
Riski pulang seperti biasa. Sore yang biasa dihari yang berjalan seperti biasa itu terasa biasa-biasa saja. Tak ada yang benar-benar spesial. Semuanya hanyalah sesuatu yang biasa ia lakukan setiap sore.
Sebelum pulang, ia mampir dulu kesebuah warung untuk membeli beras dan juga sekardus mie instan. Ia tahu, makan mie setiap hari itu tidak sehat tapi ia terus saja memakannya. Apalagi kalau lagi malas masak . Tinggal sendirian sih bebas, tidak ada yang mengatur. Hanya saja kadang melihat orang-orang yang masih memiliki orang tua lengkap kayaknya seru.
Riski tahu, kedua orangtuanya masih hidup . Hanya saja sejak kejadian itu ia jadi tidak bisa bersama lagi dengan keduanya dalam satu rumah. Bahkan kehidupannya berubah total sejak ayahnya masuk penjara beberapa waktu silam.
Ibunya pergi dari rumah, jadilah tinggal ia sendiri yang berada di rumah itu. Setelah beberapa waktu, ia sudah terbiasa tinggal sendirian. Cuma kadang saat mati lampu dan juga hujan deras bercampur petir ia selalu merasa takut. Ia ingin memeluk seseorang yang bisa mengurangi rasa takutnya itu.
__ADS_1
Andai saja ibunya tidak pergi, pasti keadaannya bisa lebih baik. Waktu dulu, ia merasa kesusahan dalam mengurus rumah sendirian ditambah lagi ia harus bekerja. Sekarang , ia sudah terbiasa mandiri. Ia lakukan semuanya sendiri, walaupun kadang sedang dipuncak rasa malas sekalipun.
Ia ingat sekali waktu pertama kali melakukan semuanya sendiri. Rasanya tiap hari hanya mengeluh saja. Kadang rasanya ingin menyudahi saja semuanya. Sekarang ia sudah tak mengeluh lagi. Ia sadar, apa yang dilakukannya itu sebenarnya untuk dirinya sendiri juga.
Setelah melewati hari yang melelahkan, Riski akhirnya sampai depan rumahnya. Akhirnya , waktu istirahat benar-benar tiba. Rasanya tidak sabar untuk rebahan sepuas-puasnya. Rencananya sih begitu, namun ketika sampai di teras rumahnya ia melihat sesosok wanita sedang tak sadarkan diri di depan rumahnya.
Orang yang berada tepat didepannya itu adalah seorang wanita setengah baya. Dari mukanya , menurut Riski itu mirip sekali dengan ibunya yang pergi tanpa kabar beberapa waktu silam. Bedanya yang ini lebih kurus. Terlihat ada luka lebam di beberapa bagian tubuhnya.
__ADS_1
Walaupun wajahnya sangat mirip ia belum mau memastikannya. Kalau memang itu adalah ibunya ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dia tidak tahu harus marah atau bahagia.
Sejak ibunya pergi, ia sudah tak peduli apakah ibunya akan kembali lagi atau tidak. Waktu Riski susah juga dia tak ada, kenapa sekarang dia muncul dengan tiba-tiba? Kenapa sih orang saat senang dengan gampangnya melupakan? Tapi kenapa saat dia sedang susah dia datang seolah paling menderita?
Karena rasa kemanusiaannya, Damar membawanya masuk ke dalam agar ia bisa mendapatkan perawatan pertama yang bisa membuatnya sedikit lebih baik. Setelah itu, ia ingin menanyakan apa saja yang ingin ia tanyakan selama ini. Kalau memang itu ibunya, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menerimanya walaupun susah.
Entah kenapa, kalau orang lain yang meninggalkannya disaat sedang terpuruk itu lebih gampang menerimanya saat dia kembali. Tapi kalau ini? Dia sendiri tidak paham soal ini. Jawaban satu-satunya mungkin karena ikatan emosi yang terbangun lebih kuat dari siapapun.
__ADS_1