Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
Waktu Yang Singkat Untuk Cerita Yang Panjang


__ADS_3

Adzan subuh belum terdengar, Ilyas sambil menahan kantuk segera mandi untuk segera bersiap menyelesaikan pekerjaan yang kemarin tidak bisa ia selesaikan karena mati lampu secara tiba-tiba. Sambil terus menguap ia guyurkan gayung ke kepalanya.


Air masih terasa sangat dingin, Seingatnya ini adalah kali pertama ia mandi sebelum Subuh. Rasanya ia hampir membeku saat air mengalir melewati tubuhnya.  Badannya terasa  menggigil.


Ia segera memakai baju, mengeluarkan Honda dan segera pergi menuju masjid yang berada di dekat tempat kerjanya. Jalanan yang masih sepi rasanya memang paling mantap untuk menaikkan kecepatan laju kendaraannya.


Ia sampai di masjid itu tanpa memakan waktu yang lama. Mungkin karena ia ngebut sekali. Kapan lagi bisa ngebut kalau bukan sekarang? Mungkin begitulah yang ia pikirkan.


Tapi memang biasanya saat ia berangkat jalanan dipenuhi kendaraan. Ia sampai harus berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan. Kalau jalanan sepi seperti ini, rasanya ia jadi pemilik tunggal yang bisa dengan sesuka hati ngebut.


Sampai di tempat yang dituju ia langsung menaruh pakaian yang biasa ia gunakan untuk sholat . Biasanya memang ia tidak pernah tertinggal membawa baju ganti untuk sholat. Di bukanya pintu rumah makan yang tergembok itu. Kemarin sebelum pulang Riski menyuruhnya membawa kunci rumah makan.


Gelap sekali, hampir saja ia tidak bisa melihat apa-apa. Segera dinyalakan lampu senter ponselnya itu untuk mencari saklar. Dilihatnya ada pemberitahuan Yusuf menelponnya beberapa kali. Mungkin ia khawatir soalnya Ilyas lupa memberi tahu hal ini.


"Bang, aku udah di rumah makan. Maaf ya aku lupa ngomong soal ini. Pokoknya nanti kalau dah di rumah aku cerita deh. Sekali maaf ya bang," Ilyas mengirim pesan suara karena ia merasa harus secepatnya menyelesaikan tugasnya.


Ia segera mengeluarkan kelapa yang belum sempat ia parut dari dalam kulkas. Ia hidupkan mesin parut yang dikiranya rusak kemarin . Kelapa yang baru keluar dari kulkas rasanya dingin , kira-kira setengah jam ia akhirnya berhasil juga menyelesaikan parutan kelapanya. Walaupun jarinya ikut kena parut juga satu.


Setelah beberapa hari akhirnya dia merasakan juga ketakutan yang pernah ia rasakan sebelumnya. Perih, tapi lumayan juga buat pengalaman. Walaupun nampaknya itu hanya hal sepele .


Saat memeras santan berasa sekali perihnya. Tapi ia untung saja sudah berhenti darahnya.  Rasa perih itu masih tidak ada apa-apanya jika dibanding saat ia habis kecelakaan tunggal. Sebenarnya waktu itu pikirannya rada kosong juga, sambil melamun ia melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


Saat melihat Yusuf berada didepannya, secara otomatis dia berusaha untuk tidak mencelakai seseorang. Hal ini menjadi penyebab kecelakaan tunggal yang ia alami tempo hari . Badannya terluka dibeberapa bagian, motornya lumayan hancur juga kelihatannya. Untung saja ia bertemu dengan Yusuf yang bagai malaikat bagi Ilyas. Kalau orang lain , entah apa yang akan terjadi pada dirinya.

__ADS_1


***


"Gimana rasanya berangkat subuh-subuh?" Riski yang baru datang saat melihat Ilyas sedang memeras santan langsung bertanya. Ada sedikit senyum di pipinya.


"Ya gini, rasanya dingin banget pastinya. Rasanya pingin narik selimut lagi, tapi lumayanlah bisa ngebut . Biasanya kan berangkat jalanan penuh jadinya enggak bisa ngebut juga."


