
Hari Minggu kali ini tak seperti biasanya, untuk pertama kali Yusuf memilih untuk tidak tidur. Bukan karena ia ingin, tapi karena ia takut memimpikan Fitri lagi. Ia tidak ingin melihatnya menderita walaupun hanya di dalam mimpi. Ia ingin melihatnya tersenyum.
Karena tidak ingin tidur , setelah sholat subuh ia langsung keluar menggunakan sandal kemudian duduk santai di teras rumah. Tadinya ia berniat untuk lari pagi, tapi memang rasanya kakinya berat sekali untuk berlari walaupun udaranya cocok. Dari Senin sampai Sabtu adalah waktu bekerja, jadi di hari Minggu ia tidak ingin merasakan capek. Cukup saat bekerja saja ia merasa lelah.
Pagi ini, biasanya ia sedang memasak untuk sarapan berdua. Tapi kali ini rasanya benar-benar malas, ia kepikiran kekasihnya. Walaupun mimpi cuma bunga tidur namun kadang ia adalah pertanda suatu peristiwa baik itu baik maupun buruk . Kalau misalnya nanti kejadiannya sama persis dengan di mimpi bagaimana? Yusuf benar-benar takut .
Selain takut ia juga jadi minder sendiri. Bagaimanapun juga dia berasal dari golongan orang berada. Kalau misalnya di jodohkan pasti dengan orang berada pula. Zaman boleh makin modern, tapi ya namanya kasta sampai dunia kiamat pun bakal terus dipermasalahkan. Sedangkan ia hanya orang biasa yang hidup tanpa orang tua. Apa mungkin mendapatkan restu?
Apa sebaiknya putus saja? Mengingat cinta yang telah dibangun dengan berbagai macam pasang surut akan kandas juga pada waktunya. Tapi kan cinta sampai kapanpun harus diperjuangkan. Kalau tidak dengannya terus akan kemana harus melabuhkan hati? Satu pertanyaan yang sampai kini Yusuf tak tahu jawabannya.
***
"Ini rumahmu? Gila gede banget ya?" saat mengantar pulang , Yusuf yang baru pertama kali melihatnya berdecak kagum . Baginya itu lebih mirip istana.
"Alhamdulillah, cuma ya sepi banget. Rumah segitu biasanya cuma ditempati aku sama abang. Orangtuaku semuanya selalu sibuk dengan kerjaan masing-masing. Walaupun selalu menyempatkan diri untuk pulang tapi rasanya sepi banget."
"Bersyukur aja. Paling tidak masih punya orang tua."
"Iya sih. Aku bersyukur. Makasih ya udah mau mengantar aku pulang."
__ADS_1
"Kita kan sekarang udah jadi sepasang kekasih. Jadi ya udah seharusnya kan."
"Ya udah . Mau mampir enggak?"
"Enggak. Aku duluan ya," Yusuf kemudian langsung pergi setelah berkata begitu. Entah mengapa saat itu rasanya tidak mungkin untuk menikahi dia yang berasal dari kelas atas.
Yusuf pulang dengan menahan rasa kecewa. Ia pikir selama ini pacarnya dari golongan yang sama dengannya, ternyata ...tapi nasi sudah menjadi bubur. Perasaan takut kehilangan terus tumbuh di dalam dirinya. Walaupun sudah tahu ia tetap melanjutkan hubungannya walaupun kadang ia membahas soal hal itu.
Kalau putus sekarang apa tidak menjadi soal ya? Lagian abangnya juga sudah mengatakan padanya untuk meninggalkan adiknya. Orangtuanya juga seperti memberi isyarat. Kenapa masih ada rasa takut kehilangan? Padahal kalau kehilangan lelaki pecundang seperti dirinya bagi Yusuf tidak masalah. Ia sudah merasa bahwa ia tak pantas untuk wanita manapun. Lagipula wanita mana yang mendambakan sosok pria pengecut macam dirinya?
Tapi apa alasannya ya untuk putus saja? Kan tidak mungkin juga ia memutuskan secara tiba-tiba. Tapi kalau tidak begitu ia harus bagaimana? Sambil mengaduk kopi yang mulai dingin ia berpikir.
***
"Enggak. Cuma mikir mau gimana kedepannya. Pingin lho buat usaha sendiri cuma bingung mau usaha apa tapi kayaknya bosan juga jadi karyawan. Pingin lho ngerasain jadi bos," Yusuf tidak ingin jujur.
"Masa iya? Pasti mikirin cewek kan?" Ilyas kurang percaya.
"Ya terserah aja deh. Kau kapan liburnya?"
__ADS_1
"Entah, ada apa rupanya nanyain kapan aku libur. Mau diajak kemana emangnya bang?"
"Ke surga."
"Nunggu kiamat kalau gitu. Berangkat dulu aku bang . Doain ya semoga hari ini berjalan dengan mulus."
"Selalu kalau itu sih . Bensinnya masih ada enggak?"
"Masih Alhamdulillah. Ya udah duluan bang, enggak enak sama yang lain," setelah berkata dia langsung ngacir. Sementara Yusuf tidak mampu berkomentar apapun. Dia hanya diam saja melihatnya.
"Kenapa ya susah kali ngomongin soal gini ke dia? Walaupun masih kecil gitu kan harusnya enggak ada salahnya," Yusuf bergumam sendirian. Kadang ia ingin sekali membicarakan hal itu, tapi rasa gengsi telah memenuhi jiwanya.
"Udah lah, makan apa ya pagi ini?" segera dihabiskan segelas kopi yang sudah dingin itu kemudian masuk kerumahnya bersiap untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.
Sesampainya di dapur rasanya kok malas banget untuk sekedar mengiris bawang, jadinya dia memutuskan untuk membeli nasi di warteg dekat rumahnya. Harganya sebenarnya lumayan mahal , cuma karena tidak makan apa-apa akhirnya dibelinya juga. Ia makan dengan lahap makanan yang dipesan tadi.
Usai makan ia memutuskan untuk berjalan-jalan dengan motor daripada tidur. Hari Minggu yang biasa dihabiskan untuk tidur, kali ini ia berusaha untuk tidak melakukannya. Sebenarnya ia tidak yakin bisa, cuma yang penting ia akan berusaha.
Ia berjalan melalui banyak tempat bersejarah selama dua tahun mengenal pacarnya . Dia ingin bernostalgia sedikit ditempat yang dulu banyak canda tawa yang keluar. Walaupun hubungannya sekarang makin tidak jelas, dia tetap ingin mengingatnya.
__ADS_1