
Seperti biasa, Yusuf selalu menikmati senja yang menurutnya sangat indah. Entah sejak kapan ia sangat senang dengan senja terlihat kuning menyilaukan. Ia menikmatinya di depan kos sembari di temani kopi hangat yang terasa mantap sekali.
Hari pertama bekerja di tempat baru rasanya biasa saja menurutnya walaupun ada beberapa kejutan yang lumayan membuatnya terkesima. Mungkin karena kerjaan yang dilakukan masih sama saja. Rasanya ingin mencoba hal baru ,tapi hal baru yang dimaksud juga Yusuf tidak tahu. Intinya dia hanya ingin mencoba sesuatu yang baru walaupun apa yang diinginkan dia juga tidak tahu .
Saat suasana seperti ini rasanya kurang lengkap kalau tidak cemilan. Kopi doang rasanya kayak ada yang kurang. Kebetulan Yusuf tidak merokok jadi ya dia memutuskan untuk membeli cemilan. Mumpung pas juga sore-sore biasanya banyak yang jualan . Dia membawa kopinya masuk dan langsung jalan-jalan.
Dia setelah mengendarai motor agak lama akhirnya memutuskan untuk membeli sebungkus sate yang terlihat lumayan ramai. Dari jalan nampaknya sangat menggiurkan sekali. Setelah memesan dia duduk di meja yang di sediakan.
Tak lama setelah duduk, seorang wanita yang pernah ia kenal dulu datang bersama anaknya. Melihatnya Yusuf jadi heran, menurutnya ini orang seperti hantu. Dimana-mana muncul, Yusuf berusaha bersikap biasa saja. Toh dia yang dulu ditinggalin, ia sekarang sudah tidak ingin berhubungan dengannya lagi .
"Sendirian ya?" tanya wanita itu yang entah secara sengaja atau tidak duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Iya," jawabnya singkat. Dalam hati ia sangat menyesal mampir ke sana. Tahu ada mantan bakal datang, kayaknya tadi bagus cari cemilan saja seperti niat awal. Untung saja tadi sudah pesan untuk dibungkus, kalau tidak Yusuf tidak mau membayangkannya.
"Udah punya pasangan sekarang?" tanya wanita itu.
"Udah kok," jawab Yusuf. Dia tak peduli mau bohong atau tidak. Lagian juga itu tidak penting baginya. Mau punya atau enggak memangnya urusan dia apa?
"Kau kok bisa nyampai sini? Apa sekarang tinggal disini atau melihat saudara?" Yusuf bertanya karena penasaran.
"Pindah tugas aku. Sebenarnya agak berat sih sekarang harus LDR, tapi ya aku yakin dia pasti enggak bakal main sama cowok lain," Yusuf menjawab dengan kalimat yang agak menyindir.
"Kenalin anak aku, namanya Alfian," karena merasa tersindir, ia mencari obrolan yang lain.
__ADS_1
Yusuf rasanya agak berat untuk menyapa. Entah mengapa ia kurang suka sama anak itu, padahal dia sama sekali tidak bersalah. Dia hanyalah akibat dari perbuatan orang tuanya. Yusuf tahu, tapi tetap rasanya ada sedikit keengganan dalam dirinya.
"Wah ganteng kali ya," Yusuf berkata sambil senyum sebenarnya terpaksa juga sih.
"Maafin aku ya soal yang dulu," dengan agak sedikit menyesal wanita itu berkata.
"Aku udah maafin kok. Cuma ya tetap saja aku masih belum menerimanya. Tapi ya udah takdirnya gini ya mau gimana lagi," jawab Yusuf.
"Udah ya, pesananku udah siap," kata Yusuf lagi. Dia segera mengambil sebungkus sate yang ia pesan kemudian pergi.
Sambil mengendarai motornya Yusuf merasa sedikit lega. Setelah beberapa kali bertemu dengannya baru kali ini ia bisa mengobrol berdua. Setelah sekian lama akhirnya bisa berdamai juga dengan masa lalu. Rasanya ternyata mantap sekali. Yusuf bisa bersyukur karena masih bisa merasakannya setelah sekitar dua tahun terus mengingat saat-saat ia mendapat kebenaran mengenai mantannya itu yang menurutnya sangat menyakitinya.
__ADS_1