Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
26. Malam Dan Kamu


__ADS_3

Ilyas sehabis makan menuju kamarnya. Rasanya pegal sekali badannya seharian bekerja. Sementara Yusuf duduk di teras rumahnya. Bintang malam ini cuma sedikit, sebagian besar bersembunyi dibalik awan mendung. Matanya tertuju ke arah rumah yang telah hangus itu . Penghuninya sudah pergi ke rumah saudaranya tadi sore. Yusuf sedih juga saat mereka pergi , walaupun hanya sementara tapi rasanya ada yang kurang.


Biasanya dari depan rumahnya terdengar suara riuh penuh kehangatan keluarga, tapi sekarang sudah tak terdengar lagi. Belum lagi suara tertawa yang keras dari temannya saat bermain , sekarang tiada lagi . Walaupun kadang ia merasa iri karena ia sudah tak bisa lagi seperti mereka , tapi rasanya kalau tak ada mereka sepi juga.


"Oh ya aku nelpon Fitri," Saat sedang memikirkan tetangga yang baru tadi kebakaran, tiba-tiba teringat niatnya tadi untuk menelpon Fitri. Segera ia masuk ke kamar untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur .


Yusuf segera mencari nomor kekasihnya itu. Tak berapa lama akhirnya ditemukannya juga, ia kemudian segera menelponnya. Setelah tiga kali menelpon, akhirnya diangkat juga oleh Fitri. Untung saja ia tak menyerah.


"Ada apa tadi kau nelpon?" Setelah mengucap salam Yusuf langsung berkata seperti itu.


"Enggak sengaja terpencet tadi," di kupingnya Yusuf terdengar suara wanita yang lembut .


"Masa sih?"


"Ya terus?" Wanita yang di telponnya itu berkata dengan suara kesal.


"Enggak . Hari Minggu besok kita nonton yok. Katanya bakal ada film bagus yang baru tayang lho," Yusuf berusaha mencairkan suasana.


"Enggak tertarik . Kenapa enggak nonton sama pacar barumu?"


"Pacar baru? Pacarku cuma kamu . Enggak ada yang lain lagi?" Yusuf tak mengerti arah pembicaraan lawan bicaranya.


"Pacarmu cuma aku? Dari kemarin kemana aja? Masa dari aku keluar dari rumah sakit enggak ada ngabarin apa-apa kau. Emangnya sesibuk apa sih sampai satu menit aja enggak ada waktu buatku?"


Yusuf diam mendengar kalimat itu. Sebenarnya tadi ia sudah mempersiapkan mental untuk ini, tapi ternyata mentalnya belum kuat untuk mendengarkan hal ini.


"Diam aja kan? Berarti aku bener kan? Kalau dah sibuk sama orang lain biar aku mundur aja," Fitri merasa sedang berada di atas angin sekarang.


Yusuf masih terdiam. Tak ada kata yang mau keluar dari bibirnya. Kali ini adalah kesalahannya, apapun yang Fitri katakan itu tidak salah. Mungkin kalau dia ada di posisinya juga akan berpikiran sama.


"Aku tidak punya pacar lain selain kamu. Terserah kamu mau percaya atau tidak , yang jelas aku bicara yang sebenarnya. Kalau masalah aku tidak memberi kabar, aku ingin punya ruang untuk sendiri dulu. Banyak hal yang terjadi. Dan tidak semua harus kamu tahu, kecuali kamu sudah menjadi istriku," Akhirnya Yusuf menemukan kata-kata yang dirasa cocok olehnya.

__ADS_1


Setelah dimatikan, Yusuf langsung menaruh ponselnya di kasur bersamaan dengan tubuhnya yang terbanting ditempat tidur. Padahal alasan yang dilontarkan dikupingnya terasa sudah logis. Tapi mungkin cewek di manapun juga sama saja .


Sambil memeluk bantal ia berpikir bagaimana cara agar pacarnya tidak ngambek lagi padanya. Ia tahu dia yang salah. Tapi setidaknya sudah ada alasan logis yang sudah diucapkan. Memang sudah berurusan dengan perempuan. Apapun yang dilakukan olehnya pasti salah. Rasanya seperti memakan buah simalakama, dimakan salah tidak dimakan juga salah .


Waktu itu ia jadi ingat saat Fitri protes kepadanya karena tidak bisa menonton grup musik favoritnya. Ia iseng mencari jadwal manggung grup musik itu dan secara kebetulan ia mendapatkan info bahwa grup yang digilai pacarnya itu akan segera manggung di kota ini lagi.


Ia kemudian mendapat ide untuk mengajaknya pergi sekalian menunaikan janji yang pernah ia ucapkan dulu. Menurutnya, lelaki sejati adalah ia yang selalu menepati janjinya.


Andai aja dulu Fitri menerima ajakannya untuk menikah, pasti ceritanya akan berubah. Sayangnya waktu itu ia berkata belum siap berumah tangga, padahal Yusuf sudah sangat ingin untuk menikah. Karena sudah mantap, akhirnya ia memutuskan untuk tidak mencari orang lain untuk diajak bakal ia tunggu sampai Fitri siap.


