Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
79. Malam dan Fitri


__ADS_3

"Kamu kemana suf? Aku ingin banget ketemu kamu. Andai aja ada kesempatan . Kenapa sih kisah kita berakhir begitu menyedihkan?" dalam hujan yang mulai turun perlahan Fitri berkata sendirian dalam kesepian. Ia ingat sekali malam dimana ia memutuskan hubungannya dengan Yusuf yang namanya masih terukir begitu dalam.


Sebenarnya ia merasa menyesal telah berkata begitu. Tapi ya memang cepat atau lambat Yusuf harus mengetahuinya. Sebenarnya ia marah kepada dirinya sendiri, tapi mungkin tak ada jalan yang bisa membuatnya bisa terus bersama. Dia juga nampaknya pasrah saja saat mendengarnya. Fitri tahu, sebenarnya Yusuf masih ingin bersamanya namun status sosial antara keduanya tidak setara .


Mau sebaik apapun dia , pasti tidak akan mendapatkan restu walaupun sudah tanam benih. Kadang Fitri berfikir untuk lahir di keluarga yang biasa saja. Ia benar-benar tidak ingin dijodohkan walaupun ia tahu betul dengan siapa dia akan dijodohkan. Seberapa susahnya ia berusaha, hatinya terus menolak kenyataan yang ada.


Ia ingin Yusuf, di dalam ingatannya masih sangat jelas betapa setianya Yusuf menemaninya saat ia berada di rumah sakit. Dia juga yang selalu menghibur tanpa pamrih. Ah, andai saja jodohnya adalah Yusuf pasti akan sangat senang sekali dirinya. Bagaimanapun nanti kehidupannya , jika bersama Yusuf pasti akan terasa sangat menyenangkan. Tapi kenapa ya banyak orang yang tidak mengerti hal itu? Memang uang adalah segalanya, tapi bukan berarti bahagia harus punya uang yang banyak.


Tanpa lamaran, sekarang ia harus mempersiapkan semuanya untuk pernikahan. Rasanya jadi seperti Siti Nurbaya, walaupun sebenarnya kondisinya jauh lebih baik daripada itu. Sekarang dia sudah pasrah, menikah dengan siapa juga dia tak peduli. Lagipula mengharapkan Yusuf datang sudah tak mungkin lagi. Fitri merasa tindakannya itu wajar, mengingat betapa kecewanya dirinya itu.


"Ngelamun terus, enggak baik lho buat anak gadis," suara Abangnya yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar yang pintunya tidak dikunci itu sangat mengagetkan Fitri . Lamunannya ambyar dalam sekejap.

__ADS_1


"Enggak kok. Siapa juga yang melamun?" Fitri berusaha berbohong.


"Udah jangan bohong. Mikirin dia lagi ya?" Nampaknya Abangnya itu sudah paham atau mungkin hanya menebak pikirannya saja, yang jelas apa yang diucapkan itu tidak salah.


"Enggak, aku cuma mikirin nanti gimana kedepannya. Aku mikir nanti kalau sudah menikah bakalan punya anak, kira-kira aku bisa enggak ya merawatnya dengan baik? Secara aku kan kurang suka sama anak-anak."


"Soal itu sih gampang. Lagian jauh banget pikiranmu sampai sana. Oh ya , ini nasi bakar untukmu," abangnya menyerahkan plastik yang di dalamnya berisi beberapa bungkus nasi bakar.


"Biar kau kenyang . Aku tahu kau enggak cinta sama calonku, tapi kalau misalnya jodohmu dia ya mau bagaimana lagi? Enggak usah pikirin yang belum pasti jadi milikmu. Kalau seandainya jodohmu ternyata Yusuf nanti juga bakal ada jalannya kok."


"Kayaknya hampir tiap hari Abang selalu ngomong gitu, sampai aku sendiri hafal."

__ADS_1


"Baguslah kalau kau hafal. Kira-kira aku dah dijodohkan belum ya sama orang lain?"


"Entah. Abang takut ya kalau ternyata sudah dijodohkan?"


"Enggak sih. Cuma kan harus siap-siap aja, kalau misalnya dijodohkan kan paling enggak aku udah punya persiapan buat kabur."


"Kabur kemana?"


"Rahasia dong. Yang pasti, mau kemana asal bersama doi aku mau."


"Enak ya kalau bisa kabur ."

__ADS_1


"Kau mau kabur sekarang juga silahkan. Aku enggak ngelarang kok."


__ADS_2