke kamar untuk mengambil handuk setelah itu ia segera mandi.

__ADS_1


Saat ia menggugurkan air ke badan , entah kenapa rasanya segar sekali . Ternyata mandi setelah seharian bekerja rasanya mantap sekali. Ia merasa hari itu hari terbaik yang ia lewati.


__ADS_2