
"Fit, kamu bilang apa ke Yusuf? Emangnya kamu beneran dijodohkan? Kok aku enggak tahu?" di rumah saat melihat Fitri abangnya langsung berkata begitu. Ia penasaran soal perjodohan yang baru ia dengar itu.
"Ibu bilang gitu kemarin. Dia bilang kalau aku nekad sama Yusuf dia takkan memberi restu. Aku takut kalau menjalani kehidupan rumah tangga tanpa restu."
"Kamu terlalu patuh. Memangnya yang menjalani kehidupan rumah tangga itu ibu? kan enggak?"
Fitri diam, ia mati kutu. Tak ada yang bisa ia ucapkan. Apa yang baru ia dengar itu tidak salah. Tapi sebagai wanita , ia tidak punya kemampuan untuk membantah ibunya.
"Terus aku harus bagaimana? Katanya surga ada di telapak kaki ibu. Kalau aku melawan berarti aku tidak bisa masuk surga."
"Terserah mu aja deh. Yang nikah juga nanti kau," Abangnya malas meneruskan dialog yang berlangsung diantara mereka. Ia segera masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kemudian menelpon Melati.
"Tumben nelpon jam segini. Ada apa?" tanya Melati.
"Aku bingung sama adikku, dia udah punya pacar terus pacarnya itu kelihatannya sudah sangat cinta dengannya. Tapi aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba adikku memutuskan pacarnya dengan alasan sudah di jodohkan. Aku kok merasa gagal ya sebagai abangnya? Masalahnya tuh aku sama sekali tidak tahu mengenai perjodohan itu. Harusnya kan sebagai Abang kan tahu kan ya, ini masa tidak tahu sama sekali."
"Mungkin adikmu itu udah kecantol sama pria lain. Ya namanya manusia, kalau ada yang lebih baik biasanya yang lama ditinggal. Tapi kalau aku enggak ya. Aku kan sudah janji gak bakal kecantol sama yang lain," Melati memberi tanggapan.
__ADS_1
"Ya mungkin aja sih. Tapi aku ragu juga soalnya selama ini dia enggak pernah punya hubungan spesial sama cowok . Setahuku pacarnya cuma ini sih."
"Entah kalau itu. Tapi ya kan namanya manusia, tapi semoga tidak."
"Aku kok jadi takut ya? Takut aja gitu kalau yang dia bilang itu benar. Nanti jangan-jangan aku juga udah di jodohkan pula. Aku tuh cuma pingin kamu enggak mau yang lain lagi ."
"Gombal," sambil sedikit tersenyum Melati berkata.
"Enggaklah. Aku ngomong sesuai kenyataan. Kalau aku enggak mau sama kamu kan aku enggak mungkin ngejar kamu."
"Aku kabur. Lebih bagus aku enggak dianggap keluarga dari pada harus hidup bareng sama orang yang enggak aku tahu."
"Kalau dijodohkan sama aku?" Melati sedikit menggoda.
"Kalau itu bisa dibicarakan baik-baik sih kalau sama kamu."
"Enggak mau kabur?"
__ADS_1
"Enggaklah. Aku kabur dari rumah kalau itu orang lain. Oh ya kapan aku kenalan sama orang tuamu? Aku dah pingin lho, kali aja kan bisa langsung akrab."
"Pede sekali anda. Orangtuaku galak, masih mau?"
"Enggak masalah. Di kasih sajen juga pasti diam."
"Lu pikir apaan dikasih sajen segala?"
"Ya maksudnya dibawain apa gitu biar nanti orangtuamu langsung setuju sama aku. Aku dah pingin lho cepat-cepat nikah sama kamu ."
"Kalau dah enggak tahan kesini aja bawa orangtuamu sekalian biar bisa di musyawarahkan."
"Pingin sih, tapi orangtuaku sibuk. Ada juga cuma pas adikku masuk rumah sakit doang. Habis itu ya udah, sehari semalam aja belum tentu ketemu sekali," jawab Abangnya Fitri . Nadanya terdengar agak sedikit sedih.
"Hmmm, udahan ya aku mau istirahat dulu. Tau kan aku baru pulang habis jualan tadi."
"Ya udah. Maaf ya ganggu kamu," telpon langsung mati. Abangnya Fitri menatap ke langit-langit kamar sambil memikirkan segala hal yang terjadi hari ini karena matanya belum bisa terpejam. Saat sedang asyik melamun, perutnya tiba-tiba sakit . Ia dengan terburu-buru langsung masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan hal yang harus dituntaskan olehnya.
__ADS_1