
Subuh yang telah menunjukkan tanda-tanda kemunculannya membangunkan Yusuf dari tidur pulasnya. Sebenarnya agak juga tidur di ruangan yang baru ditempatinya. Disampingnya, temannya itu masih tertidur pulas. Nampaknya dia sangat kecapaian. Pulang saja jam sudah menunjukkan pukul 01.00 saat dia pulang. Sebenarnya Yusuf kurang tahu pasti juga jam berapa, saat temannya itu pulang dirinya terbangun sebentar .
Masakan yang ia sengaja siapkan untuk temannya semalam mungkin sekarang sudah habis, Yusuf segera mengucek matanya kemudian bersiap untuk ke masjid. Sebenarnya ia jarang ke masjid saat subuh tapi hari ini entah kesambet apa dia tumben sekali berangkat ke masjid .
Jamaahnya sekitar setengah baris, memang kalau pagi sudah biasa kalau jamaahnya sedikit walaupun masjid terlihat sangat lebar. Seingatnya di kotanya dulu ia tak pernah menemui masjid sebesar ini. Halamannya juga kelihatannya dua kali lipat dari yang pernah ia temui.
Setelah selesai ia segera bersiap untuk mandi dan masak. Walaupun pekerjaan lainnya ia malas, tapi kalau soal masak gini dia sangat bersemangat sekali. Dia dulu waktu kecil pernah bercita-cita jadi koki, sampai sekarang ia juga masih memimpikannya. Walaupun tidak terkabul , tapi ia senang masih bisa memasak dengan baik.
Matahari terasa sangat terang sekali, Yusuf segera menaiki motornya dan pergi ke tempat dimana dia bekerja sekarang ini. Rasanya sangat aneh sekali pemandangan yang ia lihat. Saat masuk ia langsung menuju ruangan manager dulu untuk memberitahukan bahwa dirinya sekarang telah dipindahkan dari kantor lamanya.
Setelah urusannya selesai, ia di bimbing ke tempat dimana ia akan duduk. Yusuf tak menyangka akan duduk di samping meja kawannya yang dulu pernah menangis di malam yang telah lama lewat itu. Katanya terakhir ia akan menikah, tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi. Apa mungkin batal ya pernikahannya itu?
Yusuf diam saja saat duduk di sebelahnya. Walaupun kenal tapi kali ini rasanya canggung sekali untuk memulai obrolan. Yusuf sendiri tidak mengerti dengan dirinya. Biasanya dia yang mulai mengobrol tapi kali ini rasanya beneran berat sekali untuk memulai obrolan.
"Kau dipindahkan ke sini kok enggak ngomong?"tanya temannya itu santai . Dia seperti tak ada beban untuk mengatakan sesuatu.
"Mana saya tahu kalau kau pindah ke sini juga. Gimana soal nikahannya?"
"Batal, dia meninggal pas malam sebelum ijab kabul. Padahal persiapannya sudah matang sekali. Tapi ya kalau sudah takdirnya begitu mau gimana lagi?"
"Innalilahi wa innailaihi roji'un. Waktu tahu ditinggal pergi untuk selamanya ekspresi mu gimana?"
"Sedih itu pasti, tapi aku enggak mau terus-menerus sedih. Kasihan dianya juga di sana jadi enggak bahagia," jawabnya. Pasti rasanya sakit sekali waktu itu. Hari yang seharusnya menjadi saksi hidup yang bahagia malah menjadi hari dimana ia mengantar pergi calonnya itu. Walaupun tidak pernah merasakan tapi Yusuf tahu rasanya seperti apa.
"Semoga cepat mendapatkan gantinya ya . Aku juga baru kehilangan pacar. Dia ninggalin aku karena orangtuanya sudah menjodohkannya dengan orang lain yang pastinya lebih dari aku . Rasanya sakit banget sumpah, tapi mau mempertahankan juga aku enggak punya apa-apa untuk membahagiakan dia. Aku tahu pengecut, tapi mungkin ini yang terbaik."
"Kalau pemikiran mu begitu ku pikir kamu tidak akan mendapatkan pasangan . Gimana ya? Belum apa-apa udah menyerah," yang merespon terlihat berkata dengan nada agak merendahkan, Yusuf diam saja karena ia akan mengatakan hal yang sama seperti dirinya.
***
"Ki, orangtuamu sering pergi ya?" Tanya Ilyas .
