
Yusuf dengan nafas yang terengah-engah berjalan melewati kaki gunung yang rasanya mustahil baginya. Perjalanan baru dimulai, tapi rasanya Yusuf ingin menyerah saja. Efek jarang berolahraga ya begitu, kaki terasa pegal bahkan rasanya ia tak mau diajak berjalan lagi. Mungkin kalau kaki bisa berbicara ia akan berkata kepada Yusuf untuk berhenti saja. Selain kakinya, pundaknya juga sama saja. Tas yang ia pakai terasa sangat berat, berjalan melawan gravitasi membuat beratnya menjadi dua kali.
"Kenapa suf?" tanya temannya yang berada didepannya.
"Ingin istirahat?" katanya lagi.
"Enggak kok. Yuk lanjut , kita harus sampai puncak sebelum senja kan? Aku ingin melihat senja dari puncak gunung," katanya sok kuat sambil berusaha terus berjalan walaupun dipaksakan.
"Ya udah. Nanti kalau udah sampai tengah kita istirahat sebentar ya," katanya temannya itu.
"Siap," Yusuf berkata sambil tersenyum walaupun dalam hati menggerutu. Ia merasa menyesal telah mengikuti ajakannya, walaupun dia juga ingin tahu bagaimana rasanya menikmati malam di puncak gunung. Katanya sih pemandangannya bagus sekali , semoga saja nanti malam tidak hujan.
__ADS_1
Setelah sekitar 2 jam perjalanan, pemandangan yang berada dibawah mulai terlihat indah. Hamparan gedung yang tinggi mulai terlihat dari kejauhan, sawah yang benar-benar luas benar-benar memanjakan mata jika dilihat dari atas. Memang sebagus itu pemandangannya, Yusuf bahkan tidak bisa menahan godaan untuk tidak mengambil gambar.
"Bagus kan pemandangannya?" temannya yang melihat Yusuf berkali-kali mengambil gambar itu berkata.
"Bagus. Kalau dari atas kayaknya lebih bagus sih tapi kita kok kayaknya enggak sampai-sampai ya? Padahal sudah jalan lama banget."
"Sabar . Nanti juga bakal sampai. Aku juga waktu awal-awal naik gunung juga gitu kok. Bahkan lebih parah dari kau, bahkan mungkin kawanku dulu sampai bosan mendengar keluhan ku," temannya Yusuf itu mulai bernostalgia.
"Awalnya sulit, tapi lama-kelamaan pasti terbiasa," katanya lagi.
"Iya sih , kayak kita mengejar mimpi pasti ada aja hal yang membuat kita menyerah. Kalau misalnya kita terus maju dengan sungguh-sungguh, ada hal manis yang menunggu kita. Contohnya kayak pemandangan matahari saat terbenam," Yusuf menimpali. Dia nampaknya tidak mau kalah dengan temannya itu.
__ADS_1
"Makanya kamu terus semangat biar bisa ngelihat matahari terbenam dari puncak gunung. Udahan ya istirahatnya, kita paling satu jam lagi dah nyampe puncak gunung. Setelah itu kamu bisa istirahat sepuas," temannya bingung harus berkata apa jadinya dia mengatakan hal itu. Lagipula sudah hampir setengah jam mereka beristirahat.
"Oke. Kau bilang aku bisa istirahat sepuasnya kan? Berarti yang mendirikan tendanya kau kan?" tanya Yusuf.
"Ya enggak gitu juga kali. Aku yang mendirikan tenda sendiri tapi kau enggak boleh masuk ya?"
"Ya enggak gitu juga kali. Ya udah yuk kita lanjut lagi, kelamaan istirahat sampai puncak nanti malah udah malam kan enggak seru," Yusuf bangkit dari duduknya dan segera berjalan. Perjalanan menuju ke puncak entah mengapa makin terasa berat, ada saja hal yang membuatnya kesusahan. Entah itu akar pohon yang membuat kakinya terlilit, ular yang nyaris menggigitnya dan lain sebagainya.
"Akhirnya," setelah benar-benar yakin telah sampai puncak, Yusuf melihat pemandangan sekitar yang terlihat sangat indah sambil bernafas lega. Untuk pertama kalinya dalam hidup ia melihat pemandangan dari atas gunung.
"Buat tenda dulu yuk biar nanti bisa santai."
__ADS_1
"Sekarang?"
"Tahun depan suf!"