
"Hai, kangen ya sama aku?" dengan sangat percaya diri Yusuf berbicara kepada Ilyas lewat sambungan telepon saat ia tengah makan malam sendirian. Teman kost nya itu jarang berada di kost, ada saja alasan yang membuatnya sering tidak pulang.
"Dih, enggak lah. Masa kangen sama cowok, emangnya aku cowok apaan?"
"Terus tujuanmu nelpon ada apa?"
"Aku boleh enggak curhat?"
"Silahkan."
"Jadi gini, waktu kemarin libur kan aku pergi kerumah orangtuaku. Aku waktu itu pake jaket hoodie lengan panjang terus pake masker juga kaca mata hitam.."
"Lah terus kalau pake gituan kenapa?"
"Enggak ada hubungannya sih. Cuma aku mau menjelaskan apa yang ku pakai aja waktu itu. Waktu aku sampai disana, aku kaget banget. Rumahku hancur seperti dibakar orang. Begitu melihat apa yang terjadi aku menjadi sangat terkejut. Aku yang tadinya rencananya cuma mau diam-diam melihat keadaan rumah akhirnya langsung bertanya kepada beberapa warga. Mereka sangat terkejut melihat aku. Langsung dibawanya aku kerumah pak RT. Dia menceritakan semua yang ia tahu," Di telpon Ilyas bicara panjang lebar.
__ADS_1
"Dia bilang besar kemungkinan bapakku yang melakukannya mengingat sejak kejadian itu dia tak pernah terlihat lagi. Ibuku ditemukan meninggal dunia," lanjutnya lagi.
"Sebuah keajaiban berkas yang sangat penting bisa terselamatkan. Aku enggak tahu harus berbagi dengan siapa cerita ini. Maaf ya ceritanya terlalu panjang," sepertinya dia sudah menuntaskan seluruh ceritanya itu.
Yusuf mendengarnya dengan penuh perhatian. Sebuah cerita yang sedikit agak menyentuh. Ternyata punya keluarga yang lengkap itu juga masih dipenuhi drama juga , begitu pikirnya. Selama ini ia pikir enak sekali punya keluarga yang lengkap . Tapi mungkin tergantung manusianya juga.
Ada yang bahagia ada yang dipenuhi drama yang seharusnya tidak boleh terjadi sama sekali. Seperti contoh yang dialami Ilyas atau kejadian tadi sore, seorang menantu menghancurkan kebahagiaan satu keluarga dengan tingkah bejatnya. Tapi ya semuanya sudah terjadi. Sebuah penyesalan seharusnya tidak perlu ada. Kenapa harus menyesal? sedang mereka saja melakukannya dengan penuh kenikmatan.
Tapi untuk kasus Ilyas ia merasa keputusannya untuk kabur memang benar walaupun ia tidak tahu duduk masalahnya hingga seorang suami dengan tega membakar rumah yang dimana istrinya sedang berada. Kira-kira di alam yang berbeda apakah ia akan menyesal telah menikah dengan lelaki yang kejam ya? Atau mungkin suaminya yang menyesal telah membakar rumah yang membuat istrinya meninggal?
Tapi rasanya kalau berpisah agaknya kurang mungkin juga. Waktu itu sebenarnya Ilyas pernah bercerita kalau ibunya sudah capek terus berkelahi namun ayahnya menolak mentah-mentah permintaan itu. Padahal jika dengan bercerai semuanya bisa menjadi lebik baik kenapa tidak? Ilyas juga sebenarnya sudah rela jika orangtuanya harus bercerai.
"Yas, aku boleh tanya satu hal boleh?"
"Tanya apa bang?"
__ADS_1
"Kau pergi kesana kenapa kau enggak ngasih kabar ke aku? Kau sudah enggak nganggep aku lagi ya?" nadanya Yusuf terdengar seperti orang merajuk. Sebenarnya ia tak bermaksud demikian, hanya saja ia ingin mengganti topik . Yusuf merasa jika topik itu dilanjutkan malah membuat Ilyas jadi semakin sedih.
"Maaf ya bang. Semuanya terjadi tanpa rencana. Aku masih menganggapmu kok jadi abang angkatku."
"Terserah sih. Tau gak, tadi pas aku pulang aku lihat ada dua orang lagi di sidang rame-rame di tempat pak RT gara-gara berhubungan badan sama mertua sendiri. Gila kan? Mungkin orang dua itu sekarang sudah di usir."
"Berhubungan badan gimana bang?"
"Ya gitulah. Nanti kalau kau udah umur 18 tahun ke atas bakal ngerti kok."
"Ih , enggak seru."
"Lanjut nanti lagi ya. Aku lagi makan ini. Nanti kalau aku dah selesai makan kita lanjut ngobrol lagi."
"Ya udah."
__ADS_1