
Dengan sedikit merasa berat, Yusuf pergi meninggalkan kampung halamannya. Ditemani kabut yang masih menyisakan rasa dingin Yusuf melajukan motornya setelah mengucapkan beberapa patah kata yang sebenarnya tidak terlalu penting kepada Ilyas.
Perjalanan yang baru dalam hidup rasanya baru akan dimulai setelah ini. Mumpung sekarang juga sudah tidak punya pasangan, Yusuf berharap ditempat yang baru akan menemukan seseorang yang bisa dan benar-benar bisa untuk dinikahi apapun alasannya. Ia bertekad untuk tidak berpacaran hingga bertahun-tahun lagi. Untuk apa juga menyia-nyiakan waktu dengan jodoh orang lain, rasanya seperti sia-sia saja .
Mungkin ada baiknya kali ini langsung datang kerumahnya , sebenarnya Yusuf kali ini inginnya begitu. Tapi kalau misalnya ketemu langsung diajak nikah rasanya kayak agak gimana gitu juga. Pasti si ceweknya bakal mikir hal yang aneh-aneh. Itu pasti, tidak mungkin tidak.
Hal paling buruk mungkin bakal di alami, mungkin bakal dianggap aneh bahkan mungkin bisa saja si dia menjauh. Yusuf jadi bingung sendiri. Ingin rasanya langsung sat set sat set seperti orang-orang, tapi kayaknya hal ini tidak mungkin terjadi padanya. Begitulah kira-kira yang ia pikirkan.
Apalagi untuk ukuran dirinya. Yusuf sadar diri dengan dirinya yang selalu ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu. Hal itu adalah keburukannya, hanya saja ia benar-benar tak bisa lepas dari sikap semacam itu. Bukannya sekali mencoba, sudah berkali-kali ia mencoba namun selalu gagal lagi . Mungkin semuanya sudah menjadi suratan diri, mau diubah bagaimanapun juga itu sudah menjadi naluri alaminya.
Saat sedang asyik memikirkan bagaimana mengenai strategi untuk mendapatkan seorang pasangan, entah darimana tiba-tiba di hadapannya muncul seorang pemuda yang sepertinya berusaha menabrakkan diri sendiri. Yusuf yang menyadari keberadaannya langsung mengerem secara mendadak. Hampir saja ia jatuh dari motornya.
"Kalau jalan lihat-lihat!" dengan sangat menahan emosinya Yusuf berkata sedikit berteriak.
"Maaf bang enggak sengaja," jawabnya.
"Kalau mau mati ya mati aja enggak usah numbalin orang. Kalau sempat kau ku tabrak terus mati kan aku juga yang kena. Kau sih enak aja, lah aku harus ngurus ini ngurus itu, belum lagi kalau keluargamu enggak terima . Malah masuk penjara aku nanti kan kau enggak bakal tanggung jawab!" entah apa yang membuatnya begitu, tanpa sadar Yusuf mengomel.
"Sekali lagi maaf ya bang," kata orang itu lagi.
"Mending kita berhenti dulu, mumpung warung makan Padang kelihatan. Kita mengobrol di sana. Enak aja cuma ngomong maaf doang," Tak biasanya Yusuf mengomel sampai segitunya.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju ketempat yang di maksud oleh Yusuf. Setelah memesan makanan ia langsung bertanya mengenai ini dan itu mumpung keadaan di sekitar sepi.
"Aku minta maaf ya bang soal tadi. Aku tadi terbawa pikiran pendek aja ingin bunuh diri pas ada motor lewat niatnya aku mau menabrakkan diri aja," saat ditanya pemuda itu menjawab demikian.
"Kalau mau langsung mati mending kau tabrakkan dirimu ke mobil atau bus. Motor gitu sih enggak ngefek sama sekali. Lagian lu ngapain sih mau bunuh diri segala?" Masih dengan mengomel Yusuf berkata.
"Aku bingung aja, orangtuaku sampai sekarang enggak mau ngakuin aku sebagai anaknya. Mereka bilang aku anak enggak sengaja jadi. Padahal kalau mereka enggak berbuat aku juga enggak bakal ada."
"Yang sabar aja. Emang orang kadang suka gitu. Enaknya aja mereka gaskan, pas udah jadi mereka enggak mau ngurusin," Yusuf sedikit melunak.
