Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
28. Rahasia


__ADS_3

"Mumpung ingat aku mau bilang sesuatu padamu. Tapi ini rahasia ya?" Setelah melihat Riski sedang sibuk dengan urusannya, Hasan berkata begitu.


"Iya. Mau ngomong apa memangnya?" Ilyas jadi penasaran . Kira-kira rahasia apa ya?


"Janji dulu."


"Iya. Aku janji," Ilyas makin penasaran.


"Jangan pernah nanyain soal keluarganya Riski. Walaupun kelihatannya kayak gitu, tapi dia aslinya rapuh."


"Maksudnya apaan ? Emang ada apa sama keluarganya Riski?" Ilyas makin penasaran.


"Keluarganya dah enggak utuh. Ayahnya dipenjara sedang ibunya menghilang. "


"Beneran? Emang kenapa kok bisa dipenjara?" Ilyas kaget mendengarnya. Ada rasa tak percaya didalam hatinya.

__ADS_1


"Entah. Aku juga enggak mungkin nanya. Aku dapet info dari salah seorang temannya waktu sekolah dulu. "


"Emangnya udah terbukti kebenarannya? Bisa jadi kan hoax," Ilyas semakin tidak percaya. Info yang didapat rasanya semakin meragukan.


"Aku juga awalnya enggak percaya. Aku waktu itu pernah secara sembunyi mengikutinya. Waktu itu ia belok ke lapas dulu sebelum pulang . Mukanya kelihatannya sedih banget," Hasan menjelaskan.


"Ya udah. Aku cuma mau bilang itu. Aku mau balik lagi ke depan," Hasan berkata lagi sebelum ia meninggalkan Ilyas yang harus fokus memanggang ikan .


Setelah mendengar hal itu, pikirannya Ilyas jadi kacau. Kasihan sekali ia pada Riski. Orang sebaik itu harus menyimpan kepedihan yang luar biasa. Walaupun begitu ia salut pada Riski yang sepertinya tidak pernah mengeluh.


Ia jadi ingat dirinya. Ternyata apa yang dirasakan orang lain bahkan lebih berat. Tapi ia lebih memilih jalan pintas untuk menghindarinya. Ia merasa jadi orang yang paling lemah sekarang.


Didalam hujan yang begitu kasarnya turun, Ilyas jadi memikirkan betapa lemahnya dirinya. Pikirannya jadi tidak fokus. Hampir saja Ikan yang dipanggangnya itu hangus, Untung saja Riski datang tepat waktu.


"Kau kenapa melamun? Fokus ke panggangan dulu . Kau kerja harus profesional. Bisa kan?" Suara Riski mengomel.

__ADS_1


"Maaf. Lain kali enggak lagi. Aku janji," Ilyas merasa bersalah.


"Ya udah kali enggak masalah . Lain kali jangan diulangi lagi," Sebenarnya pingin ngomel lagi , tapi Riski berusaha memaklumi saja. Orang baru memang biasanya selalu membuat kesalahan.


"Tadi Hasan enggak ada ngomong yang aneh-aneh kan ke kau?" Rupanya Riski tidak mendengar apa yang tadi Hasan bilang. Lega kali rasa di hati Ilyas.


"Tadi dia ngajakin nongkrong," Ilyas bohong. Lebih baik begitu daripada ingkar janji.


"Gitu doang?"


"Iya. Kenapa rupanya?"


"Enggak," Setelah berkata begitu, Riski langsung pergi meninggalkan Ilyas sendirian.


Yang ditinggal sendiri merasa aneh melihat kelakuannya. Tak biasanya Riski curiga sama Hasan. Tapi ya sudahlah, itu bukan urusannya. Selama bukan masalah serius lebih baik tidak ikut campur.

__ADS_1


Hujan akhirnya reda saat ikan panggang terakhir diangkat oleh Ilyas. Hari ini nampaknya panggangan lebih sempurna dari kemarin walaupun ada beberapa yang hampir gosong. Ia berharap hari esok akan lebih sempurna dari hari ini. Setelah ini masih ada kerjaan lagi yang menunggunya.


Ia punya firasat, hari ini segalanya akan berjalan dengan lancar. Ia harap tidak hanya hari, sampai esok dan kapanpun akan selalu berjalan dengan lancar.


__ADS_2