Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
18. Bayangan Hari Esok


__ADS_3

Mandi, setelah selesai membereskan gudang Yusuf melakukan hal itu. Ia senang bisa membereskannya hari ini. Walaupun ia menyadari bahwa ia seharusnya melakukannya sejak dari dulu. Setidaknya gudang itu tidak menjadi sarang ular sekarang.


Sore ini ia sudah membulatkan tekad untuk ke makam ayah dan adiknya. Ia ingin memprotes temuannya tadi ke ayahnya sekaligus menceritakan hal-hal yang telah terjadi belakangan ini. Ia juga ingin bercerita sedikit mengenai Ilyas kepada adiknya.


Suara adzan Dzuhur berkumandang dari setiap tempat. Ia segera menunaikannya seusai mandi. Setelah ini ia ingin tidur dulu sebentar. Libur kerja kalau tidak tidur rasanya seperti bukan libur, sebuah pemikiran yang bagus dari Yusuf.


"Bang, ada tukang rongsokan di depan. Itu yang tadi dijual kan?" Baru saja ia mau tidur, Ilyas memberitahu bahwa ada tukang rongsokan. Kalau dipikir , tukang rongsokan itu geraknya cepat sekali. Yusuf kira beberapa hari kemudian baru ada tukang rongsokan.


"Iya, semuanya ya. Kau yang keluar, aku nerima uangnya aja," Yusuf menjawab dengan malasnya. Dia kurang suka diganggu kalau sedang hendak atau saat tidur walaupun itu mengenai hal yang penting mengenai dirinya .


Selang beberapa menit kemudian, Ilyas datang membawa uang hasil menjual rongsokan. Yusuf kemudian membagi dua uang itu. Ilyas menerimanya malu-malu.


"Tadi kau bilang mau daftar ke rumah makan kan?" Setelah memberi uang itu, Yusuf berkata.


"Iya bang."


"Bagus kau daftar sekarang aja. Bukannya apa-apa, takutnya nanti keduluan orang," Yusuf memberi saran.


"Siap bang. Aku siap-siap dulu ya," usai berkata, Ilyas segera pergi. Dan setelahnya , Yusuf tertidur pulas. Saat tidur rasanya nikmat sekali. Rasanya seperti di surga saking nikmatnya. Untung saja, nyawa dan badannya masih bersatu .


***


"Anu....., tadi aku lihat di depan katanya disini nyari karyawan ya?" Ilyas berkata dengan suara malu-malu didepan calon bosnya. Mungkin efek belum terbiasa bicara dengan orang yang didepannya. Berbeda saat ia bicara dengan Yusuf, rasanya mengalir saja. Ia tak tahu kenapa.


"Iya , terus?" orang diajak berbicara olehnya nampaknya sedang menguji Ilyas yang terlihat sangat grogi.


"Aku mau daftar kalau masih ada lowongan ," Hampir saja Ilyas tak bisa berkata apa-apa.


"Tapi kamu kelihatannya masih kecil. Enggak sekolah lagi?" Yang punya rumah makan bingung . Dia mengerti maksudnya, tapi kalau diterima takutnya dibilang tega banget memperkejakan anak dibawah umur. Tapi ya di satu sisi ia salut dengannya yang berani berkata .


"Udah enggak lagi. Aku udah enggak niat sekolah ."


"Orangtuamu enggak masalah?"


"Enggak."


"Hmm, yang ada tinggal kupas bumbu sama marut kelapa buat santan sama bantuin nyuci piring gelas . Mau?" setelah menimbang-nimbang, akhirnya diloloskan juga. Lagipula nampaknya dia sangat ingin bekerja.


"Aku mau," Ilyas memantapkan hati. Apapun tak apa asal halal.


"Oh ya masalah gaji, sebulan cuma sembilan ratus ribu, enggak apa-apa?"

__ADS_1


"Enggak masalah."


" Besok ya mulai kerjanya. Sekarang kau istirahat dulu, siap siap aja untuk besok," pria yang berada didepannya Ilyas itu berkata.


"Siap bos," wajahnya sumringah. Akhirnya lega juga, Padahal tadi sebelum sampai ke rumah makan ia bingung akan berkata apa nanti. Ia harap ini menjadi pertanda baik untuknya.


