
Jamila, dia baru saja terbangun usai bermimpi dinikahi Yusuf. Dalam mimpi yang indah, ia adalah seorang putri yang tengah berbahagia dengan pangeran yang dicintainya itu. Ketampanan, kelembutan hati, dan hal keren lainnya yang begitu memikat itu adalah impian yang sangat diidamkan sejak SMA.
Ia dahulu bukanlah siswi yang populer, bukan orang pandai bergaul juga. Rasanya memang sangat mustahil baginya hanya untuk mengobrol saja dengan pujaan hati. Ia hanya dapat mengagumi dalam diam. Baginya hal itu mungkin cukup membuat puas, tapi terkadang ingin rasanya melakukan hal yang lebih dari sekedar melihatnya saja.
"Andai aja kamu bisa jadi milikku. Aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia. Kapan ya ada kesempatan untuk mengobrol dengannya? Rasanya kok kau itu cuma mimpi bagiku?" Tanpa sadar kadang ia bergumam seperti itu sendirian.
"Aku enggak pingin lelaki yang lain. Cuma kamu yang ku mau," kalimat ini, hingga sekarang pun masih ia pegang. Ada beberapa lelaki yang mendekat padanya. Tapi ia selalu menolaknya dengan berbagai macam alasan.
Dia sebenarnya terkejut sekaligus senang saat melihat sosok Yusuf di warung pecelnya. Rasanya seperti mendapat durian runtuh. Walaupun sikapnya lumayan cuek .
Dia menyadari, dia juga masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat hasratnya sudah sampai puncak ditambah kondisi dan situasi yang mendukung pula, ia tanpa sadar menggoda Yusuf, bahkan menyuruhnya untuk membuka segel kesuciannya. Padahal kalau lelaki lain tanpa disuruh pun akan langsung melakukannya. Hal ini membuat rasa sukanya makin meluap.
Sejak saat itu, ia sedikit canggung untuk mengobrol dengannya. Walaupun ingin, tapi Yusuf bersikap begitu dingin padanya. Sebenarnya ia menyesal juga telah mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan. Tapi semuanya sudah jadi bubur. Waktu sudah tak bisa diulang lagi tetapi ia selalu berharap bisa memperbaiki hal yang telah terjadi, yang diharapkan olehnya hanya itu saja.
"Kalau kita pindah ke rumah nenek enggak masalah kan kau? Kasihan soalnya enggak ada yang jagain dia. Ibumu sudah setuju," waktu itu, tak lama setelah ia mengatakan hal yang tidak pantas pada orang yang dicintainya.
"Aku juga enggak masalah kok. Lagian ditempat nenek juga enak. Pemandangannya bagus banget," Jamila mengiyakan. Sebenarnya ia kurang setuju karena tidak bisa melihat sang pangeran. Tapi akhirnya diiyakan juga.
Neneknya tinggal di desa yang tak jauh dari kota. Pemandangan disana masih terjaga walaupun pembangunannya sedang gencar gencarnya dilakukan. Dia berharap bisa melupakan pria yang menjadi dingin padanya sejak hari itu. Tapi berapa kali pun mencoba , rasanya semua sia-sia. Ia bahkan belum bisa untuk menerima pria lain yang terlihat lebih mantap dari Yusuf. Baginya, dialah sosok terbaik yang diciptakan Tuhan.
***
"Maafin temanku tadi ya. Enggak biasanya dia kayak gitu," Ia mengingat obrolan dengan Arif setelah Yusuf pergi dari warungnya kemarin. Sebuah obrolan yang memberi harapan untuknya bisa dekat dengan Yusuf lagi setelah sekian lama.
"Santai aja. Dia namanya siapa kalau boleh tahu?" Sebenarnya yang bertanya sudah tahu, ia hanya ingin memastikan saja, takut salah orang soalnya kan ada orang lain yang mukanya terlihat sama.
"Namanya Yusuf. Dia temenku di kantor," jawabnya santai.
""Udah punya pacar?"
"Udah sih setahuku. Yang belum punya pacar aku. "
"Enggak nyari?"
"Pinginnya sama mbak aja. Boleh enggak ?"
__ADS_1
"Mungkin nanti. Kita kan baru kenal , kalau langsung bilang mau nanti dikira apaan lagi aku."
