Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
72. Wanita Penabur Bunga


__ADS_3

Sore sudah mulai datang, setelah mengendarai motor selama berjam-jam akhirnya Yusuf sampai juga di kota yang akan ditinggalinya itu. Udara asing mulai masuk lewat hidungnya, pemandangannya juga terlihat sangat berbeda. Disini nampak sekali lebih ramai dan lebih padat. Ditambah lagi disini nampaknya terdapat beberapa sungai yang mengalir. Sebenarnya Yusuf tidak yakin apakah itu hanya satu sungai yang memiliki cabang banyak atau memang terdiri dari banyak sungai, ia hanya menyimpulkan saja berdasarkan apa yang ia lihat.


Dengan berbekal alamat yang diberi oleh temannya itu, setelah bertanya kepada banyak orang akhirnya ia sampai juga ditempat yang dituju. Rasanya memang mantap juga rebahan setelah hampir seharian mengendarai motor. Dia di kos sendirian, temannya itu nampaknya masih bekerja. Untung sebelumnya sudah bilang kalau Yusuf mau tinggal disitu ,kalau belum mungkin bakal disangka maling.


Sebenarnya badannya lumayan pegal juga, tapi.rasanya ia tak bisa tidur. Entah mengapa ingatannya terus tertuju kepada seorang wanita yang sedang menabur bunga di tepian sungai. Walaupun sebenarnya jaraknya agak jauh dari pandangannya tapi tetap saja terlihat. Sekilas wajahnya lumayan juga, tapi entah kalau dari dekat. Tapi Yusuf berharap ia cantik juga , walaupun begitu bukan berarti ada niatan untuk mendekatinya. Masih ada bekas luka yang masih tersisa di hatinya.


Hatinya masih agak plin-plan untuk terbuka dengan orang lain lagi. Di satu sisi sebenarnya ia masih menginginkan seorang wanita untuk menjadi pendampingnya kelak, walaupun disisi lain ia tidak ingin membuka hati dulu akibat harapan yang telah hancur. Untuk kedua kalinya ia terluka disaat hendak melamar wanita yang ia cintai.


Kira-kira wanita itu kenapa ya menaburkan bunga di tepian sungai dengan memakai pakaian hitam. Apa di sana ia kehilangan seseorang yang di cintai? Kalau iya apakah itu anak atau suaminya? Atau malah keduanya?


Kalau misalnya bukan terus buat apa? walaupun kurang percaya mengenai mistis tapi setahunya tidak ada ritual mistis yang mengharuskan seseorang untuk menabur bunga di sana tapi entahlah. Yusuf jadi bingung kenapa dirinya terus memikirkan orang itu. Padahal yang hampir merugikan dirinya itu ada, tetapi tetap saja dia lebih menarik.

__ADS_1


Bagaimana mau tidak dibilang hampir merugikan? orang lagi ngebut tiba-tiba datang buat mati. Walaupun sebenarnya kasihan juga saat mendengar ceritanya tapi bukan berarti dia mati urusan langsung beres. Emang parah gila itu orang, untung aja Yusuf bukan tipe yang suka gelud, kalau misalnya dia suka gelud udah habis kena hajar. Sebenarnya tadi pingin mengajar dia juga, tapi perut pas lagi lapar jadi ditunda dulu. Begitu terisi dia menceritakan kisah hidupnya, jadilah ia kehilangan nafsu untuk bertarung.


Dia tidak tahu cerita yang ia sampaikan itu benar atau tidak. Lagipula wajah dan namanya juga Yusuf sudah lupa. Untuk apa diingat? kurang penting juga. Kalau misalnya itu tadi cewek pasti bakal diingat. Tapi ya sebenarnya hal itu termasuk sesuatu yang wajar juga.


Daripada memikirkan hal yang tidak penting , Yusuf merasa lebih baik untuknya mengabarkan temannya itu bahwa ia sudah sampai di kos nya. Saat membuka ponsel, terlihat banyak pesan dan telpon dari Ilyas. Yusuf bingung harus bersikap apa, entah mengapa rasanya ingin sekali berkata kasar. Macam anak kecil aja pergi sebentar sudah ditanya ini dan itu.


Segera ia memencet tombol panggilan kemudian mengabarkan mengenai dirinya kepada Ilyas sambil mengomelinya. Yang diomeli hanya diam saja. Walaupun maksudnya baik tapi mungkin karena efek lelah jadi bawaannya marah-marah, begitulah yang ada dipikiran Ilyas. Karena sudah tak tahan lagi akhirnya ia matikan telpon itu. Tidak peduli mau dibilang apa, yang jelas ia tak ingin mendengarnya lagi.


Setelah mati, entah kenapa Yusuf langsung merasa sangat bersalah sekali dengan Ilyas. Ia ingin sekali minta maaf, tapi mungkin nanti saja, bukan tanpa alasan. Ia ingin agar suasana yang terbangun lebih baik lagi. Masalah masih marah atau tidaknya itu bisa dibicarakan nanti.


"Sudah. Maaf ya tadi enggak ngabarin kau kalau aku sudah sampai," jawab Yusuf.

__ADS_1


"Santai aja. Boleh enggak aku minta masakin kamu buat nanti malam? Kangen aku sama masakanmu," kata temannya itu .


"Kau pulang kapan?"


"Entah, nunggu sidang selesai kayaknya agak malam juga sih soalnya sekarang juga baru istirahat. Akhirnya mulai dapet titik terang juga kasus ini. Kalau dari yang ku dengar tadi sih masalahnya sebenarnya sepele, gara-gara istri jendral nafsu sama brigadir Z tapi Brigadir Z enggak mau sama dia terus dia ngomong yang aneh-aneh ke suaminya. Karena terpancing jadi suaminya nyuruh orang lain buat bunuh Brigadir Z ini."


"Aku boleh tanya enggak?" tanya Yusuf.


"Tanya apa?"


"Tadi aku pas mau kesini nampak ada cewek berpakaian hitam terus nabur bunga gitu di tepi sungai. Kira-kira kau kenal enggak sama dia?"

__ADS_1


"Enggak sih. Ya udah lanjut nanti ya . Maaf aku enggak ada pas kau kesini. Aku senang sih sebenarnya tapi ya gimana lagi."


"Santai aja bro. Ya udah sampai ketemu nanti malam ya!"


__ADS_2