
Hampir seminggu sejak ia diberi tahu mengenai pemindahannya ke kantor pusat. Banyak hal yang telah terjadi sejak itu. Ia selama beberapa hari rutin mengunjungi makam adik dan ayahnya. Ia merasa perlu untuk melakukannya karena ia takkan bisa melihatnya lagi .
Rasanya ia jadi galau sendiri. Semakin dekat dengan hari kipindahannya, ia jadi semakin tidak ingin pergi. Rasanya ia ingin menolak saja, tapi disisi lain ia merasa sangat ingin pergi. Dia jadi bingung sendiri dengan dirinya yang menginginkan dua hal bertentangan.
Di malam terakhir, Yusuf mengajak Ilyas untuk makan diluar sekalian menikmati malam yang entah kapan akan terulang lagi. Sebenarnya sekalian menepati janjinya. Saat Ilyas diberitahukan mengenai pemindahannya, ia hanya minta agar Yusuf menghabiskan malam terakhir bersamanya.
Mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, tapi menurutnya itu adalah sesuatu yang wajar mengingat hubungan yang terbangun and keduanya adalah sebagai Abang dan adik. Banyak hal yang dilakukan malam itu. Menonton bioskop, makan di restoran, main di pasar malam, dan sebagainya. Saat sampai di rumah, mereka kembali menonton film berjudul " Hantu Kepala Buntung" . Sebenarnya kaset film dirumahnya bukan cuma itu, hanya saja karena itu adalah yang paling menantang jadi ya malam itu mereka menonton film itu.
"Malam ini kalau tidur bareng boleh enggak? Sekali aja," saat hendak bersiap untuk tidur entah mengapa Ilyas terlihat sangat manja.
"Besok kan Abang udah pergi. Enggak tahu kenapa rasanya ingin banget tidur bareng sekali aja. Besok malam kan aku tidurnya sendirian aja di rumah ini," lanjut Ilyas.
__ADS_1
"Hmmm, gimana ya?" Yusuf kaget saat mendengar ucapannya Ilyas yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya baru kali Ilyas bersikap begitu. Yusuf ingin meruqyah Ilyas saat mendengar ucapannya barusan. Walaupun sebenarnya Yusuf tak menyangka, tetap ia tidak ingin menunjukkan rasa herannya itu.
"Ya udah . Kamu tidur duluan , aku lagi sibuk beres-beres buat besok," jawab Yusuf akhirnya. Mungkin Ilyas punya alasannya sendiri, begitulah yang dipikirkan oleh Yusuf saat mengiyakan.
"Mau dibantuin enggak?"
"Enggak usah, bentar lagi selesai kok," jawab Yusuf yang terlihat masih melipat bajunya. Setelah selesai ia langsung menuju ke tempat tidur. Seketika ia jadi ingat dengan Almarhum adiknya, setiap kali Yusuf ingin pergi jauh pasti dia tidak mau ditinggal . Ada saja alasannya untuk terus memintanya berada di dekatnya. Hari-hari yang telah berlalu selalu saja berhasil membuat Yusuf bernostalgia.
"Kenapa?" tanya Yusuf.
"Kau besok jadi kan kesini?" tanya sang penelpon itu.
__ADS_1
"Jadi. Tapi mungkin aku sampai sana sore soalnya aku baru berangkat besok pagi," jawab Yusuf. Yang menelpon itu ternyata temannya yang seorang wartawan. Karena kebetulan tempat kerjanya yang baru berada tidak jauh dari tempat kos temannya itu, jadi ia berencana untuk kos juga di sana mumpung ada teman yang dikenalnya juga.
"Besok aku ada tugas buat liputan sidang komandan yang membunuh ajudannya. Itu lho masalah brigadir Z. Kalau misalnya lagi enggak di rumah pas kau datang jangan bingung ya nanti aku kasih duplikatnya ke orang sebelah kos ku."
"Siap. Gimana rasanya meliput satu berita selama beberapa Minggu ini?"
"Bosen rasanya. Tapi lumayan juga uangnya, walaupun gitu aku tetep ingin cepetan selesai. Kasus kayak sinetron, gak selesai-selesai. Mentang-mentang yang terlibat orang dalam semua."
"Ya udah ceritanya disambung besok lagi ya, aku harus bangun pagi biar bisa berangkat habis subuh," Yusuf segera menutup telponnya dan langsung menuju kasur dimana Ilyas berada. Dipandanginya Ilyas dengan serius, entah mengapa rasanya dirinya semakin mirip dengan adiknya yang telah lama tiada. Yusuf jadi tidak tega untuk meninggalkannya sendirian.
Sebenarnya Ilyas saat diberitahu mengenai kepindahannya ia seperti tidak menyukainya. Dengan berbagai penjelasan akhirnya dia menerimanya juga. Lagipula tanpa adanya hal semacam ini juga suatu saat mereka akan berpisah juga karena banyak alasan . Entah itu karena menikah atau hal lain, selama media untuk berkomunikasi masih ada, walaupun terpisah oleh jarak yang jauh tetap saja ada penghubung diantara mereka.
__ADS_1