Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
21. Hari Pertama Ilyas


__ADS_3

Subuh sudah tiba, hujan yang turun mendadak telah usai. Ilyas segera mengambil air wudhu . Ia segera menunaikan sholat subuh. Lukanya yang tempo hari akibat terjatuh sudah semakin membaik dari sebelumnya.


Segera ia mandi untuk menyegarkan diri di pagi hari. Perasaannya campur aduk. Senang, dan antusias walaupun ia sendiri agak takut juga. Ia ingin melewati hari ini dengan baik . Apalagi ini hari pertamanya ia bekerja.


Ia harap bisa menemukan kawan yang baik. Rasanya semenjak ia pergi dari rumah, belum pernah ngobrol panjang dengan orang lain selain Yusuf. Sekalian juga mencari pengalaman yang belum pernah ia dapatkan.


"Wah, yang baru mau masuk kerja dah rapi banget," Yusuf yang baru bangun berkata begitu . Hari ini ia sedikit kesiangan. Untung saja masih ada untuk menunaikan sholat subuh.


Padahal yang dipakai oleh Ilyas biasa saja, cuma celana pendek dan kaos. Ia sebenarnya ingin memakai celana panjang, tapi nampaknya lebih enak menggunakan celana pendek. Ia merasa yang dipakai tidak berlebihan.


Yusuf yang baru sholat subuh segera menuju ke dapur untuk memasak. Pagi ini ia ingin membuat sesuatu yang spesial untuk menyemangati orang yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri itu. Rasanya ia ikut senang melihat orang itu mendapatkan pekerjaan.


"Yas, sarapan dulu nih. Mumpung masih baru matang ," Yusuf mengingatkan Ilyas.


"Siap bang. Abang hari ini libur ya?" Ilyas yang mendekat ke meja makan bertanya begitu . Ia heran melihat Yusuf yang belum siap siap untuk berangkat bekerja.


"Meliburkan diri sih lebih tepatnya. Aku lagi males kerja. Jadi ya aku bilang ke kantor kalau aku lagi sakit. Untung saja diterima," Yusuf memberikan Alasan kenapa ia masih tak bergegas untuk bersiap bekerja.


”Oh gitu. Emangnya boleh ya?"


"Sebenarnya enggak sih. Inipun baru kedua kalinya aku cuti karena lagi males kerja. Jangan ditiru ya. Enggak baik," Yusuf sebenarnya bingung juga harus berkata apa.


"Aku kan anak teladan. Enggak mungkin aku kayak gitu."


"Anak teladan kok kabur dari rumah."


"Soal itu ...," Ilyas tak mampu berkata lebih jauh lagi.


"Bagus kau habiskan saja makananmu dulu. Kata orang tua dulu, enggak baik makan sambil ngomong bisa tersedak entar."


Setelah Yusuf berkata begitu , tak ada lagi obrolan diantara mereka. Suasana benar-benar sunyi namun itu tak lama. Setelah Ilyas menyelesaikan makannya, obrolan mereka terus berlanjut.

__ADS_1


"Kau berangkat kerja jam berapa?"


"Jam 6.30 WIB katanya harus sampai disana sih. Oh ya tinggal setengah jam lagi. Aku langsung berangkat ya bang. Doain ya semuanya berjalan lancar," segera setelah berkata begitu, Ilyas langsung meluncur. Yusuf hanya memandang sambil tersenyum melihat kelakuannya.


***


"Kamu pegawai baru ya?" tanya seorang pria yang masih terlihat asing dimatanya Ilyas.


"Iya. Baru masuk ," Biasa, kalau masuk dilingkungan baru memang masih gugup.


"Santai aja . Jangan kayak orang ketakutan gitu," kata pria tadi. Ia nampak lebih tua beberapa tahun dari Ilyas, namun ia sepertinya mudah bersahabat dengan siapa saja .


"Enggak kok. Emang mukaku kayak orang ketakutan ya?"


"Daripada mikirin gituan mending kau angkat nasi . Dah matang tuh, taruh didepan sekian. Aku mau goreng ayam ."


Dengan segera Ilyas menuruti ucapannya. Lagipula ia terlihat sedang sibuk melakukan pekerjaan lainnya. Ia menaruh nasi di depan dengan sedikit kesusahan. Karena nyatanya berat juga saat diangkat.


