
"Lama kau San datangnya," Riski yang sedang sibuk menggoreng ayam saat melihat Hasan datang langsung ngomel.
"Ya maaf. Semalam aku begadang sampai pagi nonton bola."
"Ya kalau itu sih terserah mu. Aku bukannya mau ngatur atau gimana. Tapi tau sendiri kan kalau pagi kayak mana?"
"Iya. Lain kali enggak deh. Janji!" Dengan santainya Hasan berkata begitu. Nampak seperti orang tak bersalah.
"Ya udah," Riski menjawab dengan muka cemberut.
Hasan langsung mengambil piring dan sendok, setelahnya ia membereskan bagian depan. Setelahnya ia mengambil makanan yang sudah matang sembari menunggu nasi matang. Ia sama sekali tidak mau berkata lagi dengan Riski .
***
"Suf, kapan ada waktu kau?" Arif tiba-tiba bertanya begitu. Nampaknya ada hal penting yang ingin ia bicarakan.
"Kenapa rupanya?"
"Kalau malam ini aku ngajak kau enggak masalah?"
"tergantung tempat dan tujuanmu."
"Aku pingin banget beli cincin tapi enggak ada teman."
"Cincin? Untuk apa?"Sepertinya Yusuf mulai menangkap maksud dan tujuan Arif.
"Pingin lamaran juga aku. Dah enggak sabar pingin tidur berdua," Arif mengutarakan apa yang terganjal dihatinya.
"Kok enggak sama calonmu aja? Kalau sama aku kayaknya malah agak gimana gitu. Takutnya malah pegawainya punya pikiran yang aneh-aneh."
"Ya sebenarnya pingin buat kejutan, kalau sama dia kan enggak enggak jadi kejutan.. Mau ngajak siapa juga aku enggak tahu. Ayolah, nanti ku traktir," mukanya terlihat melas kali, Yusuf jadi enggak tega juga, enggak peduli sama omongan orang yang pasti bakal ia temui saat melihat dua orang pria sedang membeli cincin disebuah toko mana yang di beli cincin buat tunangan pula. Tapi ya akhirnya Yusuf luluh juga.
"Ya udah deh. Mau gimana lagi, kasihan juga kau," sebenarnya Yusuf terpaksa juga menyetujuinya.
__ADS_1
"Makasih ya,"senyumnya terlihat lebar.
"Iya, santai aja."
***
"Jadi nongkrong kau semalam?" Saat menaruh nasi di depan Ilyas langsung bertanya pada Hasan yang nampaknya sedang galau.
"Enggak. Kau enggak mau, lagian juga enggak lagi enggak mood aku."
"Dari mukanya nampaknya lagi patah hati nih. Kau kenapa sih?"
"Enggak kenapa-kenapa kok. Lagian patah hati sama siapa? Jomblo kok."
"Iya kah? Dah enggak usah bohong."
"Udah , enggak bohong."
"Iya deh terserah."
***
Arif nampaknya sudah mulai ancang-ancang bakal nikah. Rasanya senang ia mendengar salah satu temannya menikah, di satu sisi ia miris dengan diri sendiri yang nampaknya sangat menyedihkan. Andai bisa menghilang, melihat temannya satu persatu mulai menikah Yusuf rasanya jadi insecure juga.
"Kau kapan rencana mau ngelamar pacarmu itu Suf? Apa kalian udah putus?" Sebuah pertanyaan yang paling ingin dihindari oleh Yusuf akhirnya keluar juga.
"Secepatnya. Aku kan orangnya santai, kalau dibilang putus sih enggak. Alhamdulillah sampai sekarang hubungan kami berjalan mulus."
"Mau enggak Suf double date?" Ajak Arif.
"Double date?"
"Iya. Sekalian biar kenal juga, selama ini kan aku cuma diceritain sama kau gimana pacarmu. Aku kan penasaran, lagian sebenarnya kalau misalnya double date juga kan enggak buruk juga, kan?" Arif membujuk Yusuf.
__ADS_1
"Enggak sih, tapi aku enggak pernah gituan. Lagian lebih enak berdua aja sama pacar. Biar lebih romantis gitu," bagaimanapun juga alasan yang dilontarkan oleh Arif , Yusuf tidak akan pernah mau double date. Pertama karena hubungannya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Dan kedua ia memang canggung jika harus ikutan juga. Ia rasa alasan itu sudah cukup untuk menolaknya.
"Ya terserah mu aja deh. Yang penting nanti malam jadi kan?" Arif menyerah juga.
"Kalau kau kabarin."
***
"Si Hasan kalau diperhatikan kayaknya dia lagi galau. Tapi gengsi buat cerita," saat mengambil ikan nila dari kulkas Ilyas berkata kepada Riski.
"Entah, itu anak emang kadang enggak jelas. Lagian galau kenapa sih? Gara-gara cinta? Kayaknya enggak mungkin deh. Dia pacaran cuma buat mainan aja kok."
"Ya kan manusia bisa berubah. Kali aja kan kali ini dia serius sama satu orang."
"Emang bisa? Nampaknya susah. Enggak ada kata setia dalam kamusnya."
"Kau kan pernah bilang dia suka mainin cewek karena pernah dikhianati sama cewek. Berarti dia pernah setia sama cewek."
"Ya terserah kau aja. Kau enggak mau ikutan nyari cewek juga kayak dia Yas?"
"Belum kepingin. Pinginnya satu aja untuk selamanya."
"Cowok kayak gitu kayaknya dah langka sekarang. Mumpung belum punya istri kan enggak masalah. "
"Punya KTP aja belum . Dah mikir punya istri, kayaknya sih dua tahun lagi bakal nyari aku. Udahlah, aku mau manggang ikan nila dulu."
"Jangan nyampe gosong ya."
"Pernah apa gosong kalau aku manggang?" Ilyas sewot dibilang begitu. Ia rasa selama memanggang tidak pernah yang namanya gosong. Cuma sekali aja pernah kurang matang , selebihnya rasanya sudah baik.
"Enggak kok. Kan aku cuma ngingetin. Kali aja kan gara-gara mikirin Hasan , nila yang kau panggang jadi gosong."
"Ngapa nyebut nama ku? Enggak suka bilang bos," Hasan yang tak sengaja mendengar menyahut dengan nada mengajak Riski gelut.
__ADS_1