Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
09. Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Ilyas dengan langkah kaki yang seperti orang pincang segera masuk ke dalam rumah dimana Yusuf tinggal. Setelah masuk, Yusuf menunjukkan kamar yang bisa ia pakai untuk sementara. Kamar itu tampak rapi , kasurnya pun Lumayan lebar untuk ukuran satu orang.


"Mau mandi?"


"Hmmmm......" Ilyas ragu.


"Kalau baju ada kok yang mungkin muat untukku dilemari itu , santai aja. Anggap aja rumah sendiri," Yusuf menjawab apa yang ada dipikirannya Ilyas.


Ilyas heran, kenapa Yusuf punya baju seukurannya , mana selemari pula. Ini adalah sesuatu hal yang perlu diluruskan sebelum pikirannya jadi kemana-mana.


"Hmmmm... itu bajunya siapa yang dilemari? Takutnya malah salah paham nanti sama yang punya."


"Santai aja. Orangnya dah enggak ada kok. Enggak bakal ada yang marah. "


"Udah enggak ada?" , Ilyas sebenarnya tidak ingin bertanya, tapi mulutnya tak bisa dihentikan lagi.

__ADS_1


"Dia udah meninggal dua tahun lalu. Kalau masih ada mungkin sekarang dia bakalan sewot sih. Umurnya enggak jauh beda sama kau. Badannya juga," Yusuf memberi sedikit penjelasan.


"Dia itu adiknya Abang ya?"


"Ya, dia adikku satu-satunya. Walaupun udah dua tahun enggak ada, rasanya kayak baru kemarin aja. Kadang aku berharap ia akan hidup lagi dan menjalani kehidupan seperti biasanya. Walaupun aku tahu itu adalah hal yang mustahil. "


"Sorry ya bang . Aku enggak bermaksud membuat abang sedih."


"Santai aja. Lagian aku juga udah berusaha merelakannya. Enggak baik juga terus mengharap dia bisa hidup lagi. Kasihan dia ngelihat abangnya terus-menerus kayak gitu . Tadi kau bilang aku bakal ngapa-ngapain aku? atas dasar apa kau bilang gitu?"


"Santai aja, lu ngomong apa aja enggak bakal ku makan kok."


"Hmmmm... soalnya kan kadang ada om om atau seumuran Abang gitu yang doyan anak SMP. Temenku ada beberapa yang cerita gitu. Mereka katanya di anuin sama om om gitu. Awalnya kata mereka terpaksa, tapi ya akhirnya mereka yang pingin di anuin. Aku jadi takut sih," Ilyas berusaha jujur.


Yusuf diam, kadang sesekali saat nonton berita ia juga menemukan hal semacam itu. Seorang pria dewasa melakukan tindakan asusila ke banyak anak. Suatu hal yang buruk . Yusuf sendiri tidak menyukai tindakan semacam itu.

__ADS_1


"Santai aja. Aku bukan orang seperti itu kok. Aku enggak bakal ngelakuin hal yang macam-macam padamu."


"Aku percaya kok, Abang baik banget orangnya. Maafin aku ya bang udah punya pikiran kayak tadi."


"Santai aja. Mandi dulu sana, biar agak nampak lebih segar badanmu. Habis itu kita makan."


Ilyas segera bersiap mengambil handuk yang tergantung di dekatnya.


"Kamar mandinya di dekat dapur sebelah kanan. Cariin aja ," sebelum Ilyas bertanya , Yusuf sudah berkata duluan seolah ia tahu apa yang akan lawan bicaranya katakan.


" Oke bang," Segera Ilyas pergi ke luar menuju kamar mandi.


Sedangkan Yusuf masih di kamar itu, ia memikirkan bagaimana nasib anak-anak yang dipaksa untuk melakukan asusila. Bagaimana hancurnya hati mereka saat itu. Dunia memang kejam, bahkan bagi anak-anak seumurannya. Ia bersyukur tidak mengalami hal semacam itu meskipun orang tuanya berpisah. Walaupun kadang ada kenakalan lain yang ia lakukan saat ia berusaha menerima kenyataan bahwa orang tuanya akhirnya bercerai.


Ia berharap tak mengalami hal yang seperti teman-temannya alami. Semoga saja sang pelaku cepat sadar, minimal terciduk polisi . Kasihan mereka yang menjadi korban kebejatan yang pada akhirnya bisa menghancurkan masa depan mereka.

__ADS_1


__ADS_2