Segera ia memacu motornya. Ia tak sabar memberi tahu Yusuf perihal hal itu. Sampai rumah ia langsung membangunkan Yusuf yang masih tertidur pulas.


***


"Bang aku diterima bang," dengan sangat antusias Ilyas berkata dengan keras sekali. Yusuf yang baru membuka mata sebenarnya malas sekali menanggapinya .


"Wah. Selamat ya, semoga lancar," Akhirnya Yusuf buka suara. Mau enggak direspon tapi ia kasihan lihat Ilyas yang begitu tampak bersemangat sekali, jadi ya dengan terpaksa dia berucap.


"Makasih ya bang. Oh ya, kau mau enggak ku suruh masak mie? Bangun tidur tiba-tiba laper. Pake telor ya."


"Siap bos," sambil memberi hormat Ilyas berkata.


"Enggak usah pake hormat segala, kayak sama siapa aja," dengan santai Yusuf berkata setelah melihat kelakuannya.


"Hehe," Ilyas segera ke dapur. Ia segera memasak mie sesuai permintaan Yusuf. Wajahnya masih terlihat senang sekali. Ia memasak sambil membayangkan hari-hari yang akan datang nanti. Soal gaji ia tak masalah, lagipula menurutnya jumlah segitu sudah cukup banyak. Sepadan dengan pekerjaan yang diberikan.


***


"Mienya di meja makan bang," begitu selesai Ilyas segera memberitahu Yusuf.


"Oke, aku kesana. Kita bicara di meja makan ya," Yusuf segera bangun dari tempat tidurnya . Sebelum ia ke meja makan, ia ke kamar mandi dahulu untuk mencuci mukanya agar terlihat lebih segar.


"Enak. Masakan pegawai rumah makan memang mantap kali ," Setelah mencoba sesuap Yusuf memberi komentar.


"Belum resmi pun. Baru besok mulai kerjanya," Yang dipuji nampak malu-malu.


"Tadi gimana ngomongnya? Enggak grogi kan?"


"Enggaklah. Laki kan harus berani," dengan sangat percaya diri, Ilyas berkata.


"Yang bener?"


"Ya kali aku bohong ," Ilyas berkata dengan raut muka yang dibuat sedemikian rupa agar tampak meyakinkan. Bagaimanapun ia ingin terlihat keren di mata orang sudah ia anggap kakak sendiri itu.


"Kau enggak ada ngomong yang aneh-aneh kan sama dia?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


Lupa ya sama pertemuan kita yang pertama . Omonganmu ke aku aneh banget. Padahal aku enggak mau ngapa-ngapain kau . Curigaan banget kau," Yusuf kembali mengingatkannya pada hari itu.


"Aku kan dah minta maaf. Masa masih diungkit terus."


"Iya deh iya. Aku enggak bakal ngungkit lagi," Yusuf langsung berkata begitu saat melihat wajah Ilyas yang cemberut.


"Eh iya, ini masaknya cuma buatku aja?" Saat sadar cuma ada semangkuk mie saja ia langsung berkata begitu .


"Aku enggak laper. Jadi ya cuma buat Abang aja ."


"Aku jadi enggak enak nih makan sendirian."


"Enakin aja. Anggap aja rumah sendiri ."


"Ya emang lagi dirumah sendiri. Kau ini aneh ," Setelah berkata, Yusuf segera nyeruput mie yang masih hangat itu.


"Kau berarti udah enggak ada niatan untuk pulang ya?" lanjut Yusuf.


"Ada sih. Tapi enggak sekarang. Pulang pun paling ke rumah kakek."


"Enaklah punya kakek. Aku dah lama enggak punya."


"Ya nanti kakek aku anggap aja kakeknya Abang juga."


"Mana bisa gitu."


"Ya terserah Abang aja deh. Aku kalah," jarang-jarang yang muda ngalah. Tapi ya Ilyas bingung mau ngomong apalagi.


"Kau kerja bagian apa?"


"Katanya sih paling ngupasin bumbu, marut , sama bantu-bantu nyuci piring."


"Berarti bagian dapur kan."


"Iya. Doain ya bang kerjaanku besok lancar."


"Ku doakan yang terbaik untukmu. Semoga aja ini jadi awal yang baik."


"Amin. Makasih ya bang doanya."

__ADS_1


__ADS_2