Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
20. Tentang Mantan


__ADS_3

Pulang , usai makan diluar Yusuf segera pulang. Sebenarnya rencananya Yusuf yang ini kurang berjalan mulus, pasalnya ia tanpa sengaja melihat mantannya bersama anaknya yang kira-kira berusia tiga tahun. Kali ini bersama suaminya juga. Ini kali keduanya ia melihat mantannya setelah Yusuf mulai mengenal Fitri. Entah kenapa rasanya walaupun sudah lama terjadi , masih ada rasa sesak di dada saat ia melihat wanita yang pernah bersamanya bertahun-tahun itu bersama dengan pria lain. Walaupun sekarang juga ia tak mungkin menggapai sesuatu yang telah terlepas darinya itu .


Padahal seharusnya rasa cinta yang pernah ada itu sudah lama mati. Tapi kenapa selalu saja muncul rasa cemburu saat melihatnya kembali? Sesuatu hal yang tak pernah ia mengerti bagaimanapun ia berpikir. Rasanya seperti ia yang pantas berada disana tapi kenapa harus dia?


Padahal ia juga sudah punya orang lain dan ia juga mencintai orang itu. Akh, pikirannya Yusuf jadi tak beraturan lagi saat mengenai hal yang kata sebagian orang adalah sesuatu yang tak logis itu. Ia hanya ingin mendapat jawaban atas pertanyaan yang mengganggunya itu.


***


"Hai, namaku Yusuf. Boleh enggak aku kenalan sama kau?" Ini pertama kalinya Yusuf bertanya dengan nada suaranya yang seperti menggoda wanita dengan pesonanya.


"Alasan aku harus memberitahu namaku apa?" Namanya cewek, pasti ada saatnya mereka jual mahal.


"Hmm.... Enggak boleh ya aku tahu namamu? Ya udah deh. Gimanapun caranya aku pasti akan tahu namamu," Yusuf agak kecewa waktu itu. Mungkin karena sudah lama tidak ada wanita yang memperebutkannya, jadi pesona badboy nya jadi luntur hingga ia harus ditolak seorang wanita. Sebuah pengalaman yang langka. Biasanya dia yang menolak wanita-wanita yang mendekatinya. Entah kenapa rasanya ia melihat ada sesuatu yang menarik darinya .


Pernah ia keceplosan saat mengatakan hal ini didepan salah satu temannya saat SMA dulu. Yang ia dapatkan hanyalah menjadi bahan candaan semata . Rasanya ia seperti kehilangan harga diri. Ingin rasanya mengamuk temannya itu. Tapi ia masih sempat untuk berpikir lebih jauh saat itu. Jadi ya segalanya masih bisa terkendali dengan aman.


Setelah ditolak, Yusuf saat itu yang sudah terlanjur penasaran mencari tahu mengenai diri wanita itu. Dan akhirnya setelah beberapa hari terungkap juga. Namanya Kamila, anak semester 4. Walaupun sudah tahu, bukan berarti ia akan diterima olehnya. Tapi Yusuf tak peduli. Sesuatu telah merobohkan tembok keegoisannya. Ia sudah tak peduli seberapa banyak ia akan ditolak. Yang jelas ia akan terus berusaha sampai berhasil.

__ADS_1


"Jangan menyerah bro. Katanya batu kalau ditetesi air terus-menerus ia bakal hancur juga. Aku mendukungmu kok. Kita kan teman," begitulah kata-kata teman yang terlihat manis didepannya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya terbongkar semua kedoknya. Yusuf bahkan bersumpah tidak akan memaafkan pengkhianatan yang telah melukai batinnya begitu parah. Sedangkan dengan Kamila, hingga bertahun-tahun walaupun rasa kecewanya teramat besar, tapi ia tak bisa membencinya.


***


"Bang, tumben banget belum tidur?" Ilyas menghampiri Yusuf yang tampak sedang melamun sambil menatap bulan yang begitu indah malam itu. Walaupun bukan bulan purnama, tapi kecantikannya selalu paripurna.


Tak tak jawabannya apapun. Ilyas langsung pergi ke kamar. Ia tak ingin Yusuf terganggu akibat kehadirannya. Mungkin saja ia lagi butuh waktu untuk sendiri, begitulah pikirnya.


