Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
61. Drama Es Krim


__ADS_3

Siang yang terik, sambil mengucek matanya yang perih Yusuf terus memikirkan mengenai kencan yang akan dilalui nanti malam, walaupun sudah berkali-kali melakukannya tapi entah kenapa ia merasa agak khawatir karena kencan sebelumnya tidak berjalan sesuai harapan. Cincin yang harusnya melingkar di kelingkingnya Fitri belum juga ia bisa wujudkan. Ia berharap secepatnya bisa melakukannya walau ia sendiri tidak yakin bisa untuk melakukannya.


Selalu saja ia teringat Kamila, sang mantan yang dulu mengatakan bahwa ia lebih memilih orang lain saat ia bersiap untuk melamarnya. Rasanya sakit sekali, bahkan saat itu ia berpikir untuk mati saja, tapi enggan ia lakukan karena dari dalam lubuk hatinya ia masih ingin mencari kebahagiaan di dunia yang penuh tipuan.


Selain itu, ia juga masih terngiang mimpi Fitri meminta dirinya untuk membawa kabur karena tidak mau dijodohkan. Walaupun hanya mimpi yang katanya hanya bunga tidur, tapi entah kenapa rasanya seperti sungguhan. Ia takut sekali, apalagi kadang mimpi buruknya jadi kenyataan. Harus bagaimana jika itu terjadi juga? Entah harus bagaimana ia akan bertindak, bisa jadi ia bakal melakukan sesuatu yang buruk kepada dirinya sendiri.


Yusuf sadar dia pengecut, tapi ia ingin melaju ke depan juga seperti orang lain. Ia tidak ingin menjadi pecundang selamanya. Apapun resikonya ia bakal menerimanya dengan hati yang besar.


Sebenarnya waktu istirahat telah habis tapi entah kenapa Yusuf jadi ngidam es krim . Daripada memikirkan sesuatu yang belum pasti kan lebih baik mencicipi sesuatu yang bisa menyegarkan. Es krim jadi pilihan karena lagi pingin juga.


Segera ia menuju ke minimarket sebelah. Dia langsung menuju ke tempat dimana es krim berada. Tapi sayangnya saat hendak membayar di kasir, ada mantan beserta keluarganya sedang belanja. Dalam sekejap, ia merasa menyesal telah masuk minimarket itu.


"Hai Suf, dah nikah belum?" si suami alias temannya yang dulu berkhianat berkata dengan santainya seolah tidak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya. Dan lagi pertanyaan yang dilontarkan olehnya itu agak gimana juga. Ya kali ada orang baru bertemu langsung bertanya kapan nikah. Lagian Yusuf tidak terpaksa juga tidak mau lagi berurusan dengan orang yang berada didepannya itu. Ia benci dia karena telah merenggut kebahagiaan orang seenaknya saja.


"Bentar lagi doain ya," Jawab Yusuf . Sebenarnya dia tidak yakin bakal menikah dalam waktu dekat , tapi namanya perkataan katanya doa jadi ia berharap segera terkabul.


"Kok enggak dibawa calonnya?"

__ADS_1


"Mau dibawa gimana ? Aku masih kerja kok. Ya kan enggak mungkin pacaran pas kerja."


"Iya juga sih. Kerja dimana kau nampaknya rapi kali ku lihat bajumu?"


"Di kantor sebelah minimarket ini."


"Oh, pasti posisinya bagus ."


"Enggak juga, ngomong-ngomong tumben belanja disini kau?"


"Oh gitu. Ya udah aku duluan ya," Setelah membayar Yusuf langsung pergi. Es krim yang sudah dibelinya rasanya malas untuk dicicipi walaupun ia membeli es krim kesukaannya .


Rasanya mantan macam hantu saja, dimana-mana ada. Datang tak diundang pergi juga tidak diantar persis jalangkung. Kok rasanya ingin pindah kerja diluar kota biar tidak ketemu mantan. Tapi posisinya ditempatnya kerja sudah lumayan enak , kalau pindah harus mulai lagi dari nol. Rasanya sayang saja, sudah berjuang keras malah ditinggalkan begitu saja.


Daripada dibiarkan saja akhirnya dengan terpaksa juga dia bungkus es krim kemudian dia gigit dengan gigitan yang besar. Sebenarnya lumayan ngilu juga giginya, tapi ia tak peduli. Hitung-hitung sekalian melampiaskan rasa benci kepada pengkhianat. Teman kok senangnya makan teman.


***

__ADS_1


Rif, kau pernah enggak ketemu mantan sama suami juga anaknya?" saat es krim nya sudah habis Yusuf langsung masuk kantor dan menanyakan sesuatu kepada Arif.


"Enggak. Kau lupa ya kalau aku enggak punya mantan?"


"Masa sih?"


"Kalau gebetan dulu sih ada. Cuma dia udah nikah , punya anak juga sekarang. Aku sih biasa aja ngelihatnya. Bahkan senang melihat dia bahagia. Kenapa rupanya?"


"Nanya aja sih. Kali aja kan pernah, aku butuh referensi buat nulis novel soalnya."


"Kok aku enggak yakin ya? Soalnya mukamu enggak meyakinkan. Ngomong aja tadi kau ngelihat mantan bahagia sama orang lain terus kau masih enggak rela. Pantes yang sekarang enggak dinikahin. Ini rupanya alasannya," Sebenarnya Arif berucap dengan santainya, tapi entah kenapa kalimat terakhirnya terasa menyesakkan dada Yusuf.


"Enggak ada hubungannya sama yang sekarang. Lagian ngapain juga masih ngarep sama yang lalu?"


"Aku enggak bilang gitu lho. Kau sendiri yang ngomong."


"Ya udahlah, aku mau lanjutin kerjaanku dulu," Yusuf tidak tahu harus berkata apa lagi. Rupanya dia mati kutu. Dengan bertingkah seperti anak-anak dia langsung meninggalkan Arif .

__ADS_1


__ADS_2