
Tepat saat adzan Maghrib berkumandang Yusuf kembali ke kosnya. Entah mengapa rasanya lega sekali, walaupun sebenarnya ia berkata dengan terpaksa tapi rasanya ada sesuatu yang membuat hatinya tenang.
Setelah memakan sate ia langsung sholat Maghrib sebelum rebahan. Setelah sholat ia mendengar ada sedikit kegaduhan di samping kamar kos nya. Perasaannya jadi tidak enak mendengarnya. Soalnya menurut temannya yang sudah menjadi penghuni kos selama bertahun-tahun kos di sebelahnya sudah lama kosong.
Tidak ada yang berani berada di sana setelah mendengar cerita mengenai penghuni sebelumnya yang meninggal bunuh diri di sana dengan cara meminum banyak obat-obatan terlarang. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang akan betah untuk menghuninya lagi. Lagipula orang bunuh diri juga arwahnya sudah berada di alam lain. Yusuf tidak percaya adanya arwah gentayangan, tapi dia tetap percaya bahwa ada makhluk selain dirinya yang tidak nampak oleh mata.
"Baru pindah ya?" sebenarnya agak canggung juga mengobrol dengan orang baru, tapi hal itu tetap saja dilakukan olehnya.
"Iya baru. Salam kenal ya, semoga bisa jadi tetangga yang baik," dengan penuh senyum orang yang sedang sibuk merapikan barang-barangnya berkata.
"Sebelum kau kesini dah denger rumor tentang orang yang bunuh diri di kos mu itu?" tanpa basa-basi Yusuf langsung berkata.
__ADS_1
"Udah. Tapi ya karena itu juga jadi harga sewanya agak murah. Lagipula aku cuma enggak punya rencana bakal tinggal disini lama," jawabnya santai.
"Kan biasanya ada tuh di film orang mati bunuh diri terus gentayangan di tempat dia mati," Yusuf masih kurang yakin dengan jawaban yang di berikan orang itu.
"Biasa aja sih. Sekalian di ajak ngobrol kalau aku sih. Aku malah senang juga ada temannya. Aku ini dah biasa melihat hantu jadi ya enggak ada perlu ditakutkan selain sang pencipta," jawaban tetap dengan nada santai.
"Ya udah , ngomong-ngomong kamu kenapa nge kos?" tanya Yusuf, kali ini ia juga membantu tetangga kos nya itu.
"Bapak tiri kamu jahat ya?"
"Enggak sih. Cuma kalau aku enggak mau serumah sama dia emangnya enggak boleh?"
__ADS_1
"Ibumu enggak bakal khawatir sama kamu?"
"Enggaklah. Kalau dia sayang sama enggak mungkin dia nikah lagi," jawabannya santai namun terdengar agak kekanakan. Sebenarnya jawabannya itu menunjukan sebuah keegoisan, tapi namanya manusia tidak akan pernah lepas dari sifat yang katanya buruk itu.
Tapi mungkin apa yang dilakukannya itu adalah hal yang wajar walaupun tidak bisa dibilang benar juga. Yusuf juga mungkin kalau ayahnya menikah lagi mungkin ia juga bisa melakukan hal yang sama . Dirinya tidak sepenuhnya salah.
"Ya enggak juga sih," jawab Yusuf. Mendengar jawabannya itu Yusuf tidak tahu harus berkata apa. Dipikir juga wajar jika dia tak ingin memberitahu masalah yang sebenarnya. Kenal aja baru, daripada dianggap menjengkelkan Yusuf ingin mengganti topik, tapi dia tak tahu topik apa yang bagus untuk diperbincangkan.
"Sebagai tetangga biar enak manggilnya boleh enggak aku tahu namamu?" setelah berpikir beberapa saat Yusuf bertanya.
"Aku Tama, kamu?"
__ADS_1
"Aku Yusuf," obrolan yang berlangsung sangat singkat sekali. Setelahnya mereka seperti canggung untuk memulai obrolan lagi. Setelah selesai membantu Yusuf langsung pamit. Mungkin karena baru pertama kali wajar jika canggung, Yusuf berharap kedepannya ia bisa akrab dengannya.