Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
27. Hujan Pagi Hari


__ADS_3

Suara adzan subuh bergema dari segala penjuru, Yusuf segera bangun untuk sholat subuh. Dari mukanya, terlihat ia mengantuk. Saat sudah keluar dari kamar pun, masih terlihat dia beberapa kali menguap. Pagi terasa masih dingin . Terdengar suara tetes air hujan berjatuhan dari langit.


Yusuf setelah sholat subuh ia segera membangunkan Ilyas. Saat ia hendak melakukan niatnya itu, terlihat olehnya sebuah foto tergenggam ditangannya Ilyas. Sekilas terlihat foto keluarga. Semuanya memasang muka senyum. Sungguh foto yang sangat indah.


Mungkin dia kangen dengan kedua orangtuanya. Lagipula sudah lumayan lama ia tidak bertemu. Waktu itu mungkin walaupun sudah direncanakan untuk kabur dari rumahnya , Ilyas tidak sepenuhnya menginginkannya. Di dalam hatinya pasti menginginkan kebahagiaan didalam keluarga. Lagipula anak seusianya masih labil dalam mengambil keputusan. Tapi itu wajar, bahkan banyak juga orang telah dewasa mengambil keputusan dengan seenaknya saja. Tidak memikirkan ini dan itu.


"Ada apa bang?" belum juga dibangunkan, dia sudah membuka matanya duluan.


"Tadinya mau bangunin kau. Rupanya kau dah bangun duluan. Sholat sana, keburu waktunya habis," Selesai berkata Yusuf segera pergi dari kamar itu. Hari ini ia kerja, jadi dia harus bersiap-siap.


Ilyas melakukan hal yang sama, setelah sholat ia segera bersiap-siap untuk kerja. Hari ini katanya ia harus berangkat lebih awal dari kemarin.


"Sarapan dulu Yas, aku dah masak nasi goreng ," Ilyas tak bisa menolak, selesai makan ia langsung pergi ke rumah makan tempat ia kerja. Gerimis di pagi hari bukan masalah , lagipula tempatnya tidak terlalu jauh .


***


"Yas, kau pukul es batu dulu ya," Riski yang sedang sibuk menggoreng ayam langsung berkata begitu saat Ilyas baru tiba.


"Ok," Jawab Ilyas bersiap.


"Ayamnya dah matang Ki? Kalau dah langsung bawa ke depannya ya!" Terdengar suara Hasan yang sedang membawa nasi ke depan. Nampaknya ia sudah terbiasa membawa nasi sebanyak itu sekaligus. Kemarin Ilyas waktu pertama kali membawanya merasa berat sekali. Senior memang yang terbaik.


Ilyas memukuli es batu yang sudah disiapkan . Tangannya rasa ikut membeku saat itu, apalagi hujan yang tadi cuma gerimis menjadi hujan yang lumayan deras. Tangannya seperti mati rasa. Di dalamnya hati ia mengeluh.


"Udah siap Yas? Ini taruh dulu didepan," Belum juga selesai, sudah disuruh yang lain. Ilyas segera mengambil ayam goreng yang berada ditangannya Riski. Begitu sampai depan, ia takjub dengan Hasan yang sedang membungkus nasi dengan kertas. Walaupun sebenarnya itu hal yang sederhana, tapi entah kenapa terlihat keren di mata Ilyas. Ia ingin suatu saat bisa melakukannya juga.

__ADS_1


"Banyak kali ," Ilyas berkomentar saat menaruh ayam goreng ditangannya.


"Kemarin ada orang pesan nasi bungkus katanya untuk acara apa gitu, lupa," Jawab Hasan .


***


Yusuf segera bersiap untuk kerja, hujan seperti ini bukan halangan. Ia segera memakai jas hujan kemudian mengemudikan kendaraannya melewati genangan air disepanjang jalan. Kantor terlihat masih, mungkin saja karena cuaca. Dua hari tidak kekantor rasanya kangen banget, serasa kayak udah lama enggak kesini.


Sebelum mulai bekerja, ia sempatkan membuat kopi panas dulu biar lebih semangat. Setelah itu ia segera menghidupkan komputer yang ada didepannya. Kemudian ia mulai bekerja.Hari ini sepertinya dia akan lembur . Karena kelihatannya ia juga harus menyelesaikan pekerjaan yang kemarin juga.


