Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
31. Kebohongan Saat Senja


__ADS_3

Ilyas masih saja kepikiran apa yang dibilang Hasan tadi pagi. Ia masih meragukan kebenaran cerita itu sebelum melihatnya sendiri. Tapi ia bingung bagaimana cara. Rasanya tak ada cara yang cukup efektif untuk mengikuti Riski pulang. Padahal sudah dari siang ia memikirkannya, tapi masih belum juga ketemu.


Rencananya, pulang kerja ia ingin main ke rumahnya Riski. Biar semuanya jelas. Kali aja kan Hasan asal ngomong . Tapi ia sebenarnya segan juga mau bilang ke Riski.


"Anu...., Boleh enggak habis ini aku main ke rumahmu?" saat Riski sedang mengunci pintu rumah makan, Ilyas memaksakan diri untuk berkata.


"Hmmmm ... " Riski nampak berpikir dulu. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal.


"Boleh," Setelah berpikir agak lama akhirnya Riski memperbolehkan.


"Beneran?"


"Iya," Riski menjawab agak terpaksa. Ada rasa enggan, tapi dia tak punya alasan lain yang terdengar masuk akal.


***


"Yok masuk, kita udah sampai," Mungkin kira-kira setengah jam perjalanan akhirnya sampai juga dirumahnya Riski. Dari luar terlihat lumayan juga. Rumahnya walaupun tidak begitu lebar terlihat bagus. Dengan dinding beton bercat kuning pucat.

__ADS_1


Ilyas mengikutinya masuk kedalam rumah. Kemudian ia duduk ditempat duduk yang terbuat dari kayu. Sementara Riski masuk ke dalam untuk mandi. Tak berselang lama, Riski yang sudah terlihat lebih segar keluar dengan membawa minuman.


"Sepi banget ya rumahku? Ya maklum aja aku lagi ditinggal. Orangtuaku lagi pergi ketempat saudara. Katanya ada acara disana, mau ngajak aku tapi akunya kerja," setelah menawari minum Riski berkata begitu.


"Acara apa?"


"Ada saudaraku nikah. Mungkin seminggu lagi pulangnya, katanya mau sekalian ikut nganter manten," ucapnya lagi.


"Kau kapan nyusul?" Ilyas nyeletuk tiba-tiba.


"Lagian kau masih kecil dah ngomongin nikah. Perkara nikah enggak segampang itu, ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Beda lagi sama kucing, kawin tiap hari enggak peduli dia . Oh ya, kau baru lulus SMP kok dah pingin kerja? Enggak pingin sekolah lagi apa?" Daripada ngomongin soal nikah, Lebih baik cari topik yang lain.


"Mungkin kalau sekolah lagi pingin. Tapi ya keadaan yang mengharuskan begini. Mau gimana lagi?"


"Keadaan yang mengharuskan? Emang ada apa?"


"Gimana ya bilang. Pokoknya ceritanya panjang banget kalau diceritain."

__ADS_1


"langsung intinya aja kalau gitu ."


"Ya gitulah Pokoknya," Ilyas tak tahu harus berkata apa. Dia juga tidak ingin menceritakan perihal orangtuanya.


"Aneh kau," Riski benar-benar tidak mengerti ucapan Ilyas tadi.


"Hasan pernah enggak kesini?" Ilyas berusaha mencari topik lain. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi soalnya.


"Pernah sekali dua kali dulu. Tapi sekarang enggak pernah kesini lagi, aku juga jarang kerumahnya dia. . Cuma ya kalau pingin main seringnya kami nongkrong aja. "


"Biasanya dimana kalau nongkrong?"


"Enggak pasti. Kadang dipinggiran jalan, kadang di cafe ," jawab Riski.


"Hasan itu orangnya kayak mana sih?"


"Dia orangnya baik, pengertian, playboy juga. Sekali pacaran bisa 3 atau kadang 5 sekaligus. Tapi aslinya dia setia . Mainin cewek kayak gitu sebenarnya cuma pelampiasan aja gara-gara pacarnya selingkuh. Tapi aku harap suatu saat dia bisa berubah."

__ADS_1


__ADS_2