
Perempuan yang berada di dekatnya Riski itu kaget saat tersadar. Sepertinya ada sesuatu yang tidak dipercayainya. Ia benar-benar tak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya itu.
"Riski?" dengan sedikit heran dia berkata begitu.
"Ada apa?" ekspresinya Riski datar-datar saja .
"Ini beneran Riski?" tanyanya lagi.
"Iya. Kenapa?"
"Masih kenal aku enggak? Ini ibumu nak!" kata wanita itu lagi.
Riski tidak tahu harus bagaimana bersikap. Tebakannya benar, hanya saja ia bingung harus berkata apa. Walaupun tidak ingin marah sekalipun, tetap saja ia tidak bisa mengatakan rasa bahagianya itu. Akhirnya setelah sekian lama, ibunya datang juga . Bagaimanapun juga ia masih menyimpan rasa kecewa yang mendalam sejak saat ibunya menghilang.
"Iya. Aku tahu ini ibu."
__ADS_1
"Kamu marah ya karena ibumu ini telah meninggalkanmu?"
"Enggak kok. Oh Ya aku udah buat makanan. Sebaiknya ibu makan dulu. Sebentar, aku mau ambil dulu bentar," Riski keluar kamar dan langsung menuju dapur. Di sana, sambil mengambil mengambil makanan ia meneteskan air matanya. Ia kecewa kepada dirinya sendiri yang tidak bisa merasakan gembira saat tahu ibunya yang selama ia harapkan akhirnya pulang juga.
Riski tidak tahu mengapa ia masih menyimpan rasa kecewa yang begitu besar. Ia ingin menerimanya, tapi di satu sisi ia belum bisa menerimanya. Ia benar-benar tak tahu bagaimana ia harus bersikap di depan ibunya itu.
"Ini dimakan dulu, spesial hari ini aku masak," sambil tersenyum ia berkata begitu. Saat berjalan menuju ke kamar tadi ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menunjukkan kekecewaannya itu.
"Rasanya dijamin enak. Pokoknya di makan dulu daripada perut kosong, atau mau di suapi?"
"Yang udah berlaku biarlah. Lagian aku juga enggak terlalu mempermasalahkannya. Yang penting sekarang ibu udah kembali. Besok bagaimana kalau kita melihat ayah? dia pasti kangen banget sama ibu. Udah lama banget kita enggak kumpul ."
"Ayahmu apa mau menerima ibu setelah lama sekali tidak muncul? Lagian waktu itu ibu juga sudah mengirimkan surat cerai kepada ayahmu."
"Dia pasti mau. Kalau kalian bercerai kan setelah ayah keluar dari penjara kan bisa rujuk kembali," entah mengapa Riski berkata dengan semangat meluap-luap. Ia berusaha mengesampingkan rasa kecewanya. Lagipula mimpinya setelah hari itu adalah melihat keluarganya bisa seperti dahulu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau besok pagi?" tanya Riski.
"Terserah kamu saja. Ibu ikut saja," kata ibunya pasrah. Dia tidak punya kata-kata untuk menyanggah putra semata wayangnya itu . Lagipula ia juga sebenarnya rindu juga. Dia ingin meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia buat dulu. Bagaimanapun juga, semuanya adalah kesalahannya.
"Oh ya bentar dulu. Aku ada sesuatu buat ibu," ia segera keluar kamar dan kemudian kembali dengan beberapa pakaian wanita.
"Ini untuk ibu. Untuk gantilah, baju yang ibu pake sekarang udah usang. Udah enggak pantas dipake," ia berkata sambil menyerahkan pakaian yang ada ditangannya itu.
"Makasih ya. Ibu enggak tahu harus ngomong gimana," sambil menerima terlihat ia sangat terharu.
"Udah, cobain dulu. Kalau kurang suka ngomong aja . Biar nanti bisa ditukar," kata Riski .
"Ibu suka kok. Makasih ya udah repot-repot."
"Enggak kok. Aku enggak repot, justru aku senang bisa melihat ibu lagi. Bisa bareng-bareng Kayak dulu lagi."
__ADS_1