
"Maaf, aku rasa hubungan kita cukup sampai disini. Aku cinta sama kamu, tapi sekarang aku punya cinta yang lain," dimalam tanpa bintang terdengar suara yang begitu menyesakkan di hati . Hasan hampir menangis mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka. Setelah beberapa bulan bersama, ternyata dia.....
"Kalau itu mau mu ya enggak masalah. Selama kau bahagia aku juga bahagia. Terimakasih sudah pernah membuatku tersenyum," sambil menahan air mata Hasan berkata . Hasan sebenarnya sangat cinta dengannya. Berbeda dengan wanita lain yang cuma untuk mainan, walaupun tahu dia selingkuh tapi dia pura-pura tidak tahu saja. Kalau memang selingkuhannya bisa buat dia bahagia dengan berat Hasan merelakan.
'Sekali lagi aku minta maaf," pacarnya Hasan itu lantas pergi meninggalkan sesosok tubuh pria yang sedang menahan kesedihannya yang dalam. Ingin rasanya mengejarnya lalu memeluk serta mencium keningnya seperti adegan di beberapa film romantis tapi sayang, badannya seperti mematung. Bahkan ia hampir tak bisa berkata saat pacar atau yang sekarang sudah jadi mantan itu pergi darinya.
***
"Yas, kamu dimana?" Ia tak tahu harus meluapkan kesedihannya, jadi ia menelpon seorang teman yang mungkin bisa dijadikan tempat cerita. Sebenarnya ia berkata sambil menyembunyikan kesedihannya. sakit, tapi yang sudah berlalu pergi tak kan kembali lagi .
"Aku lagi di rumah . Ada apa ya?"
"Bisa kau kesini sekarang?"
"Kenapa?"
"Ya bisa enggak?"
"Ada apa?"
"Nanti ke jelaskan. Intinya sekarang bisa enggak?"
"Ya udah kalau gitu aku ke sana. Oh ya kau dimana sekarang?"
"Bentar, ku bagikan lokasi ku. Di tunggu ya Yas, secepatnya."
Kira-kira setengah jam, Ilyas datang menggunakan jaket berwarna biru gelap . Matanya terlihat masih merah, nampaknya ia tadi sedang asyik menjelajah dunia mimpi yang tak bisa dijangkau jika tidak memejamkan mata. Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan. Benar-benar baru bangun tidur dia .
"Makan yuk," tanpa basa-basi Hasan langsung berkata begitu.
"Enggak salah denger aku? Ku kira ada apa," sambil menguap Ilyas berkata.
"Udah, yuk . Aku yang traktir," Hasan menyeret tubuh Ilyas yang masih nampak setengah sadar.
Ilyas terpaksa mengikuti langkah kaki temannya yang kali ini bersikap aneh. Entah terkena benturan apa sehingga jadi begitu. Mereka berhenti di warung bakso yang terkenal dengan bakso Lavanya.
"Yakin mau makan disini? Kau kan enggak bisa makan pedes San?" Tanya Ilyas. Bukan menyepelekan, tapi dia bicara kenyataan.
__ADS_1
"Yakin, dah yuk masuk," dengan enaknya Hasan menggeret Ilyas masuk.
"Kau kok aneh banget sih San? Ada apa?" setelah mendapat seporsi bakso Ilyas tidak bisa untuk tidak berkata begitu .
"Masa iya? Aneh dimananya?" Ia pura-pura tidak menyadari tingkah lakunya yang aneh. Dan mungkin yang paling aneh adalah di depannya telah tersaji semangkok bakso yang mungkin sangat pedas. Ia sendiri sebenarnya pernah bilang ke Ilyas kalau dia tidak sebenarnya tidak tahan memakan sesuatu yang pedas. Setiap kali makan pedas, pasti akan sakit perut.
"Enggak kok. Ya udah, aku makan dulu ya baksonya," Ilyas tidak ingin berkata lebih jauh lagi.
Segera Hasan memakan bakso yang sebenarnya sudah pasti tidak bisa dihabiskan olehnya. Sebenarnya ia agak menyesal, tapi biar sekalian nangis. Kalau kepedasan kan punya alasan, soalnya kan kalau bilang nangis karena habis dicampakkan oleh seorang wanita rasanya sangat memalukan.