"Iya juga sih. Bakal kutunggu lah sampai mbaknya mau. Btw, Enggak punya suami kan?"
"Enggak lah. Belum ada yang cocok."
"Alhamdulillah kalau begitu lah mbak. Soalnya aku kayak nya suka sama mbaknya. Oh ya btw kriteria calonnya kayak mana? Kali aja aku bisa masuk kriterianya mbak," dengan sangat percaya diri lelaki didepannya berkata.
"Kriteria ya? Enggak ada sih. Yang penting aku cocok aja sama dia, terus dia juga bertanggung jawab."
"Aku bisa kok mbak jadi orang yang bertanggung jawab buat mbak. Pokoknya apapun kebutuhan mbak bakal aku penuhi."
"Jangan panggil mbak lah. Kayak agak gimana gitu."
"Namaku Jamila, bisa dipanggil Mila atau Lala. Terserah mau panggil pake yang mana aja boleh."
"Ya udah. Ku panggil Lala aja boleh?"
"Boleh kok," dilihat-lihat Arif lumayan juga mukanya, tapi ia tak begitu tertarik. Sebenarnya ia juga agak malas meresponnya yang dari tadi seperti menggodanya. Tapi lumayan juga menurutnya untuk mengorek informasi mengenai Yusuf. Harapan yang pernah terkubur itu akhirnya muncul harapan untuk memperbaikinya.
"Baru sekitar dua tahun setengah."
"Lumayan lama juga . Menurutmu dia orangnya gimana?"
"Dia orangnya baik cuma agak tertutup terutama mengenai hal-hal yang menurutnya memalukan. Tapi itu bukan masalah sih."
"Pernah enggak dia godain cewek di kantor?"
"Enggak sih. Dia bukan orang begitu setahuku. Lagian dia kayaknya serius banget sama pacarnya yang ini."
"Pacarnya orangnya gimana?"
"Setahuku sih dia cantik, periang. Cepet banget ngambek , tapi kadang terlihat dewasa. Ini kok jadi bahas si Yusuf itu. Kan yang ada disini aku," dia protes. Wajar sih dia cemburu kalau dilihat dari cara ia bicara sejak tadi.
"Soalnya dia kelihatan mirip sama temenku dulu jaman SMA. Tapi ya udahlah lupain aja. Enggak penting juga."
__ADS_1
"Beneran?"
"Tapi aku enggak pernah ketemu lagi sama dia soalnya aku pindah sekolah. Tau kan rasanya ketemu sama temen SMA ? Walaupun aku enggak yakin kalau itu dia."
"Oh. Tapi kok Yusuf bersikap aneh gitu?"
"Entah. Kalau soal itu aku juga enggak tau," Sebenarnya ia tahu mengapa, tapi ia malas mengatakannya. Selain itu, dia tak ada hubungannya sama sekali dengan masalah yang lalu.
"Oh ya, gimana rasa pecelnya?" Wanita itu berusaha mengalihkan topik.
"Jelas mantap, besok lagi aku mampir lagi."
"semoga langganan ya."
"Jelas kalau itu sih. Hmmm... boleh enggak minta nomornya mbak Lala?"
"Jangan panggil mbak. Panggil Lala aja. "
"Belum terbiasa. Lidahnya otomatis ngucap kayak gitu."
"Mau nomor hp ya? Boleh, tapi buat apa?"
"Hm...."
"Dah ini catet aja. Tapi janji lho bakal langganan ," wanita itu menyodorkan hpnya. Yang ada dipikirannya Adalah ia bisa dekat dengan orang itu agar ia bisa mengobrol dengan Yusuf.
"Makasih ya mbak. Nanti aku telpon," selesai mencatat nomornya , Arif berkata begitu.
"Sama-sama. Tapi lain kali jangan panggil mbak ya. Kalau manggil mbak lagi aku ngambek."
"Siap. Aku duluan ya, jam istirahat hampir selesai," Arif segera pamit setelah membayar pecelnya tadi.
"Ok. "
"Sampai jumpa lagi ya," Rasanya Arif seperti tak rela akan berpisah dengan mbak-mbak penjual pecel itu. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama . Tapi sudah waktunya ia harus pergi. Jadi ya rela enggak rela dia pergi dari warung pecel itu.
__ADS_1
***