
Gerimis turun dengan lembutnya. Rintik kecil itu tak menyurutkan langkah Yusuf untuk menemui pacarnya. Hari ini ia akan berusaha sebaik mungkin untuk mengatakan maksud dan tujuannya yang selama ini terasa di lidah. Tadi ia sebenarnya sudah berkata kepada pacarnya untuk menjemputnya, tapi katanya tidak usah. Kali ini ia ingin pergi sendirian saja.
Yusuf sebenarnya tidak enak hati. tapi Fitri benar-benar tidak mau dijemput seperti biasanya. Sambil menunggu Yusuf terus bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dibalik semua ini? Lagipula tumben kali Fitri dengan mudahnya mau di ajak pergi. Yusuf berusaha menutupi kegelisahan yang ia alami dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
Detik terus berjalan, Yusuf benar-benar tidak bisa tenang. Entah mengapa pikirannya terus saja mengingat mimpi yang ia alami beberapa hari yang lalu . Dalam hati ia selalu berharap agar mimpi buruk itu hanya mimpi saja.
Kira-kira setengah kemudian Fitri datang. Pakaiannya seperti biasa, sederhana namun tetap cantik. Ia nampak seperti bidadari yang dikirim tuhan untuk menjadi teman hingga masa yang tak terbatas lagi, begitu pikirnya saat melihat Fitri datang.
"Udah lama nunggunya?" Tanya Fitri saat ia duduk di tempat yang telah ditentukan.
"Belum kok . Aku juga baru datang. Tumben kali enggak mau dijemput kau. Ada apa rupanya?"
"Hmmmm, pingin aja sih. Sesekali pergi sendiri."
"Kan aku enggak enak sama kamu. Sebagai cowok rasanya gimana gitu jadinya."
__ADS_1
"Santai aja. Aku enggak mempermasalahkan kok," baru selesai dia berbicara, makanan yang dipesan Yusuf sudah datang.
"Makan dulu yuk, baru habis itu ngobrol," Yusuf berkata sambil menyendok makanan yang tersaji di atas meja. Selama beberapa saat mereka terdiam. Nampaknya masing-masing dari mereka menyimpan sesuatu yang sangat penting untuk diucapkan .
"Enak enggak?" tanya Yusuf.
"Enak kok. Enak banget, " jawab Fitri.
"Hmmmm, kita udah dua tahun lebih pacaran . Dah banyak yang udah kita lalui. Kalau misalnya aku pingin hubungan yang lebih serius gimana?" Yusuf bingung harus ngomong apa. Dia sama sekali tidak punya sesuatu yang romantis untuk diucapkan. Semua yang keluar hanyalah spontanitas saja.
"Maksudnya?" Fitri ingin agar ucapannya diperjelas.
"Aku ingin kita bersama sampai maut memisahkan. Aku ingin menjadi ayah dari anak-anakmu kelak. Kau mau enggak nikah sama aku?" Yusuf tidak tahu apakah ia mengatakan maksudnya dengan baik atau tidak. Yang jelas hanya itu saja yang ada di kepalanya.
"Hmmmm, gimana ya?" Fitri berpikir, raut mukanya tiba-tiba berubah .
__ADS_1
"Aku tahu enggak bakal bisa jadi yang terbaik, tapi aku bakal berusaha untuk jadi yang terbaik untukmu," Yusuf berusaha meyakinkan.
"Masalahnya bukan disitu. Aku pingin banget menerima cincinmu. Tapi ...." Fitri berkata. Nampaknya ada sesuatu yang benar-benar mengganjal dihatinya.
"Tapi apa?" Yusuf main asal potong ucapan orang.
"Aku baru tahu kemarin kalau ternyata aku dijodohkan sama seseorang dari kecil. Orang itu anak teman orangtuaku. Waktu itu aku dengar dia meninggal saat berenang di sungai. Tapi setelah tiga tahun berlalu dia muncul lagi, katanya waktu itu ia mengalami amnesia , aku harap ini mimpi . Tapi ternyata aku enggak bisa menolak apa yang sudah direncanakan orangtuaku dari dulu," dengan lirih Fitri bercerita. Dia benar-benar merasa sangat bersalah sekali.
"Sebenarnya aku pingin bilang kemarin, tapi aku tidak menemukan waktu yang tepat," dia lanjutkan perkataannya.
"Kamu enggak ada nolak gitu?" Yusuf bingung harus berkata apa.
"Bagaimana aku menolak? Bagaimanapun juga sebagai perempuan aku tidak bisa menikah tanpa wali. Kalau aku cowok aku lebih memilih kabur saja, mau dibilang durhaka juga enggak peduli. Padahal ini bukan zamannya Siti Nurbaya lagi, tapi kenapa sih masih ada aja perjodohan di atas muka bumi ini?"
"Sampai kiamat juga bakal ada terus yang namanya perjodohan."
__ADS_1
"Aku minta maaf ya? Kemarin aku memaksamu untuk berjanji , tapi aku sendiri yang mengingkari. Aku memang egois, ya?" ucapannya Fitri benar-benar membuat Yusuf kasihan.
"Bukan salahmu kok. Namanya anak berbakti sama orangtuanya kan enggak salah," jawab Yusuf. Dia berusaha menahan rasa sakit di dadanya. Walaupun kedepannya akan berbeda cerita, ia ingin malam ini menjadi panjang. Ia ingin menatap wajah wanita yang menemani selama beberapa tahun ini. Dadanya sesak sekali , tapi ia terus memaksakan diri. Ia tak ingin terlihat lemah bagaimanapun caranya.