Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
24. Sore, Hujan dan Dirinya


__ADS_3

"Udah siap?" Tanya abangnya Saat melihat keluar dari kamarnya. Pakaiannya memang biasa saja. Tapi entah mengapa terlihat cantik sekali . Kalau bukan abang pasti udah dinikahin . Sayangnya aja saudara kandung. Pesona sang adik memang terkadang enggak ngotak, sampai membuat lupa diri kadang.


"Udah," saat berada didekat abangnya ia berkata begitu. Hari ini lumayan cerah walaupun sudah agak sore.


Mereka berangkat mengendarai motor milik abangnya. Angin berhembus sedikit lebih sejuk dibandingkan sebelumnya. Tak lama mereka akhirnya sampai didepan pintu masuk kebun binatang.


Seperti biasanya, didalam ramai sekali. Ada banyak juga pasangan muda yang sepertinya menikmati kencan mereka di kebun binatang. Katanya sih sekalian mencari suasana baru. Lumayan , pacaran sekalian nyari edukasi.


"Tolong kakiku, " terdengar suara pria muda yang histeris sekaligus kaget saat kakinya seperti dipeluk oleh seekor orang utan . Terlihat oleh matanya Fitri, orang itu berada terlalu dekat dengan kandangnya. Mungkin itulah penyebabnya.


Untung saja tanpa bantuan siapapun kakinya bisa terlepas. Salah sendiri juga terlalu dekat dengan kandang. Tau rasa juga dia sekarang.


Fitri yang melihat kejadian itu sebenarnya ingin tertawa sendiri. Bukannya apa-apa, melihat kaki orang itu dipeluk dengan erat rasa lucu saja. Seakan seperti kekasih yang sedang mabuk kepayang tak merela saat akan ditinggal pergi. Apa mungkin ya orang utan itu jatuh cinta pada pria itu? Entahlah. Tapi yang pasti ditinggal pas lagi sayang sayangnya itu enggak enak. Walaupun ia belum pernah pacaran, tapi ia sudah bisa membayangkan sesakit apa rasanya.


Pasalnya, ia sering mendengar keluhannya temannya saat sedang patah hati waktu itu . Bilangnya bakal setia ternyata mendua. Mulut buaya memang susah untuk dipercaya.


***


Ilyas ketakutan saat melihat mesin parut kelapa telah dihidupkan. Baru pertama kali ia melihatnya, entah kenapa ia jadi takut untuk memarut kelapa. Ia takut tangannya terkena mesin yang sedang berputar itu .


"Enggak usah takut. Enggak bakal tanganmu terluka . Lihat aku dulu ya," Riski yang menangkap rasa ketakutan itu berkata dengan santai. Ia kemudian mengajarinya dengan sabar.

__ADS_1


Setelah Riski memberi contoh, Ilyas kemudian mencobanya. Pikirannya masih dilanda rasa takut sebenarnya. Tapi kalau tidak dikerjakan tidak akan selesai. Mungkin hampir satu jam waktu yang ia perlukan untuk menyelesaikan pekerjaannya itu. Rasanya jantungnya hampir copot tadi. Sekarang ia bisa bernafas lega.


Sebelum melakukan pekerjaan lainnya, ia duduk dulu sambil menarik nafas panjang . Rasanya mungkin seperti selesai menaklukkan tantangan untuk bermalam di sebuah tempat berhantu sendirian. Untung saja ia berhasil menyelesaikan.Ia benar benar lega sekali.


"Takut banget tadi nampaknya. Laki kok takut. Cemen kali," begitu masuk ke dapur untuk memeras santan, Riski berkata dengan nada bercanda.


"Ya namanya juga pertama kali. Emang kau pas pertama gimana? Udah selesai pun tanganmu masih gemetaran," Hasan yang sedang asyik mencuci piring membalas ucapan Riski. Hasan berkata sambil mengingat saat pertama kali Riski bekerja. Kacau sekali kerjaannya dulu. Waktu pertama kali bahkan ia diprotes karena ikan yang ia panggang ada yang belum matang. Yang paling parah sih saat pertama kali marut kelapa memakai mesin . Hampir lari dia karena takut saat melihat mesin parut itu berputar. Ilyas sih menurutnya sedikit mendingan.


