
Tengah malam di gunung rasanya dingin . Yusuf merasa sebentar lagi ia akan membeku di sana saking tidak biasanya ia berada puncak gunung. Sambil terus menahan kedinginan, sayup-sayup ia seperti mendengar suara gamelan di tabuh. Terdengar juga samar-samar suara orang-orang seperti sedang berpesta.
Ia ingin sekali mengetahui kerumunan itu, namun ia batalkan niatnya untuk keluar dari tenda tempat ia sekarang. Ia ingat kata temannya yang sepertinya sedang terlelap. Katanya, jangan sekalipun mendekati suara-suara yang aneh , atau nanti malah terseret ke alam yang berbeda.
Katanya dulu ada temannya yang hilang di gunung setelah ia dengan sengaja mengikuti suara musik . Setelah beberapa hari, ia ditemukan seperti seseorang yang terlihat kebingungan. Sebenarnya Yusuf hanya menertawakannya saja saat temannya menceritakan kisah itu. Tapi sekarang mau tidak mau ia ingin percaya saja. Ia urungkan niatnya untuk menyembuhkan rasa penasarannya daripada menghilang selama berhari-hari.
Semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan suara yang terus menggodanya untuk di dekati. Untungnya saja setelah ia bisa menenangkan pikirannya, ia akhirnya bisa tidur juga.
***
__ADS_1
"Gimana rasanya semalam di gunung?" saat melihat fajar yang baru datang menyapa dengan malu-malu, temannya itu berkata.
"Rasanya gimana ya? kayak agak aneh aja gitu . Aku semalam kayak denger suara orang main musik gitu. Entah mengapa rasanya agak-agak ngeri aja ."
"Wajar sih, nanti juga terbiasa kok. Aku juga dulu kayak gitu, tapi karena biasa ya enggak peduli lagi sekarang."
"Hmmm, gimana ya? aku sendiri aja enggak tahu definisi cinta. Kalau menurutmu?" sambil memegang gelas berisi kopi susu hangat temannya itu balik bertanya.
"Aku juga enggak tahu. Lagipula aku sudah beberapa kali gagal dalam urusan percintaan. Entah itu karena ditikung teman atau hal lainnya. Aku bahkan enggak tahu bakal bisa nikah atau enggak. Rasanya aku ingin menyerah saja, tapi aku ingin sekali punya keluarga sendiri," kata Yusuf.
__ADS_1
"Aku paham, aku juga kadang mikirnya gitu. Tapi ya mau gimana lagi? kita adalah para lelaki yang hatinya patah karena cinta. Bedanya kamu ditinggal dalam keadaan dia masih hidup," dia kemudian kembali meminum segelas kopi susu yang ada ditangannya.
"Aku pernah mendengar ada pasangan yang mati bersama disebuah hotel karena cinta mereka katanya tidak direstui keluarga masing-masing. Kejadiannya belum lama, dan lagi salah satunya adalah tetanggaku sendiri," dilanjutkan lagi kata-katanya.
"Aku jadi ingin mati juga karena calonku bunuh diri . Tapi itu bertentangan dengan tujuannya yang ingin melihatku punya anak dan hidup bahagia. Walaupun sudah berusaha menerima dirinya yang sudah tak memiliki rahim lagi , tapi nyatanya dia sama sekali tidak bisa untuk menerimanya."
"Hmmm, aku rasa kita lebih baik kita membahas hal yang lain. Ngomongin ginian kok rasanya malah buat kau jadi sedih."
"Santai saja, aku udah berusaha udah enggak sedih. Aku sudah rela dengan jalan yang dia pilih. Mau bagaimana juga itu sudah keputusannya. Cuma memang mencari penggantinya itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak memang yang cantik dan menarik, tapi namanya perasaan enggak bisa dibohongi,' dia berkata sambil melihat matahari terbit yang begitu indah.
__ADS_1