Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
45. Nomor Tidak Dikenal dan Sebuah Panggilan


__ADS_3

Pagi berjalan seperti biasanya, tak ada suatu hal terasa aneh atau masalah yang biasanya muncul tanpa diundang macam jalangkung . Sambil menutup pintu ia berharap hari ini akan berjalan dengan baik tanpa ada satu hal yang memberatkan. Akhir-akhir ia merasa ada banyak sekali hal yang tak terduga terjadi. Banyak kenangan yang telah berlalu pergi kembali muncul tanpa ia sadari. Ia sebenarnya tak paham kenapa hal itu bisa terjadi, tapi ya mungkin ada sesuatu dibalik semua ini.


"Jangan lupa lusa kita nonton konser


Sebelum menghidupkan kendaraannya, ia mengirim pesan ke Fitri. Mumpung ingat juga, kasihan dia akhir-akhir ini dicuekin. Sebenarnya Yusuf tidak ingin bersikap demikian. Namun pikirannya sudah penuh dengan ketakutan yang belum tentu akan terjadi dimasa depan.


Dadanya kadang terasa sakit, tapi ia tidak ingin menceritakan yang sebenarnya kepada orang lain termasuk Ilyas. Dia ingin terlihat baik-baik saja didepan semua orang. Sesekali pernah ia bercerita lewat medsos menggunakan akun palsu, tapi rasanya tidak ada respon yang menurutnya solusi paling baik .


Daripada memikirkan itu, entah kenapa ia punya firasat tidak enak hari ini . Mungkin akan terjadi sesuatu, tapi ia tak tahu apa yang akan terjadi, maklum dia bukan dukun. Entah apa yang terjadi ia harap semuanya itu hanya perasaannya saja.


Segera ia melajukan motornya lebih cepat. Ia ingin segera sampai ditempat kerja agar pikirannya bisa teralihkan. Memang, kepikiran terus itu pasti tapi paling tidak pikirannya tidak terfokus kesitu saja.


***


"Makasih ya udah mau nemenin aku. Katanya ada bom yang meledak ya? Tau sendiri kan aku lagi buang air kemarin. Cuma denger suaranya aja, tapi enggak bisa memastikan suara apa."

__ADS_1


"Kau beneran enggak tahu? Padahal suaranya keras banget lho," Yusuf merasa heran dengan temannya satu itu.


"Ya kan kau enggak bilang," jawabnya jujur.


"Ku kira kau dah tau jadi ya enggak ku kasih tau. Lagian aku juga lagi malas ngomong soal gituan."


"Makanya aku kaget pas denger ada bom ditempat kita belanja semalam. Kayaknya cuma aku deh satu-satunya orang yang enggak tahu beritanya pas kejadian."


"Lagian enggak penting juga. Semuanya udah berlalu. Kau pernah enggak kepikiran buat naik gunung? Aku pingin banget lho naik gunung tapi enggak ada temennya. Pingin lihat matahari terbit pas dipuncak. Kayaknya keren banget lho kalau lihat di video ataupun poto yang diunggah orang-orang."


"Gunung kembar yang gampang dinaiki? Terus gua dengan pohon lebat itu gimana? Lagian masa ada kenikmatan di dalam?" Yusuf tidak paham.


"Ada kok. Tapi ya kamu belum saatnya untuk merasakannya," Sambil senyum-senyum sendiri Arif berkata. Entah apa yang dimaksud olehnya, Yusuf tidak ingin berpikir macam-macam soal ini.


***

__ADS_1


"To....long... bang. To...long .... , aku habis kena tabrak mobil bang......" Sebuah telepon dari nomor tidak kenal saat diangkat oleh Yusuf rasanya ia kenal dengan suara ini. Tidak salah lagi, ini pasti suara Ilyas. Tapi kok dia tidak menghubungi lewat nomornya saja? Aneh.


"To...long... bang," terdengar sekali lagi suara rintihan yang terdengar sama persis dengan suara Ilyas. Setelah itu telepon langsung dimatikan.


Karena panik ia tanpa berpikir panjang langsung pergi meninggalkan kantornya tanpa berkata sepatah katapun. Ia bahkan tak menghiraukan ucapan beberapa temannya yang menanyakan kemana ia akan pergi. Dia tak tahu benar atau tidak, yang jelas ia harus memastikannya.


Sebenarnya aneh juga saat menerima panggilan dari nomor yang tak dikenal, tapi entah mengapa ia tak bisa berpikir rasional jika itu menyangkut Ilyas. Ia sudah bertekad untuk menjaganya sebaik mungkin agar kejadian yang menimpa Febri dua tahun lalu tidak terulang lagi . Segera ia melajukan motornya menuju ke tempat dimana Ilyas kerja.


Saat tiba disana, ia segera masuk ke dapur setelah bertanya kepada pegawai yang bertugas melayani tamu di depan. Ia benar-benar tidak bisa tenang sebelum melihatnya secara langsung. Ia benar-benar belum siap jika harus kehilangan seorang adik untuk yang kedua kalinya.


"Ada apa bang? Tumben? Mukanya kok kayak gitu?" Ilyas heran dengan kelakuannya. Di dalam kepalanya dalam sekejap memunculkan banyak pertanyaan yang minta dikeluarkan.


"Enggak. Tiba-tiba pingin lihat kamu aja. Semangat ya!" Yusuf berusaha menyembunyikan yang terjadi tadi. Yang penting Ilyas dalam keadaan baik-baik saja ia sudah lega. Setidaknya sekarang ia bisa lebih menguasai tubuhnya yang tadi terbawa suasana. Segera ia meninggalkan rumah makan itu. Lain kali ia akan berusaha untuk lebih berhati-hati lagi.


Memang dasar orang kurang kerjaan yang menelponnya itu. Rasanya seperti terkena prank . Dia tidak ingin berpikir pusing tentang ini. Lain kali ia tidak akan merespon panggilan dari nomor itu. Lebih baik memblokir daripada kejadian seperti ini terjadi lagi.

__ADS_1


Ilyas bingung dengan sikap yang ditunjukkan Yusuf tadi. Aneh rasanya jika jauh-jauh datang hanya untuk mengatakan hal itu. Tapi ya mungkin ada sesuatu yang membuatnya jadi seperti itu. Daripada mikirin yang macam-macam Ilyas lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Soal tadi akan menanyakannya langsung nanti malam.


__ADS_2