Yusuf yang tak bisa memejamkan mata saat itu memutuskan untuk pergi saja untuk melihat pemandangan kota yang ramai. Sekalian mengembalikan pikirannya yang sedang kacau. Ia tak mau besok pekerjaannya jadi tak karuan hanya karena masalah ini.


Udara dingin menyelimuti tubuhnya yang sedang mengemudikan kendaraannya. Malam di kota begitu terang. Rasanya kali ini ia tidak menemukan sesuatu yang menarik. Entah mengapa, kalau sudah menyangkut soal wanita ia merasa lemah sekali. Apalagi kalau melihat yang tersayang sedang marah. Sudah pasti akan kepikiran terus.


Dia pada akhirnya berbelok ke rumahnya temannya yang dulu pernah bercerita mengenai pacarnya yang kehilangan rahimnya tempo hari. Orangnya kebetulan sedang berada di teras rumahnya. Nampaknya ia sedang bersantai ditemani segelas kopi hitam.


"Gimana kabarnya boy? Udah enggak galau lagi kan?" begitu kendaraannya di matikan , Yusuf langsung bertanya begitu.


"Sekarang malah giliran aku yang galau. Pacarku tadi marah-marah," setelah duduk disampingnya Yusuf mengatakan hal demikian.


"Kok bisa?"


"Ya bisalah."


"Yang sabar aja bro. Cewek biasanya susah banget kalo dah ngambek. Mau kopi juga? Kebetulan kopi ku dah habis nih," Temannya itu memberi penawaran.


Beberapa saat kemudian dua gelas berisi kopi panas berada dihadapan Yusuf.


"Dia bisa ngambek kenapa? Tumben kali cewek mu itu ngambek," temannya yang baru duduk langsung berkata.


"Habis pulang dari rumah sakit itu kan aku enggak pernah menghubungi dia gara-gara waktu itu abangnya bilang suruh menjauh juga sikap orangtuanya kayak dingin gitu sama aku. Jadi ya namanya orang , pasti pikirannya macem-macem. Jadi ya habis itu aku enggak pernah menghubungi dia. Terus tadi dia nelpon aku, aku enggak jawab soalnya aku lagi tidur pules banget," panjang kali Yusuf berkata.

__ADS_1


"Gara-gara penasaran kan jadinya aku balik nelpon dia tadi. Dia malah ngomong aku punya pacar baru. Padahal kan enggak. Aku pingin setia sama satu orang aja. Terus aku bilang aku enggak punya pacar lain selain dia. Terus aku ngomong apa lagi ya tadi? Malah habis itu langsung dimatiin sama dia. Enggak jelas kali dia," Apa yang mengganjal dihatinya dikeluarkan didepan temannya itu.


"Abangnya nyuruh kau menjauh alasannya apa?"


"Ya mungkin karena penyakitnya pacarku itu . Aku enggak dikasih tahu nama penyakitnya. Pokoknya dia bilang parah. Padahal dia nongol di rumah sakit aja cuma sekali dua kali."


"Tapi aku belum rela kalau misalnya udahan aja. Kita kan pacaran niatnya buat dijadiin istri bukan untuk mainan. Males lho kalau disuruh nyari lagi. Emangnya gampang apa buat buka hati ke orang lain? Kan enggak segampang membalikkan tangan," Selesai berkata Yusuf meminum kopi hitam yang terlihat menggiurkan.


"Lagian juga sekarang kondisinya udah lebih baik. Ngapain juga aku nyari orang lain. Umur tambah tua, udah pingin ada yang ngurusin juga pingin punya momongan, Selesai meminum, Yusuf berkata lagi.


"Kalau lu serius lamar aja bro."


"Udah tahun kemarin . Dianya bilang belum siap jadi istri, ya udahlah terserah dia aja. Coba aja dulu dia mau, sekarang paling aku dah momong bayi."


"Yang sabar aja bro. Kalau dah waktunya juga bakal punya."


"Orang lain dah pada punya. Ada juga yang anaknya udah sekolah. Masa aku kayak gini terus? Mau bersabar sampai kapan?"


"Sampai tuhan mengizinkan."


"Kapan tuhan mengizinkan aku nikah?"


"Tanya sendiri."


"Entahlah. Pusing aku. Kau dah ganti cewek sekarang?"


"Belum . Aku masih sama dia walaupun dia udah enggak ada rahim. Apapun yang terjadi nanti, aku udah siap," jawabnya sangat yakin. Nampaknya sekarang ia sudah bisa menerima keadaan.


"Kalau pacarmu?"


"Dia awalnya menolak, tapi ya setelah berbusa mulutku ngomong akhirnya dia mau sama aku."

__ADS_1


"Baguslah kalau kayak gitu. Aku mendukungmu ," setelah berkata begitu, Yusuf langsung menghabiskan kopi yang tersisa di gelas.


__ADS_2