"Aku dulu juga waktu pertama berangkat jam segini juga gitu. Tapi kan sekarang udah biasa, jadi ya udah enggak kaget lagi . Kau juga besok paling berangkat jam segini terus kalau dah berapa bulan gitu. Kalau mau nginap sini juga enggak ada yang ngelarang. Cuma kalau aku pribadi lebih nyaman tidur di rumah."


Mendengar penjelasan dari Riski kok rasanya Ilyas jadi agak gimana gitu. Dia merasa tidak sanggup juga. Ini aja rasanya sudah agak berat.


"Santai aja . Gajinya nanti ditambah kok," Riski melanjutkan kalimatnya. Dia seperti menangkap rasa keberatan yang disimpan oleh rekan kerjanya itu.


***


Dia tak tahu apa yang terjadi ditempat kerjanya, tapi ya mungkin memang ada sesuatu yang harus dikerjakannya. Apapun itu, selama bukan sesuatu yang membuatnya bahaya ia tidak ingin ikut campur. Manusia dimana pun pasti butuh privasi juga, begitulah yang ia pikirkan.


"Ya udah kalau gitu. Yang penting kau kemana jelas. Semangat ya dek kerjanya," Yusuf membalasnya dengan pesan suara juga. Sebenarnya ingin menggunakan pesan teks, tapi ia sedang malas mengetik.


Setelah mengirim pesan ia segera masak untuk sarapan. Dan kemudian bergegas berangkat kerja, sebuah rutinitas yang wajib dilakukan sehari-hari. Sesuatu yang kadang membosankan tapi tetap terus dilakukan.


Kadang Yusuf berpikir untuk membuat usaha sendiri, tapi ia bingung harus membuka usaha apa. Ditambah lagi ia belum pernah punya pengalaman mengenai hal itu. Lagipula ia belum memiliki mental yang kuat untuk menerima segala resiko paling buruk yang akan terjadi nantinya. Kalau mungkin sudah cukup untuk membuat usaha kecil-kecilan.


Menurutnya hebat juga orang yang berani mengambil resiko untuk menjadi bos dengan usaha kecil-kecilan. Contohnya seperti Jamila, wanita yang pernah tidak disukainya kini nampaknya sudah menjadi wanita yang kuat. Ia yang dulu pernah dianggap rendah, entah mengapa sekarang Yusuf jadi iri dengannya.

__ADS_1


***


"Kau mau enggak belajar masak Yas? Mumpung aku mau ngajarin nih. Kesempatan langka lho aku mau ngajarin orang lain," sambil memasukkan santan yang tadi di peras oleh Ilyas , Riski memberi penawaran.


"Enggak apa-apa?" Ilyas agak ragu. Dia sebenarnya ingin tapi ia punya firasat yang buruk. Ia takut mengacaukan suasana.


"Enggak masalah kok. Tapi ya kita belajarnya nanti sore aja. Sekarang kau masak nasi dulu. Cuci berasnya sampai bersih ya. Biasanya si Hasan ,tapi ya entah enggak jelas tuh anak. Tumben jam segini belum datang," sambil menakar beras yang akan dimasak, Riski berkata kepada Ilyas.


"Siap bos," Ilyas menuruti perintah seniornya itu.


***


"Woy, besok boleh enggak aku nginep di rumahmu? Mumpung libur pingin banget lho ke sana. Kangen sama suasananya. Bosen disini,' Dari telepon terdengar suara seorang teman menelpon Yusuf yang sudah siap sedia menyalakan motornya.


"Ya udah. Kapan kau kesini?"


"Besok. Bentar doang paling cuma semalam dua malam."


"Ya udah . Kabarin ya kalau dah datang. Biar aku bisa siap-siap."


"Jelas itu sih. Maaf ya nelpon kau jam segini. Dah berangkat kerja kau?"


"Ini baru mau berangkat."

__ADS_1


"Ya udah. Cuma mau bilang itu aja kok," sambungan telepon terputus. Yusuf segera pergi ke tempatnya bekerja. Walaupun lagi agak malas tapi ya mau tidak mau dia jalani juga.


__ADS_2