"Iya deh aku kalah. Susah memang ngomong sama kau," Riski yang sedang meracik bumbu untuk membuat ayam bumbu mengalah.


"Nanti malam mau ikut main enggak sama aku Yas? Nongkrong kita sekalian cari cewek," Hasan dengan santainya berkata begitu.


" Iya deh aku kalah," Kali ini Hasan sedang menata piring yang tadi ia cuci di rak .


Ocehan kedua teman kerjanya itu terdengar seru juga di kupingnya. Rasanya kedua orang itu sudah akrab. Ingin rasanya ikut obrolan mereka. Tapi ada rasa canggung untuk ikut serta walaupun ia diajak bicara.


Hasan, dia yang bertugas melayani pelanggan didepan . Riski, dia yang bertanggung jawab atas dapur. Mereka berdua saling melengkapi. Ilyas merasa ia tak seharusnya ada diantara mereka.


"Diam aja Yas? Kalau enggak mau nongkrong enggak masalah kok. Pasti capek banget mana hari pertama pulak. Aku juga waktu pertama kerja juga gitu kok. Makannya males kali mau keluar," selesai menata piring Hasan berkata lagi.


"Yang penting jangan kayak Riski. Seminggu kerja langsung sakit. Lemah kali jadi laki," dia melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Enggak bongkar aib orang lain bisa enggak?" Yang merasa diejek langsung protes.


"Seru tahu bongkar aib orang. Lagian juga buat pembelajaran untuk anak baru. Biar enggak lemah jadi cowok," Hasan makin menjadi-jadi ucapannya saat terkena protes.


"Emang kau enggak lemah? Nyadar dong pas kau diselingkuhin cewekmu. Lu nangis enggak berhenti kayak anak kecil minta jajan enggak dikasih. Lemah kali . Besok kau kalau patah hati jangan kayak dia ya. Jadi laki harus kuat mental. Lemah kali sama cewek ," Ucapannya Riski santai. Tapi kata-katanya seperti tidak suka dengan yang keluar dari mulutnya Hasan barusan.


***


Saat sedang asyik melihat hewan-hewan yang sedang bersantai, tiba-tiba hujan datang. Padahal saat itu tidak terlihat adanya mendung. Bahkan saat hujan pun mentari masih terlihat cerah. Aneh sebenarnya, tapi itulah kenyataannya.


Para pengunjung segera berteduh ditempat yang dirasa aman dari air hujan. Tak terkecuali dengan Fitri. Dengan terpaksa ia juga berteduh bersama dengan kakaknya.


Saat hujan ia tiba-tiba saja membayangkan hari itu ia bersama dengan Yusuf yang pergi. Pasti saat hujan seperti ini ada adegan romantis yang terjadi seperti di film yang belum lama ia tonton. Tapi sayangnya itu tidak terjadi atau mungkin takkan pernah terjadi.


Akhir-akhir ini Yusuf begitu cuek kepadanya. Ia sendiri tidak tahu alasannya apa. Ingin bertanya langsung kepadanya, tapi malu. Menurutnya cewek itu tidak boleh agresif. Takdirnya perempuan itu menunggu bukan mengejar, begitulah kira-kira prinsip yang ia anut .


Mungkin karena hal itulah, ia bahkan tidak punya pacar sebelum ia mengenal Yusuf. Tapi ia tak ingin mengambil pusing. Baginya kalau memang jodoh pasti akan bertemu juga bagaimanapun caranya.


Sebenarnya tanpa ada adegan romantis pun, asal bersama Yusuf Fitri merasa bagaikan di surga . Memang kalau cinta lupa segalanya. Tai kucing pun bisa berasa coklat .


Hujan akhirnya reda juga. Diantara awan Fitri melihat pelangi yang indah. Andai melihatnya bersama dengan kekasih, tapi ya yang terjadi tak bisa kembali lagi. Yang bisa ia lakukan hanya berharap suatu saat ia bisa melihat pelangi berdua dengan Yusuf sambil. Harapan itu, walaupun entah kapan tapi ia ingin sekali apa yang ia harapkan itu terwujud.

__ADS_1


__ADS_2