
Siang, hujan yang reda dari tadi masih menyisakan aroma basah di jalanan yang terlihat lumayan ramai. Genangan air terlihat masih nampak di jalanan yang tidak pernah beristirahat. Terlihat beberapa kendaraan melewatinya tanpa peduli cipratan air itu.
Yusuf berjalan diantara keramaian itu, kali ini ia berniat untuk mampir di warungnya Jamila. Sudah lama sekali rasanya ia tak pernah ke sana. Terakhir kali , ia datang ke warung itu bersama Yusuf. Itu juga rada terpaksa juga.
"Tumben mampir kesini, " Jamila takjub bercampur kaget. Untuk pertama kalinya Yusuf datang sendirian.
"Mumpung Arif enggak ada. Emang enggak boleh?"
"Boleh kok . Mau pesan apa?"
"Pecel aja."
"Enggak minum kopi?"
"Enggak. Hari ini Arif kemana?"
"Sakit dia. Paling cuma demam, besok juga udah sembuh," Yusuf menjawabnya santai sekali.
__ADS_1
"Enggak panik gitu temanmu sakit?"
"Enggak."
***
"Apapun pilihannya pasti ada resikonya sendiri. Yang paling penting kita tidak menyesal apa yang akan terjadi kedepannya," Yusuf mengingat obrolan semalam. Ia tahu maksudnya , tapi tetap saja rasa menyesal akan ada .
Temannya itu sungguh menakjubkan. Dia bisa melupakan kesedihannya yang amat dalam saat terpukul karena tahu wanita yang dicintainya rahimnya telah diangkat. Dia masih mengingat malam ketika ia mengetuk pintu rumahnya sambil menangis. Dan sekarang , ia bahkan sudah tak ambil pusing masalah itu.
Dalam waktu dekat, katanya ia akan melangsungkan lamaran tanda ia serius dengannya. Punya anak atau tidak ia sudah menyerahkan semua pada Tuhan. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan pasangannya. Ia nampak seperti lelaki sejati . Yusuf jadi iri padanya.
***
"Eh, iya," Yusuf dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali menjawab.
"Kau beneran belum nikah?" setelah menyendok Yusuf begitu.
__ADS_1
'Kenapa memangnya?"
"Enggak ada. Kau masih ingat aku kan?"
Saat mendengar Yusuf berkata begitu , Jamila kaget sekali. Kali ini ia merasa Yusuf seperti sedang kerasukan sesuatu. Jamila masih mengenalinya walaupun penampilannya sekarang sedikit berubah. Mungkin karena faktor usia juga. Tapi tetap masih keren juga.
"Kalau masih emangnya kenapa?" Jamila tak bisa menyusun kata-kata yang lebih baik lagi, hanya itu saja yang terucap dari mulutnya.
"Aku minta maaf kejadian tempo hari ya. Waktu itu aku kasar sekali," Yusuf pusing juga harus ngomong apa lagi. Ia akhirnya lebih memilih langsung ke inti pembicaraan.
"Enggak masalah kok. Santai aja. Aku tau alasannya kok. Kau pasti marah kan sama yang waktu itu?" Jamila mengingat saat ke hari dimana ia tanpa sadar menggoda Yusuf seperti wanita binal. Sampai sekarang, kalimat yang pernah ia ucapkan itu selalu terngiang.
"Santai aja. Aku udah berusaha melupakan. Lagian itu dan enggak perlu dipermasalahkan lagi. Rasanya udah basi juga diperbincangkan sekarang. Bagaimanapun buruknya masa lalu, yang paling penting hal semacam itu tidak terjadi lagi," Yusuf berkata seperti orang bijak yang sedang memberikan petuah .
"Lagipula sejak kejadian itu aku baru sadar apa yang ku perbuat . Aku mempermainkan hati wanita seolah mereka adalah mainan. Aku jadi ragu soal cinta waktu itu. Aku tidak terima saat kau berkata seolah aku makhluk rendahan, tapi aku senang karena sejak saat itu aku hanya ingin satu yang benar-benar saling mencintai. Tapi rupanya tidak mudah," Ucapannya panjang sekali, seolah seperti mengalir.
"Setelah lama tidak berurusan dengan cinta, aku akhirnya menemukan seorang gadis yang kusukai walau kami belum pernah mengobrol sebelumnya. Dengan modal nekat, aku mengajak bicara namun dia menolak mentah-mentah. Gadis yang sungguh menarik. Untuk pertama kalinya aku berjuang merebut hati gadis yang suka. Biasanya kan tinggal pilih pasti mau. Tapi ya sayangnya harus kandas ditengah jalan. Tapi ya bukan jodohnya mau gimana lagi," Ucapannya terdengar makin panjang.
__ADS_1
"Intinya sekarang aku dah mempermasalahkan hal yang udah terjadi lama sekali. Aku yang sekarang, cuma pingin hidup untuk masa depan yang lebih baik. Walaupun enggak gampang aku pingin ngelupain hal yang tidak mengenakkan dimasa lalu," Walaupun sudah berbicara panjang sekali, ia masih berkata lagi.
"Ya udah kalau begitu. Makasih ya udah mau maafin kesalahanku dulu. Kau jaga warung bentar ya! Aku mau ke toko sebelah bentar. Ada yang harus ku beli," Tanpa menunggu jawaban Yusuf, Jamila langsung pergi meninggalkannya sendirian.