
"Maafin aku Suf, ini semuanya salahku. Aku harap kau membenciku. Walaupun terasa sakit tapi itu lebih baik untukmu," sambil memeluk bantal, Fitri berkata sendirian sambil menangis. Walaupun ia yang berkata kepada Yusuf untuk meninggalkannya, nyatanya di hati masih tersisa rasa sakit yang amat sangat.
Dilihatnya pemandangan hujan malam hari dari jendela kamarnya. Rasanya ia ingin sekali keluar. Ia mempunyai firasat Yusuf yang berada entah dimana sedang menumpahkan emosinya di tengah hujan. Ia ingin memeluk dan menghiburnya, walaupun sekarang sudah tidak mungkin.
"Padahal aku yang memaksamu untuk berjanji, tapi malah aku yang melanggarnya. Aku bodoh, kenapa sih kamu harus kenal aku? Andai kamu kenalnya orang lain, pasti kamu sudah bahagia sekarang," kembali Fitri bergumam. Ia mengingat hari dimana ia pernah berkencan di sebuah rumah makan yang katanya romantis. Di sana Fitri meminta dengan sangat untuk Yusuf berjanji tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi.
Dilihatnya foto kedekatan mereka berdua. Hari-hari yang penuh canda tawa itu terasa jauh sekarang. Tidak mungkin lagi terulang semuanya itu . Obrolan yang dilakukannya bersama sang ibu adalah penyebabnya, ia masih tak percaya tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
***
"Kamu masih ingat Daniel kan?"
"Daniel siapa?" Fitri bertanya. Ingin memastikan saja soalnya nama itu tidak dipakai oleh satu orang. Ada ratusan atau mungkin jutaan orang memakai nama yang sama.
"Daniel temanmu dari kecil itu lho."
__ADS_1
"Oh itu, dia bukannya dia sudah menghilang beberapa tahun lalu ya?"
"Dia kembali lagi. Sebenarnya dia sudah ditemukan saat kamu berada di rumah sakit. Tapi karena kondisinya juga masih amnesia jadi ya belum ada niatan untuk memberitahukan ini kepadamu. Sekarang ini ingatannya mulai pulih, ia menanyakan dirimu terus sepertinya dia punya perasaan denganmu."
"Eh benarkah?"
"Iya. Lagipula wajar sih, nantinya kan kamu menikah dengannya."
"Menikah dengannya? Maksudnya apaan? Aku tidak mengerti. Lagipula aku sudah punya pacar juga."
Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Fitri kaget mendengarnya. Ia benar-benar tidak menyangka.
"Aku lagi enggak mimpi kan?"
"Enggak.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku menolak? Lagipula aku tidak pernah punya rasa dengannya," Fitri menyampaikan keberatan hatinya.
"Memangnya kamu punya alasan apa buat menolak? Soal rasa itu gampang. Nanti juga kalau sudah menikah bakal timbul rasa cinta dengan sendirinya. Papa sama Mama juga dulu dijodohkan , bahkan kami belum pernah berbicara sebelumnya sampai sekarang bisa langgeng. "
"Tapi kan...."
"Udah, enggak usah pakai tapi. Kamu itu harus nurut sama ibu. Kalau kamu nekad mau nikah sama dia ibu tidak akan memberikan restu untuk selamanya. Kamu juga enggak bakal ibu anggap sebagai anak lagi."
***
Saat mengingat obrolan yang disampaikan oleh ibunya kemarin malam rasanya dia ingin mati . Sebagai anak ia harus menuruti kehendak orangtuanya, tapi sebagai manusia ia ingin memilih jalan hidupnya sendiri. Lagipula yang menjalani juga bukan orangtuanya, kenapa mereka memaksa untuk menerima jodoh yang diberikan tanpa ada rasa?
Daniel, dia mengenalnya sejak kecil. Orangnya baik, ganteng juga, tapi suka mainin perempuan. Fitri tak tahu alasannya, yang jelas selama ia mengenalnya ia selalu begitu. Fitri jadi takut untuk menuruti kehendaknya orangtuanya. Rasanya ingin kabur saja, tapi ia tak punya keberanian. Walaupun selama ini Daniel tidak pernah mempermainkannya, tapi rasa takut itu terus meningkat.
Berbeda sekali dengan Yusuf yang terlihat lebih dewasa walaupun kadang sedikit kekanakan. Dia nampaknya selalu berpikir ratusan kali sebelum bertindak. Nampaknya dia juga setia. Kenapa sih harus ada perjodohan? Andai saja tidak pasti Fitri lebih memilih Yusuf untuk jadi pendampingnya hingga akhir hayat.
__ADS_1
Saat bertemu dengan Yusuf tadi sebenarnya selama perjalanan ia membayangkan apa yang akan terjadi jika ia mengatakan perihal perjodohannya. Ia merasa sangat bersalah karena baginya Yusuf adalah orang yang terbaik baginya. Karenanya saat Yusuf menawarkan diri untuk menjemputnya dia tak mau.