
Malam, di sebuah jalan yang ramai Yusuf bertemu dengan Arif. Sebenarnya Yusuf agak bimbang dengan keputusannya untuk menemaninya membeli cincin. Ia sebenarnya takut kalau dibilang yang aneh-aneh. Bagaimana juga zaman sekarang ngeri, cuma pegangan tangan sesama cowok aja sudah dibilang inilah itulah. Walaupun ia kasihan juga dengan temannya.
Mereka pergi pusat belanja yang tak jauh dari sana. Setelah melewati beberapa toko, akhirnya Arif menemukan juga cincin yang menurutnya cocok. Tadinya ia ingin mencobanya menggunakan jarinya Yusuf, tapi jelas Yusuf menolak dengan tegas. Karena ia merasa seperti harga dirinya sedang dijatuhkan, walaupun ia tahu sebenarnya temannya itu tidak bermaksud demikian.
Pusat perbelanjaan itu memang mantap juga ternyata. Selama ini Yusuf hampir tidak pernah mampir ke supermarket , paling mentok juga di minimarket. Alasannya karena harga yang dijual terlalu jauh perbedaannya. Lagipula lebih enak di minimarket atau warung saja, karena baginya lebih simpel.
***
"Kau dimana Yas, mau ikut nongkrong enggak?" Dari jauh terdengar suara Hasan menelpon.
"Aku di rumah. Gimana kalau nongkrongnya disini aja? Soalnya aku juga sendirian di rumah," Ilyas sebenarnya malas sekali nongkrong tapi ia tidak enak menolak ajakan teman kerjanya itu.
"Ya udah . Otw aku, share lokasimu dimana biar aku enggak bingung!"
"Oke," Telepon dimatikan.
Setelah membagikan info lokasi, Ilyas segera memberitahukan Yusuf soal ini. Karena menurutnya ini adalah sesuatu yang wajar jadi ya boleh-boleh saja. Ia juga kadang begitu, apalagi kalau lagi kesepian.
"Untung aja cepat ketemu. Hampir aja aku kebingungan tadi," sambil melepas kunci dari motornya Hasan berkata. Ia datang bersama dengan Riski.
__ADS_1
"Kalian janjian ya?"
"Sebenarnya enggak sih. Cuma tadi pas Hasan ngajak aku buat kesini ku terima aja. Lagian kan gantian juga, waktu kemarin itu juga kan kau yang datang kerumah ku," Riski yang turun dari motor berkata demikian.
***
Duarr
Sebuah bom yang dirakit meledak tidak jauh dari tempat Yusuf dan temannya itu berada. Seketika mereka jadi penasaran dengan apa yang terjadi. Di dekati tempat terjadinya bom itu berasal. Walaupun sebenarnya takut akan ada bom yang meledak namun tetap saja mereka mendekat karena penasaran.
Benar saja, tak seberapa jauh dari tempat mereka berdiri, sebuah bom kembali meledak. Untung bom itu dirakit untuk skala kecil. Kesimpulan yang di dapat, itu hanyalah sebuah percobaan saja . Mungkin dimasa depan bom yang diledakkan . Sebenarnya ia berharap itu adalah ledakan yang terakhir, namun tak ternyata ledakan yang lebih besar terjadi. Kali ini jaraknya agak jauh beberapa meter dari tempat tadi.
Lagian siapa yang menaruh dan untuk apa dia meledakkan hal semacam itu bukan urusannya dan ia juga tidak ingin terlibat dengan hal semacam itu. Selain karena pihak yang bersangkutan sudah mulai datang untuk menangani, hal semacam itu juga tidak memberi keuntungan padanya.
Saat telah berada ditempat yang aman Yusuf jadi kepikiran, kira-kira ada korban jiwa tidak? Tapi sepertinya tidak, karena ia tidak melihat satu orangpun selain mereka berdua. Semoga saja tidak ada satu pihak yang melihatnya, sebenarnya bukan masalah . Yusuf takut dituduh macam-macam, padahal ia cuma ingin melihat dari dari dekat ledakan itu.
Sebenarnya selain dia tadi banyak yang berkerumun, tapi setelah ledakan yang lebih besar tadi orang-orang mulai berlarian untuk menyelamatkan diri mereka sendiri . Nampaknya tadi yang belum beranjak pergi hanya dia saja jadi ia merasa agak takut bila polisi menanyainya karena ia belum pernah sama sekali terlihat dengan kepolisian.
***
__ADS_1
"Woy, aku enggak jadi ke sana, sebenarnya pingin sih tapi ya mau gimana lagi. Ada pekerjaan yang sedang menunggu. Tau kan kasus mengenai brigadir Z yang sedang viral itu? Aku disuruh nyari berita tentang. Maaf ya," setelah Yusuf terbebas dari bom yang meledak tadi, temannya yang tadi berkata hendak menginap dirumahnya membatalkan rencananya itu. Nada suaranya terlihat sekali ia kecewa.
"Oh tentang itu. Aku tahu sih beritanya. Akhir-akhir ini berita mengenai dirinya memang lagi jadi topik pembicaraan dimana-mana. Kalau kasusnya dah benar-benar selesai ceritain ke aku ya cerita yang lebih lengkap dengan bahasa yang enak. Soalnya aku sendiri agak bingung dengan berita yang beredar itu."
"Siap. Aku pasti bakal ceritain semuanya."
"Bakal ku tunggu lho. Oh ya, tadi ada bom meledak disini lho," dengan nafas yang masih setengah-setengah, Yusuf antusias menceritakan hal baru ia alami tadi.
"Iya kah? Bagaimana ceritanya? Ada korban jiwa enggak?"
"Ceritanya nanti kalau dah ketemu. Kalau untuk korban jiwa nampaknya enggak ada ."
"Gimana sama pelakunya? Ketemu?"
"Sayangnya enggak. Tapi yang pasti tuh orang sedang menguji cobanya kalau dilihat dari daya ledak bom itu. Mungkin ia bakal ada ledakan yang lebih besar lagi nanti."
"Kayaknya bakal jadi berita besar jika hal itu sampai terjadi. Tapi walaupun begitu aku harap itu tidak akan terjadi. Aku pribadi sebagai seorang wartawan lebih suka memberitakan berita bahagia," telepon kemudian mati setelah hal itu.
Yusuf segera mencari Arif. Ia tadi meninggalkannya karena Arif merasa dia ingin buang air besar sebentar saat ledakan itu terjadi. Ia takut Arif jadi kebingungan karena tidak menemukan dirinya.
__ADS_1