
Saat sedang makan, wajahnya Yusuf melihat Ilyas dengan mata penuh kasih sayang. Dia tahu, Ilyas bukan Febri . Mereka adalah individu yang sama sekali berbeda, walaupun begitu rasa sayangnya akan sama.
Dia sebenarnya sangat khawatir Ilyas yang mengalami kejadian yang sama. Jadi dia bersikap terlalu berlebihan tapi. Sebenarnya dia sadar, tapi ia terlalu takut untuk kehilangan. Cukup sekali saja, ia tak kan mengalami kesalahan yang sama.
"Kenapa bang?" Ilyas sadar sedang diperhatikan sedemikian rupa.
"Enggak kok. Lain kali kayaknya aku enggak usah beli nasi Padang deh . Mungkin lain kali beli di warteg aja," Yusuf memberi alasan .
"Kok gitu? Gini juga enak kok."
"Soalnya kau kan kerjanya di rumah makan Padang, jadi kupikir nanti kau bakalan bosen juga walaupun kayak gini jarang-jarang."
"Terserah Abang aja. Aku kan tinggal makan. "
Besok-besok kalau mau kemana-mana bilang ya. Jangan lagi alasan enggak punya ponsel. Aku dah beliin."
__ADS_1
"Siap bang. Maaf ya, gara-gara aku abang malah jadi repot sampai harus beli ponsel mahal segala."
"Santai aja . Tadi kebetulan juga pas ada rezeki. Enggak usah minta maaf segala."
***
Usai makan, saat sedang dikamarĀ sendiri, Ilyas memandangi ponsel barunya. Ingin rasanya dia mainkan, tapi ia masih merasa bersalah karena hal tadi. Ia masih tak menyangka sikap Yusuf akan sangat berlebihan.
Dia seperti takut kehilangan. Apa ini semua ada kaitannya dengan adiknya ? Sebenarnya ia tak kenal , hanya melihat dari foto saja. Tapi sepertinya dia adalah pribadi yang cukup menarik . Andai adiknya masih ada? Akan seperti apa ya dia?
Tapi mungkin kalau adiknya ada, Ilyas tak akan bisa punya ikatan yang kuat dengan Yusuf. Mungkin sekarang dia masih jadi gelandangan. Motornya juga pasti sudah terjual juga buat biaya hidup.
***
Hari ini banyak sekali yang terjadi. Hal yang menyenangkan, menyebalkan, juga kekhawatiran. Dalam satu hari, perasaannya diaduk . Walaupun begitu, ia tetap bersyukur bisa melewati hari ini dengan baik.
__ADS_1
"Hai Fit, masih marah ya sama aku?" Dari semalam sebenarnya ia masih kepikiran soal Fitri.
"Enggak kok," terdengar suara wanita menjawab.
"Aku minta maaf ya. Sebagai permintaan maaf, aku mau mengajakmu ke konser band favoritmu itu. Aku janji ."
"Aku pegang kata-katamu ," dari suaranya, wanita itu serius dengan ucapannya.
"Siap bos. Aku dah janji juga, kalau aku nggak menepati janji aku siap dihukum," Yusuf berusaha mempertegas ucapannya tadi. Kali ini sepertinya akan menjadi awal yang baru baginya. Hari itu, ia akan memberikan kejutan yang sangat spesial sekali.
Setelah telepon terputus, tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap. Mati lampu ternyata. Untung saja ia menggenggam ponsel. Segera dinyalakan senter ponselnya untuk menerangi sekitarnya.
Ia keluar dari kamar menuju ketempat Ilyas berada. Saat masuk ke kamarnya Ilyas, ia datang dengan lilin yang menyala.
"Abang mau ngepet ya? Sini biar aku jagain lilinnya. Mumpung mati lampu nih," Ilyas berusaha membuat lelucon.
__ADS_1
"Dih, justru aku kesini mau nyuruh kau ngepet. Biar aku yang jaga lilin. Kau pergi nanti lilinnya ku matiin."
"Jahat."