Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
62. Dialog Hari Itu


__ADS_3

"Jangan benci sama Mila ya . Dia sebenarnya enggak pingin nikah sama dia. Tapi karena keadaan aja dia terpaksa melakukannya," obrolan yang terjadi sekitar dua tahun yang lalu itu muncul dengan tiba-tiba di ingatannya Yusuf.


"Aku enggak benci kok. Cuma aku enggak nyangka aja mereka bisa menikah. Padahal dia orang yang selalu menyemangati bahkan dia yang menceritakan Kamila padaku pertama kali. Kenapa sih tega banget? Padahal selama ini aku selalu baik sama dia. "


"Terserah kau mau benci temanmu itu atau tidak. Yang penting jangan benci Kamila ya. Disini dia cuma korban."


"Korban apa? Lagian dia terpaksa kenapa? Apa mereka kawin kontrak? Atau karena hutang? Atau memang sudah dijodohkan dari kecil?"


"Yang terakhir jelas tidak."


"Terus?''


"Kamila hamil."


"Hamil? Maksudmu apa ngomong gitu? Aku enggak pernah nyentuh dia!"


"Bukan sama kamu. Tapi sama temanmu itu. Dia menghamili Kamila sehingga dengan terpaksa dia menikah. Biar begitu, ia bilang cintanya cuma untukmu kok."

__ADS_1


"Kenapa dia enggak bilang sama aku? Kenapa?"


"Enggak tega katanya . Takut kamu enggak siap menerima keadaan."


"Apa aku terlalu menyedihkan ya? Dia hamil dengan siapapun aku pasti akan bisa menerimanya. Aku benar-benar tidak sanggup jika harus hidup begini. Padahal hubungan kita sudah berjalan lama, tapi kenapa?"


"Lebih baik kau cari wanita lain yang lebih baik dari dia. Aku yakin kau pasti bisa mendapatkannya."


"Kau tadi bilang Mila hamil kan? Terus apa hubungannya sama teman yang biadab itu?"


"Dia yang menghamilinya. Mila dipaksa minum alkohol kemudian dibawa ke rumah kosong. Dan setelah itu kau pasti paham apa yang terjadi. Nafsu yang membutakan segalanya."


***


Sambil bekerja, pikirannya Yusuf tidak tenang karena ia terus saja mengingat hari dimana ia mengetahui alasan sebenarnya Kamila memilih cowok brengsek itu. Rasanya waktu itu darahnya benar-benar mendidih. Ingin rasanya ia membunuh mantan temannya itu. Tapi ia urungkan niatnya karena menurutnya percuma .


Memang, dengan membunuhnya pasti kenikmatan yang begitu luar biasa bisa didapatkan. Tapi ia malas terlibat lagi dengan mereka. Ia ingin hidup tenang menjalani hidup yang kadang terasa sekali tidak adil baginya. Walaupun begitu, bukan berarti harus menyerah pada kehidupan .

__ADS_1


Sekarang, pikirannya makin bertambah dengan Fitri. Ia takut akan berpisah, tapi mimpi itu adalah pertanda yang sangat mengerikan. Ia tak ingin percaya, tapi masa depan juga tidak dapat ia prediksi.


Rasanya benar-benar menyesal tadi beli es krim , andai tadi tidak ke tempat itu. Sambil melamun di depan monitor ia terus-menerus menyesali hal tadi. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak berkata apapun terhadap lelaki yang brengsek itu, tapi kenapa masih saja mengobrol.


"Kau kenapa suf? Sikapmu aneh banget tadi," tanpa di diduga Arif mendatangi meja tempat Yusuf bekerja yang letaknya tak jauh darinya.


"Aneh dimananya? " Yusuf pura-pura tidak menyadari.


Ya gitu lah. Gimana ya? Pokoknya aneh aja gitu," Arif bingung . Dia tidak punya kalimat yang tepat untuk menjelaskan maksud ucapannya.


"Omongan mu itu enggak maksud aku."


"Hmmmm, aneh aja tadi kau pergi pas datang nanya ke aku soal mantan, padahal aku pernah cerita kalau aku belum pernah pacaran sebelumnya. Kau beneran ketemu sama mantan dan keluarganya?"


"Enggak kok. Kan aku dah bilang butuh referensi buat nulis novel."


"Mencurigakan. Soalnya kau pernah bilang pas di sekolah lemah sekali pelajaran bahasa . Mau itu bahasa Indonesia, ataupun bahasa Inggris. "

__ADS_1


"Ya kan setiap orang bisa berubah bro. Jangan sepele gitu lah."


"Terserah mu aja deh ."


__ADS_2