__ADS_1
"Lumayan, kenapa rupanya?"
"Berarti kau dah sering tidur sendirian di rumah yang enggak ada siapapun?"
"Kenapa rupanya?"
"Nanya aja."
"Kau lagi tidur sendirian ya di rumah? Hati-hati nanti ada yang mengetuk pintu tengah malam tuh sambil manggil namamu tapi pas dibuka orangnya enggak ada. Aku pernah beberapa kali lho di gituin," Riski tidak tahu pasti maksudnya Ilyas. Tapi dengan sedikit gambaran yang jelas ia mungkin sedikit paham. Entah mengapa, spontan saja timbul rasa iseng untuk menakuti juniornya itu .
"Masa sih?"
"Coba aja. Mungkin kalau cuma semalam dua makam enggak, tapi nanti bakal ngalamin sendiri. Suaranya serem kali," melihat Ilyas yang nampaknya percaya membuat Riski makin bernafsu untuk menjahilinya.
"Jangan percaya sama dia, musyrik tau!" Hasan yang mendengar omongan Riski menanggapi dengan agak sewot. Ia tak terima Ilyas dijahili seperti itu.
"Kalau kau takut panggil aja aku. Dijamin bakal aman."
"Sepele kali anda. Dah lah terserah mu aja."
"Nanti malam mau enggak menginap di rumah? Mumpung cuma aku sendirian," Ilyas memberikan penawaran kepada mereka berdua.
"Aku sih Yes," jawab Hasan.
"Aku juga Yes," Riski ikutan.
***
"Maafin aku ya, tadi aku ngomongnya terlalu berlebihan," saat istirahat makan siang Yusuf yang sedang asyik makan di datangi temannya yang tadi sambil minta maaf. Sebenarnya Yusuf tidak mempermasalahkannya. Toh yang dibilang dia tadi itu benar. Mana ada cewek yang mau sama cowok pengecut. Ucapan doang sih tidak akan bisa membuat seseorang terkesan. Lagipula yang dibutuhkan bukan ucapan semata, melainkan tindakan yang nyata.
"Santai aja. Enggak perlu merasa bersalah kok . Lagian aku juga kadang berpikir begitu," ucap Yusuf kemudian menyendokkan nasi kedalam mulutnya.
__ADS_1
"Beneran nih?"
"Iya. Kau masa enggak paham juga sama aku. Dah lumayan lama padahal kita kenal," Jawab Yusuf santai sekali.
"Kau enggak makan?" Lanjut Yusuf.
"Nanti aja. Aku lagi puasa juga soalnya. Akhir pekan besok kita naik gunung yuk! Nanti kita lihat matahari terbit dan terbenam dari puncak gunung."
"Sejak kapan kau naik gunung? Lagian juga sekarang bukan bukan puasa."
"Enggak tahu kenapa akhir-akhir ini jadi gila banget manjat gunung. Ngomong-ngomong soal puasa, sebenarnya enggak masalah juga mau bulannya atau enggak yang penting kan niatnya. Ya udah, aku cuma mau ngomong gitu aja. Jangan lupa akhir pekan besok ya!" Setelah berkata demikian dia langsung pergi.
Yusuf menghela nafas panjang. Dalam hati ia ingin mengomel karena temannya itu berkata tanpa menunggu persetujuannya. Memang parah itu orang. Efek ditinggal oleh pacarnya nampaknya telah membuatnya otaknya agak-agak gimana gitu.
***
"Kau beneran kan ngajak kami tidur di rumahmu?" Tanya Hasan memastikan. Ia takut cuma prank saja. Soalnya di zaman yang canggih ini kadang ada saja orang yang begitu. Sedikit-sedikit bilangnya cuma prank .
"Seriusan lho. Aku enggak bohong," Ilyas berusaha meyakinkan.
"Kebetulan nih besok libur juga," Riski berkata.
"Beneran Ki?" tanya Ilyas kurang percaya .
"Iya seriusan. Tadi aku di telpon sama bos besar. Nanti kita pulang cepat. Tapi besok datang kesini agak sore buat nyiapin dagangan."
"Akhirnya setelah sekian lama kerja," Mukanya Hasan terlihat memancarkan kebahagiaan yang tak terhingga.
"Ya udah, nanti kita jumpa ya di rumahku habis Maghrib."
"Beres itu sih."
__ADS_1