Rasanya ingin tahu mengenai perihal tingkah Yusuf yang menurutnya agak aneh. Mungkin karena ini pertama kalinya ia melihat sosok abangnya itu seperti b


sedang bermuram durja.


Tadi saat mereka berdua sedang makan malam di luar awalnya memang seperti biasa saja. Namun begitu melihat satu keluarga kecil, dia nampak aneh. Seperti orang yang menghindar. Apakah mereka yang membuat Yusuf termenung saja? Tapi memangnya mereka siapa? Semakin dipikir semakin ia tak mengerti jika tak menanyakan langsung. Tapi ia takut atau lebih tepatnya segan untuk bertanya.


Ilyas tak tahu hubungan mereka dimasa lalu, tapi sepertinya mereka pernah dekat dulu . Tapi mungkin ada sesuatu yang membuat mereka terpisah. Sesuatu itu yang Ilyas tak tahu.


Sudah satu jam berlalu sejak ia masuk ke kamar. Ia jadi penasaran, Yusuf masih disana atau tidak. Karena rasa penasaran yang memuncak itu, ia keluar dari kamarnya. Sudah tak didapatinya Yusuf ditempat dia melamun. Ilyas segera masuk lagi ke kamarnya. Hujan lebat yang tiba-tiba datang perlahan membuatnya tertidur pulas.

__ADS_1


***


Yusuf sebenarnya tadi mendengar saat Ilyas mengatakan sesuatu padanya. Tapi ia sedang malas mengobrol dengan orang lain saat itu walaupun hanya sepatah kata saja. Rasanya seperti ada yang hancur didalam tubuhnya. Setelah sekian lama , perasaan cemburu itu masih mengikatnya sangat kuat. Walaupun begitu, masa lalu adalah masa lalu. Tak ada yang bisa dilakukan selain mengikhlaskan semuanya. Tapi nyatanya semua itu tidak gampang.


Setelah puas ia melamun perutnya menjadi lapar. Kebetulan pun tadi ia hanya makan sedikit saja. Ia tak selera makan saat melihat pemandangan yang menyakiti matanya itu. Untung saja ia menyetok makanan beku. Jadi tinggal menunggu sebentar saja ia sudah bisa memakannya. Praktis dan cepat, walaupun harganya agak mahal.


Ia jadi ingat Fitri, sekarang sedang apa ya dia? Beberapa hari tidak bertemu rasanya kangen sekali. Ia ingin datang kerumahnya, tapi ia serba salah juga jika ke sana. Rasanya ingin menelpon, tapi tangannya seperti tidak bisa meresponnya. Setiap kali ingin melakukannya, tangannya seperti tidak mau bergerak seperti perintah otaknya.


Selain Fitri, ia jadi ingat Jamila. Ada perasaan tidak enak saat ia mengingat kejadian tempo hari di warung pecelnya . Yang ia lakukan itu adalah hal yang salah. Untuk apa membencinya karena sesuatu hal yang terjadi beberapa detik dimasa lalunya itu.


Ia rasa apa yang dilakukannya itu terlalu berlebihan. Ia ingin berusaha melupakan kejadian saat SMA dulu yang menjadi titik awal ia membenci Jamila, bahkan ia mencapnya sebagai wanita ******.


Seharusnya ia berterimakasih kepadanya. Berkat omongannya itu, ia jadi berpikir mengenai hubungannya dengan para gadis yang mendekatinya . Berkat itu, ia jadi ingin menemukan cinta yang tulus . Bukan karena fisik ataupun hal lainnya.


Walaupun sudah berpikir begitu, nampaknya masih ada rasa gengsi di dalam hatinya itu. Ia juga bingung harus mengucap apa saat bertemu dengannya. Yusuf berpikir dirinya berada dalam kondisi yang menyedihkan sekarang.


Malam semakin larut. Pikirannya juga ikut larut bersama hujan lebat yang turun tiba-tiba. Pada akhirnya ia lebih memilih tidur saja sambil berharap segalanya akan menjadi lebih baik nanti saat ia terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


***


__ADS_2