"Kalau orangtuamu enggak ngakuin ngapa mereka besarin kau?"
"Aku ikut kakek selama ini. Udah lama sih, habis lulus SD aku langsung misah karena sakit dibilang gitu terus. Kenapa ya dulu pas di racun gitu aku enggak mati?"
"Orangtuaku dulu pernah bilang kalau pas hamil mereka berusaha biar keguguran, tapi rupanya sampai sekarang masih hidup aja," katanya menjelaskan.
"Daripada kau bunuh diri mending kau pergi aja kemana gitu. Lupain orangtuamu, sebenarnya kelihatan kayak durhaka sih tapi kalau kenyataannya enggak dianggap ya untuk apa?" Yusuf memberi saran. Sebenarnya agak sesat kalau di dengar, tapi mungkin menurutnya itu adalah hal terbaik yang bisa di lakukan oleh pemuda itu.
"Tapi kalau mau mati ya silahkan, tapi jangan aku juga yang jadi kambing hitam . Enak di kau enggak enak di aku," lanjut Yusuf. Ia tak ingin memberikan solusi lain karena menurutnya percuma saja. Kalau mau mati silahkan saja.
"Tapi mending jangan mati dulu deh. Minimal sampai selesai melakukan ritual malam pertama biar tahu rasanya kenikmatan dunia," Lanjut Yusuf lagi. Sarannya sebenarnya benar, tapi entah mengapa terdengar agak gimana gitu.
__ADS_1
"Ya udah deh bang makasih ya sarannya. Lain kali aku enggak bakal nyusahin abang," nampaknya pemuda ini mulai mendapat hidayah.
"Aku ikut usul Abang aja yang pertama. Untuk apa juga berharap kalau tetap sama aja. Padahal aku juga enggak pernah membebani mereka, tapi kenapa ya ..." katanya lagi.
"Bagus itu. Cari kebahagiaanmu sendiri, kalau dibilang durhaka sama malaikat enggak usah di dengerin. Kalau ceritamu tadi jujur kau punya punya alasan yang kuat untuk menolak argumen mereka. Kalau boleh tahu kakek mu masih hidup?"
"Udah meninggal satu bulan yang lalu. Sekarang aku menempati rumahnya sendirian. Sebenarnya agak jauh juga dari sini, cuma karena rasa iri melihat orang lain masih bisa merasakan kehidupan keluarga yang lengkap jadinya aku kembali kesini untuk meminta pengakuan dari kemarin orangtuaku. Tapi ternyata..., sebenarnya aku sudah berusaha untuk ikhlas menghadapi kenyataan terburuk. Tapi ternyata aku tidak sekuat yang ku bayangkan," jawabnya. Nada suaranya terdengar sedih.
"Hidup tanpa mereka aku udah terbiasa, tapi setiap kali melihat orang-orang berkumpul bersama orangtuanya rasanya iri sekali aku melihatnya," pemuda itu melanjutkan curhatannya.
"Enggak usah ngarep lagi bro. Aku juga pernah kehilangan orang tua. Ibuku meninggalkan aku saat masih kecil . Dia sepertinya sudah termakan cinta pria lain. Yang penting kan bagaimana kedepannya. Kalau udah tiba saatnya kita enggak boleh mengulangi kesalahan yang sama seperti mereka," Yusuf menanggapi curhatannya.
"Maafkan aku ya soal tadi. Semuanya terjadi karena spontanitas semata. Aku bahkan sebenarnya tidak tahu mengapa aku ingin sekali di tabrak tadi," sekali lagi pemuda itu meminta maaf.
"Aku dah maklum kok. Yang penting jangan pernah diulangi lagi, tapi ya sebenarnya itu terserah mu juga. Apapun itu, konsekuensinya kamu yang bakal nanggung. Maaf ya aku dari tadi ngomongnya sambil makan. Kamu enggak pesan makanan juga? Es teh doang sih enggak bisa buat kenyang. Apa mau ku traktir?"
"Enggak perlu. "
"Oh ya, namamu siapa?" setelah berbicara panjang lebar Yusuf sadar ia belum tahu nama lawan bicaranya itu.
"Panggil aja Surya."
__ADS_1
"Aku Yusuf."