Saat melihat pekerjaan yang cukup banyak hari ini, rasanya ingin mengeluh, tapi kalau cuma mengeluh saja pekerjaannya tak selesai. Yang perlu ia lakukan hanyalah menyelesaikan apa yang harus dikerjakannya saja.


Sambil mengerjakan, didalam pikirannya ia berandai-andai jadi CEO yang bebas kemana aja , jalan-jalan sambil cari pasangan yang bisa dinikahin kontrak aja uang mengalir terus. Seolah-olah bukan mereka yang mencari duit, tapi duit yang mencari mereka. Tapi untungnya ia pegawai kantoran, kalau jadi pegawai pabrik gimana capeknya lembur enggak kebayang.


***


Ilyas memanggang ikan diluar , ditempat yang atasnya telah beratap. Di sana juga dipenuhi batok kelapa yang digunakan untuk membuat api . Ada juga mesin parut disana. Sepertinya memang dibuat untuk difungsikan sebagai tempat untuk memanggang dan memarut kelapa agar lebih nyaman.


Disaat sedang menikmati hujan, tiba-tiba terlintas di otaknya saat kecil dulu. Ia senang sekali mandi di air pancuran. Masa yang sudah lewat, kenapa ya selalu saja dirindukan?


***


Arif hari ini tidak berangkat karena sakit. Yusuf tak tahu sakit apa dia, yang jelas kalau tak ada Arif rasanya sepi sekali. Mungkin karena sudah biasa mengobrol dengannya saat bekerja untuk menghilangkan stress sejenak. Dengan yang lainnya sebenarnya Yusuf dekat dengan beberapa orang, tapi tetap saja ia merasa kesepian.


Pekerjaan yang menumpuk hari ini sebenarnya bisa melepaskan sedikit kesepian yang ia rasakan. Tapi ya lelah juga harus terus terpaku didepan layar komputer. Lama kelamaan pedih juga matanya. Tanpa Arif rasanya bosen, sepi, gabut juga. Rasanya kayak ada yang kurang.

__ADS_1


Tapi karena Arif tidak masuk hari ini, Yusuf berniat untuk pergi ke warung pecelnya Jamila. Ia ingin minta maaf kejadian tempo hari yang menurutnya terlalu kekanakan. Padahal persoalan yang pernah terjadi antara mereka sudah sangat lama , tapi Yusuf masih membawanya. Rasanya sudah tidak perlu juga tidak penting sama sekali untuk dibahas lagi. Mumpung tidak ada, kalau ada takutnya nanti Arif cemburu padanya. Ia tak ingin persahabatan yang dijalin bakal rusak karena hal sepele.


Karena udara yang dingin, kopi yang dibuatnya sudah habis padahal hari belum siang . Biasanya kalau membuat kopi , segelas saja bisa awet sampai siang. Kali ini beda, mungkin pagi ini tidak cukup untuk dua gelas saja. Ada kemungkinan bisa lebih dari itu.


***


"Enak kali disini hangat. Enggak kayak didepan, dingin," Hasan yang menemui Ilyas yang sedang memanggang berkata demikian.


"Tumben kesini?" Ilyas kaget melihat Hasan .


"Lagi gabut. Hujan gini derasnya siapa yang mau beli?" Hasan menjelaskan.


"Bisa gabut juga ya. "


"Ya bisalah. Lu pikir aku apaan enggak gabut? Robot gitu?"


"Enggak sih."


"Gimana tadi pagi mukulin es?"


"Biasa aja. "


"Hebat. Aku dulu waktu pertama mukulin es batu rasanya tangannya ikut beku juga. Mana bungkusin es teh manis banyak banget lagi. Untung sekarang bagian depan jadi enggak perlu bungkusin gituan lagi."


"Tadi juga banyak banget. Aneh, hujan gini malah pesannya es teh, kalau aku sih mending teh hangat aja. "

__ADS_1


"Ya itu kan lu . Selera orang beda , walau terlihat aneh tapi ya itulah mereka. Lagian juga yang pesan bayarnya pake duit kok. Ya terserah mereka aja. Yang penting mereka bahagia aja."


__ADS_2