"Yas, menurutmu bodoh enggak kalau masih berharap kembali dengan seseorang yang jelas-jelas terbukti selingkuh?" Sial, mulut ini tidak bisa diam. Hasan langsung memasang muka yang benar-benar aneh. Kenapa bisa mulutnya berkata seperti itu?
"Oh, jadi karena itu kau bersikap aneh? Aku mengerti sekarang," jawab Ilyas. Hasan yang berharap perkataan yang ia ucapkan tadi tidak pernah ada bingung harus menjawab apa.
"Ambilkan air dong, pedas banget gila. Pertama kali seumur hidup makan bakso sepedas dan sebesar ini."
"Yakin enggak sakit perut besok?" sambil memberi minum Ilyas berkata begitu. Masalahnya kalau dia sampai tidak berangkat siapa yang bakal jaga rumah makan? Ilyas sebenarnya mau aja, cuma dia masih tidak paham cara membungkus nasi Padang dengan baik . Ia bahkan belum pernah mencoba membungkus nasi Padang.
"Enggak yakin sih , tapi ya semoga enggak."
"Semoga ya."
"Nanti mau malah ngomong ke Riski. Kan malu aku kalau dia sampai tahu, enggak kebayang gimana cengar-cengir sambil ngeledek aku pas tahu kalau aku lagi ada masalah sama cewek."
"Ya mungkin dia enggak yakin kau bisa nangis karena cewek. Soalnya katanya dia kau itu tukang mainin cewek."
"Parah, kapan dia bilang kayak gitu?"
"Lupa, tapi dia pernah ngomong gitu. Mau ku telpon biar kau percaya?"
"Enggak usah. Teman laknat memang dia, walaupun bener tapi kan enggak harus diomongin juga. Parah," mukanya terlihat cemberut. Dia nampaknya kesal saat mendengar hal itu.
Mendengarnya kok rasanya membuat Ilyas merasa bersalah. Nampaknya kali ini ia salah berbicara. Bakal dibilang tukang adu domba enggak ya kalau begini? Sebenarnya ia tidak bermaksud, tapi menang kadang mulut sesukanya saja berbicara. Ia berharap menghilang saja dari hadapannya.
"Jangan bilang-bilang ya," Demi apapun dia tidak berkata apa-apa lagi. Mati kutu dia.
"Asal jangan keceplosan kau ngomong aku lagi ada masalah sama cewek."
__ADS_1
"Enggak bakal. Kali ini janji , disumpah pocong pun aku berani ."
"Enggak usah main sumpah. Berat kayak rindu. Tapi ini lebih berat sih, soalnya kalau melanggar pasti ada akibatnya."
"Biar kau percaya."
"Iya aku percaya. Kau mau nyobain bakso di mangkuk ku enggak? Aku udah enggak sanggup ."
"Ngapa enggak bakso biasa aja sih kayak aku? Aneh-aneh aja pesannya."
"Ya kan tadi niatnya biar sekalian nangis."
"Ya enggak gitu juga konsepnya. Kau besok enggak berangkat yang bingung aku sama Riski ."
"Kan ada si bos."
"Selama aku disana aku cuma dua kali ngelihat dia datang. Itupun cuma sebentar."
"Dia pasti bakal bantuin kok walaupun terpaksa. Demi rumah makannya jalan."
"Jalan kemana?"
"Dah lah. Susah juga ngomong sama bocah."
"Aku kan emang masih bocah, KTP aja belum punya. "
"Ya , aku kalah. Dah buru habisin bakso ku."
"Gila pedasnya, ini mau bunuh orang ceritanya?" Ilyas yang mencoba sesendok langsung merasakan lidahnya terbakar.
"Entah, bukan aku yang jualan. Pokoknya kalau habis ku kasih hadiah."
"Mobil bukan?"
"Iya, mobil mainan."
"Ya masak mainan sih."
__ADS_1
"Karena kau masih bocah. Emang yang di ketahui bocah selain mainan apa?"
"Iya aku kalah. Tapi lebih mending daripada mainin cewek."