"Aku Ilyas."


"Nama yang bagus. semoga kita bisa jadi rekan kerja yang baik ya," komentar yang mengandung harapan itu terlontar dari mulut orang yang mengaku bernama Riski itu.


"Aku harap begitu ."


"Oh ya Yas, kalau disini kalau bisa kerjain apa yang ada. Kalau kesusahan bilang aku biar ku bantu apa yang ku bisa."


"Siap bang."


"Walaupun aku lebih tua, tapi panggil aku Riski aja. Biar lebih enak."


***

__ADS_1


Yusuf kembali ke kasurnya. Rasanya ia ingin tidur lagi. Untung ia sudah meminta izin kepada atasannya. Ia sangat malas hari ini efek masih belum bisa move on dengan mantan. Mungkin terlihat sangat berlebihan untuk seorang lelaki. Tapi kan ia juga punya perasaan galau juga. Mentang-mentang lelaki memangnya tak boleh galau?


Walaupun tanpa mengucap sepatah kata, tapi rasanya yang semalam itu menyakitkan sekali. Kalau dipikir, sebenarnya lebih baik tidak punya mantan saja. Tidak perlu merasa perih saat sang mantan asyik bermesraan dengan pasangannya yang baru.


Selain galau, rasa iri yang menyerang juga tidak dapat dipungkiri . Rasanya tuh melihatnya begitu seperti mereka itu aslinya tidak cocok, lebih cocok lagi kalau kita yang ada diposisi mereka.


Mumpung libur enaknya apa ya? Yusuf yang tidak bisa tidur itu akhirnya memikirkan hal itu. Mumpung masih libur juga . Dia akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas untuk melepaskan masalah yang muncul itu .


***


"Habis ini kamu manggang nila. Aku ajarin kok, santai aja ," Riski berkata sambil mematikan kompor. Kebetulan ayam yang digorengnya sudah siap untuk disajikan.


"Pertama taruh ini didepan dulu," sambil menyerahkan ayam yang baru matang ia berkata kepada Ilyas.


Sementara Ilyas ke depan, Rizki mengeluarkan ikan beku yang telah ia bersihkan kemarin dari kulkas. Disiram air olehnya agar bongkahan es yang menyelimuti ikan itu segera mencair.


"Pertama kita siapkan panggangan ikannya dulu. Nyusunnya harus gini ya . Biar matangnya merata," Riski berkata sambil mempraktekannya.


"Ngerti enggak?" tanyanya kemudian.


"Hmm.... sedikit," Sebenarnya Ilyas masih bingung juga dengan penjelasan dari teman kerjanya itu. Ia sebenarnya bingung karena kemarin orang yang menerimanya bekerja bilangnya hanya mengupas bumbu sama memarut kelapa tapi saat hari pertama bekerja malah disuruh yang lain-lain. Hanya saja ia tak berani memprotes, bagaimanapun ia harus siap menanggung segala resikonya karena itu adalah pilihannya.


"Mending kita praktek bareng. Ambil panggangan yang lain coba."


Ilyas segera mengambil alat pemanggang yang terlihat menggantung . Beberapa kali mencoba rasanya susah juga. Untung saja ada Riski yang sabar . Dan pada akhirnya, walaupun belum sempurna ia bisa juga. Yang ia bingung sebenarnya adalah cara menyusun ikan . Semuanya terlihat sama saja baginya mau posisi apapun. Tapi ternyata ada aturan tersendiri.


"Bagaimana anak barunya ?", tanya pria yang kemarin menerima Ilyas kerja kepada Riski. Tampilannya terlihat sangat rapi sekali dengan celana jeans dan juga kemeja .


"Namanya masih baru. Masih belum bisa bekerja tanpa diajari. Mungkin seminggu kemudian dia bakal mengerti mengenai ini dan itu," Riski berkata kepada pria itu. Kata-katanya terdengar sedikit kasar ditelinga Ilyas. Tapi kalau dipikir benar juga.


"Ku tinggal dulu ya. Aku ada urusan penting. Baik-baik ya kau sama dia. Jangan dimarah," pria itu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua di dapur .

__ADS_1


***


__ADS_2