Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
44. Malam, Bom, Makanan, dan Tak Bisa Tidur


__ADS_3

Yusuf menetap langit-langit kamar yang sebenarnya tidak menarik dimatanya. Matanya entah mengapa tidak mau terpejam. Ia masih memikirkan soal bom yang tadi baru saja terjadi didepan matanya. Rasanya seperti mimpi tapi itu nyata.


Ia sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia terus saja memikirkan hal yang sebenarnya tidak penting untuk di pikirkan olehnya. Lagipula yang penting ia selamat dari sana. Ia bersyukur atas hal itu walaupun jika terkena dampaknya juga itu sebenarnya salahnya sendiri yang terlalu ingin tahu dengan apa yang terjadi.


Sebenarnya ia berada ditempat yang aman saat ledakan pertama, namun entah apa yang membuatnya berlari mendekat bom itu. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa berlari menuju bahaya seperti tadi. Malam yang sebenarnya tidak cerah itu membuat dirinya terus terjaga dari tidurnya itu.

__ADS_1


Berkali-kali ia mencoba untuk memejamkan matanya namun berkali-kali juga ia tidak bisa. Hingga akhirnya ia menyerah juga. Dengan malas, ia menuju dapur. Walaupun masih kenyang tapi rasanya ingin sekali memakan sesuatu yang bisa dimakan dimalam yang sudah sangat larut .


Setelah melihat seisi kulkas, akhirnya ia mengambil beberapa sosis siap saji yang katanya adalah sosis termahal. Maklum aja, harga satu sosis setara dengan 10 sosis. Sebenarnya ia cuma iseng saja membelinya saat itu. Rasanya enak sesuai dengan harganya tapi ia tidak ingin membeli sosis itu lagi. Terlalu mahal menurutnya.


Beberapa sosis saja ternyata kurang. Walaupun sebenarnya malas, akhirnya Yusuf memasak dua bungkus mie isi dua. Semoga saja dengan ini perutnya tidak minta diisi lagi. Tak ada makanan, lagipula ia sedang malas untuk memasak. Mungkin lusa ia ingin menyuruh Ilyas untuk belajar masak dengannya, kan lumayan juga pas lagi malas sudah ada makanan yang tersedia.

__ADS_1


Kalau dari sudut pandang orang awam macam dirinya, kadang ia berpikir apa enggak stress bikin novel yang setebal gitu. Yusuf saja jika disuruh membaca novel sepanjang gitu rasanya ia tidak akan sanggup. Hebat sekali ya orang yang bisa membaca sampai tamat. Tapi sehebat apapun tetap lebih hebat penulisnya yang bisa membuat novel sepanjang gitu .


Keluhan paling sering yang di dengar oleh Yusuf dari temannya itu saat berencana ingin bersantai sejenak malah disuruh liputan ke sana kemari sambil membawa alamat palsu. Kalau Yusuf dia sendiri tidak akan kuat, terutama sekali ia menyadari dirinya sebenarnya pemalas yang terpaksa rajin karena keadaan.


Terakhir mendengar keluhannya itu tadi, kasihan juga dia sebenarnya. Setelah sebulan lebih berkata ingin libur sebentar nyatanya itu cuma mimpi. Dia bilang kangen sama masakannya Yusuf yang katanya rasa hotel bintang lima.

__ADS_1


Kadang ada pikiran untuk mengirimkan masakannya ke sana, tapi ia takut basi sebelum sampai tujuan. Bukannya gimana, tapi kalau sudah basi percuma saja. Sudah tidak bisa lagi. Mungkin nanti Yusuf yang akan ke sana agar temannya itu bisa meluapkan kerinduan pada masakan hotel bintang lima yang ia rindukan. Tapi ya nantinya entah kapan, sampai sekarang slim ada pikiran kapan mau ke sana. Yang jelas kalau waktunya sudah tiba ia akan ke sana.


__ADS_2