Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
15. Kisah Sedih Seorang Pria


__ADS_3

Malam yang sepi, bintang-bintang yang berserakan di langit malam terlihat lebih cerah dari biasanya. Sambil melihat dari jendela, Yusuf mencari bintang keberuntungannya. Sebenarnya dia melakukannya untuk tidak menghubungi Fitri . Sebenarnya ia sangat rindu, tapi kali ini ia ingin menahan diri dulu. Itu dilakukan karena ia bingung , akan dibawa kemana hubungan yang telah dua tahun berjalan itu.


Waktu itu, sebenarnya dia hanya pelarian setelah ia ditinggal oleh pacarnya yang selingkuh dengan temannya sendiri. Pikirannya waktu itu begitu dangkal, tapi rasa dengan perlahan merasuki setiap bagian tubuhnya. Dari yang awalnya hanya pelarian kini menjadi tujuan hidup.


Yang membuatnya menahan diri untuk tidak menghubunginya adalah adalah sikap orang tuanya yang makin kesini seperti tidak suka padanya. Ia tak tahu kenapa, yang jelas itu terlihat saat ia bertemu dengan mereka. Hanya saja mereka masih enggan untuk mengatakan yang sebenarnya.


Sekarang bagaimana kondisinya Fitri? Dia sedang apa? Rasanya menjadi teka-teki sekarang. Pertanyaan seperti di atas rasanya semakin memenuhi otaknya.


***


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar keras sekali menyadarkan Yusuf akan pikirannya yang tak menentu. Segera dibukanya pintu. Setelah dibuka, sesosok pria berdiri dengan muka sembab. Ia sepertinya sedang mengalami kesedihan yang amat sangat.


"Kenapa kau nangis gitu?" begitu melihat orang yang di depannya itu , ia berkata begitu. Baru kali ia menghadapi orang yang begitu. Hanya kalimat itu saja yang mampu ia ucapkan.


"Oh ya masuk dulu. Habis itu ceritain apa yang udah terjadi. Aku pasti membantu sebisaku," Yusuf segera menyuruhnya masuk.


Setelah tamunya masuk , segera ia membuatkan minuman agar ia bisa lebih tenang. Orang itu, baru kali ini ia melihatnya berwajah seperti itu. Biasanya dia adalah orang yang memiliki wajah ceria, seperti nyaris tak ada masalah.


"Maaf ya malam-malam datang mengganggu," sambil meminum minuman yang dihidangkan , orang itu berkata dengan raut muka yang sama dengan tadi.

__ADS_1


"Santai aja. Kita kan teman."


"Menurutmu salah ya kalau aku masih berharap sama orang yang malah pingin aku sama orang lain?" tanya orang itu.


"Maksudmu..??" Yusuf tak mengerti.


"Pacarku, dia terkena kanker. Agar kondisinya tidak semakin parah , rahimnya harus diangkat. Dia minta aku buat cari orang lain setelah operasi itu benar-benar terjadi. Aku enggak tahu apa yang harus kulakukan. Bagaimanapun kondisinya aku tidak ingin meninggalkannya. Aku cuma mau dia dia. Apa itu salah?" Suaranya bernada depresi.


"Enggak salah. Enggak ada yang salah dengan sikapmu . Kamu melakukan yang seharusnya dilakukan," Jawab Yusuf tenang .


"Tapi kenapa ? Kenapa harus begini? Kalau aku tidak salah kenapa kita harus berpisah?"


"Tuhan ya yang mengatur segalanya? Tapi kenapa harus diatur jadi begini? kenapa aku ditakdirkan bertemu dengannya kemudian dia menyuruh kami berpisah? Tuhan itu aneh ya?" Wajahnya terlihat seolah ia kesal dengan takdir yang diberikan kepadanya.


"Kenapa orang-orang rasanya gampang saja melakukan yang dia mau? Kenapa mereka semua bisa mengabulkan apa yang mereka mau?" lanjutnya. Matanya perlahan meneteskan air mata. Terlihat ia sedang berusaha melepaskan beban pikirannya.


