Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
88. Tentang Gadis Itu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Yusuf masih terngiang-ngiang pada senyum malu-malu yang di tunjukkan pada gadis itu. Walaupun ia berharap tak ingin jatuh cinta lagi, nampaknya kali ini ia merasa bakal merasakan jatuh cinta lagi. Rasanya terlalu cepat untuk mengenal cinta lagi , namun tampaknya perasaan itu memang susah sekali untuk di tebak.


Gadis itu sebenarnya sudah menarik perhatiannya sejak ia mulai pindah di kota yang sekarang sudah mulai tidak asing lagi. Sudah beberapa lama berlalu sejak kepindahannya baru kali ini ia bisa bertatap muka dengannya.


"Kau suka kepadanya?" Tanya temannya.


"Mungkin. Tapi sekarang aku kayaknya enggak pingin kenal cinta dulu deh."


"Kenapa? Kamu takut kayak kemarin lagi? Enggak usah takut kali ini. Kalau enggak ya mending enggak sekalian. Tapi aku harap kamu tidak menyesal jika seandainya dia nantinya bersama orang lain."


"Iya sih , tapi....."


"Kau mau dia diambil orang lagi? Coba aja kamu enggak menyerah untuk mengejar restu calon mertua , pasti sekarang kamu udah bahagia sama dia."


"Kau tau sendiri kan? Kalau cuma aku yang berjuang berat banget. Lagipula mungkin memang bukan jodohku juga."

__ADS_1


"Terserah sih," temannya Yusuf itu tak tahu harus menjawab apa. Lagipula mau berkata sepanjang apapun juga tidak akan mengubah keadaan.


"Menurutmu gadis itu bagaimana?" Tiba-tiba Yusuf berkata begitu.


"Kelihatannya sih baik, sopan banget juga. Kamu kalau mau ngedeketin bilang aja, pokoknya beres ."


"Aku sebenarnya lagi enggak pingin jatuh cinta dulu. Belum hilang rasa kehilanganku. "


"Daripada diambil orang lagi?"


"Iya sih. Tapi kan kalau nanti aku berjodoh dengannya walaupun dia sama orang lain juga tetep bakal balik ke aku lagi."


"Tapi kalau gadis itu bakalan susah banget ngejarnya. Dia belum bisa melupakan kekasihnya yang dulu. Aku pernah melihatnya sedang menabur bunga di sungai ."


"Kau itu maunya gimana sih? Kalau enggak mau serius mending kita bahas yang lain aja. Kayak soal politik atau berita terbaru. Kebetulan aku punya banyak topik untuk itu."

__ADS_1


"Enggak deh. Lain kali aja," jawab Yusuf. Dia berkata sambil memandang matahari yang terasa begitu terik . Angin berhembus lembut juga terasa dari belakang tubuhnya. Pikirannya terus membayang pada gadis yang baru bertemu tadi.


Di dalam pikiran bawah sadarnya ia melihat gadis itu sedang merajut hari-hari yang indah bersamanya. Untung saja ia dibonceng, kalau tidak mungkin sudah jatuh dari tadi karena otaknya melayang-layang ke dalam lamunan indahnya itu.


"Kau itu ngapa sih? Untung aja aku enggak jatuh!" Yusuf mengomeli temannya saat tersadar oleh lamunannya sebab temannya itu mengerem secara mendadak.


"Kau enggak lihat lampu merah? Ngelamun aja sih. Mikirin si dia ya?"


"Enggak kok," Yusuf tidak mau mengaku. Hal itu nampak jelas sekali dari nada suaranya.


"Ya sudah kalau tidak mau mengaku. Habis ini kita makan dulu ya, aku laper."


"Terserah. "


"Di depan sini ada yang jual babi guling lho. Katanya enak banget rasanya. Mau nyoba?"

__ADS_1


"Kalau aku sih mending kau yang ku guling. Mikir napa coy, kita ini muslim . Parah kau ini ," Yusuf berkata sambil menahan rasa ingin menampol temannya dengan keras.


"Kali aja kau minat. Aku juga belum pernah makan babi," tanpa. Merasa bersalah sedikitpun temannya itu menjawab.


__ADS_2