Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
11. Pulang


__ADS_3

Malam yang panjang di sebuah ruangan rumah sakit. Fitri tak bisa tidur hingga hari sudah larut. Entah mengapa, rasanya ada yang mengganjal di hatinya. Besok dia akan pulang, pasti rasanya menyenangkan sekali. Akhirnya dia tak perlu berada di ruangan yang dipenuhi aroma obat obatan.


Disatu sisi, rasanya berat sekali untuk meninggalkan ruangan yang aromanya kurang ia sukai itu. Ia takut perhatian kekasihnya akan berkurang sebab jika di rumah , takkan bisa setiap hari bersua. Disaat sedang sendirian di rumah pasti bakal salah, ada orang pun juga salah. Apapun itu , ada dampaknya masing-masing.


Akhir-akhir ini orang tua nya nampak aneh. Sikap mereka begitu dingin pada Yusuf, hingga membuat dia sendiri bingung harus bagaimana dan akhirnya memilih pergi. Fitri menyadari hal itu, tapi ia tak ingin menanyakan hal tersebut terlebih dahulu. Ia takut jika menanyakan itu akan membuat masalah nantinya. Biar waktu saja yang menjawab.


Dia mulai berspekulasi aneh. Mulai dari orangtuanya di hipnotis lah, cuma akting doang, atau yang lebih parah orangtuanya diam-diam sudah menemukan orang lain untuk menjadi jodohnya. Yang terakhir baginya lebih masuk akal. Karena ia juga sering melihat di film yang ia tonton. Walaupun katanya ini bukan zaman Siti Nurbaya, tapi tetap saja ada yang namanya kawin paksa. Walaupun begitu ia tak ingin yang terakhir ini terjadi.


Jam 02.00 sudah, tapi mata masih tak bisa tidur. Pikirannya sedikit demi sedikit mengingat hari dimana ia ingin sekali pulang kerumahnya. Hari itu , rasanya ia kembali jadi anak-anak.


***


"Suf, aku bosen di sini terus. Tiap hari cuma bau obat yang ku cium," sore itu Fitri berkata.


"Kalau udah waktunya pasti bakal pulang kok. Sabar itu sebenarnya enggak ada batasnya , " Sambil tersenyum Yusuf berkata dengan lembut.


"Sabar sih sabar. Tapi rasa bosen itu terus membesar. Aku udah enggak bisa menahannya lagi ."

__ADS_1


"Semuanya juga demi kebaikanmu. Aku bakalan ada terus kok buat kamu. "


"Percaya kok. Kamu juga udah membuktikan itu."


"Kalau aku bisa, aku ingin kita bertukar posisi aja. Biar aku ngerasain yang kamu rasakan."


"Jangan punya pikiran yang enggak-enggak deh. Kalau kau yang sakit aku yang sedih juga. Parah kau ini," niatnya mau romantis, tapi yang didapat hanya Omelan dan Fitri.


"Parah gini juga kau suka ," dengan sangat percaya diri Yusuf berkata .


"Gini juga banyak lho yang mau sama aku....."


"Ya kenapa lu milihnya aku? pasti banyak tuh yang lebih semok, lebih bahenol dari aku," belum juga selesai ngomong, Fitri udah langsung motong aja .


"Soalnya kamu yang paling istimewa. Cuma kamu yang bisa menancapkan panah asmara di hatiku ini."


"Gombal."

__ADS_1


"Aku enggak gombal kok. Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Hari ini konser SO7 diadakan ya? pingin banget lho nonton. Bosen disini, enggak bisa kemana-mana. "


"Lain kali kita nonton bareng ya sayang."


"Pinginnya sekarang. Ayo nonton sekarang," matanya terlihat seperti anak kecil yang meminta boneka yang ia sangat sukai.


"Sekarang kau masih sakit. udahlah, jangan kayak anak kecil," Yusuf berusaha memberi pengertian.


"Konser yang ini bener-bener spesial. Coba aja aku enggak disini. Pasti enggak akan ketinggalan nonton konser. Rasanya enggak rela gitu enggak bisa nonton."


"Kan aku dah bilang tadi. Kalau dah waktunya kau pasti bakal keluar dari sini. Kalau kau cepat sembuh, pasti aku bakal ngajak kau nonton konser SO7."


"Ngomong sih enak. Waktunya kapan juga siapa yang tahu. Kau sih enggak tahu gimana bosennya aku disini."


"Aku ngerti kok. Makanya aku selalu berusaha menemanimu sesering mungkin. Aku sayang kamu ," Yusuf berusaha terlihat dewasa untuk mengimbangi Fitri yang dari tadi bersikap kekanakan.

__ADS_1


__ADS_2