Yusuf diam. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia pernah berada di kondisi yang sama sepertinya. Dulu, saat ia berpisah dengan mantannya ia juga merasakan kesedihan yang sama. Kesedihannya, ingin rasanya tidak mempercayai kenyataan yang ada. Saat itu ia merasa jadi orang yang paling menyedihkan. Ditambah lagi adiknya belum lama meninggal. Rasa kesepian yang meningkat membuatnya ingin hilang saja dari dunia ini . Tapi enggan jua dilakukannya. Ia ingin hidup lebih lama lagi , begitulah yang ia pikirkan saat ia hendak melakukan niatnya itu.


Kala itu, ia merasa tuhan itu tidak adil. Hanya memainkan perasaannya saja. Tuhan memang benar-benar egois. Masa-masa sulit itu sudah benar-benar berlalu sekarang seiring waktu yang terus berjalan.


"Apa yang dipikirkan pacarmu itu enggak mudah. Dia pasti enggak mau pisah sama kamu. Di dalam hatinya pasti ada rasa takut untuk berpisah denganmu. Seberat-beratnya kamu. Lebih berat lagi pacarmu," Yusuf akhirnya mendapatkan kata-kata yang lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kehilangan rahim bagi seorang wanita adalah hal yang paling menyakitkan bagi mereka. Tak ada wanita yang mau rahimnya diangkat. Rasanya seperti masa depan mereka telah direnggut secara paksa," Yusuf melanjutkan perkataannya.


"Aku tahu perasaanmu. Renungkan dengan baik. Jika aku yang menjadi dia, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Dia hanya ingin kamu bahagia."


" Dia bodoh, aku juga sama bodohnya. Apa enggak ada cara untuk kita berdua bahagia?" orang itu sepertinya mulai tenang sekarang.


"Aku enggak tahu. Dia pikir kalau kamu bersamanya kamu enggak bakal bisa punya anak, sedangkan tujuan menikah salah salah satunya adalah mempunyai anak Apa kamu siap dengan resiko itu ?" Ucapan Yusuf semakin lancar saja. Setiap kata yang terucap dari mulutnya seakan mengalir begitu saja, ia sendiri heran kenapa ia bisa berkata seperti itu.


"Dia takut kamu enggak siap dengan itu. Mungkin itu adalah pertimbangan yang paling ia pikirkan."


"Aku siap kok. Asal bisa dengannya aku siap dengan segala resikonya. Punya anak atau enggak, selama kita bisa bahagia kenapa enggak?"


"Hari ini kau bisa ngomong gitu. Mungkin setelah menikah akan beda cerita. Pikirkan baik-baik . Jangan sampai ada penyesalan diantara kalian," Yusuf merasa seperti seorang motivator di acara TV . Rasanya keren bisa bicara seperti itu. Dia pun kalau diposisi yang sama belum tentu bakal melakukan hal-hal yang ia bilang tadi. Kelihatannya pria itu sekarang kondisinya hatinya sudah semakin membaik. Dia menghabiskan sisa minuman di gelas.


"Makasih ya udah mau dengerin aku. Untung aku punya temen kayak kamu. Tadinya aku bingung mau cerita sama siapa. Pemikiran ku tadi terlalu terlalu kekanakan ya?" nada suaranya sekarang sudah benar-benar tenang. Mukanya sudah tak terlihat seperti saat terakhir Yusuf melihatnya.


"Santai aja. Namanya temen wajar aja sih . Lain kali jangan sungkan untuk cerita sama aku aku bakal dengerin apa pun itu.


"Aku pulang dulu ya . Maaf udah ngerepotin," setelah berkata begitu, ia segera pergi .


Yusuf senang melihatnya tersenyum tipis tadi. Ia bersyukur bisa berguna bagi orang lain. Bintang-bintang yang berserakan dilangit itu hilang ditelan oleh awan mendung. Malam ini nampaknya bakal hujan besar. Setelah menutup pintu, ia segera menuju ke kamar. Saat hendak tidur, suara hujan terdengar berisik sekali .

__ADS_1


__ADS_2