
Senja begitu cantik di kota yang tidak terlalu ramai. Yusuf dengan santainya mengendarai motor yang punya banyak cerita. Keindahan ini, tak ingin terlewatkan begitu saja. Walaupun hampir tiap hari ia merasakannya.
Saat sudah sampai di rumah , ia langsung mandi untuk menyegarkan diri. Sambil menunggu Ilyas pulang, Yusuf memasak sayur yang dibelinya tadi di warung sekalian pulang. Kali ini ia menumis kangkung , masakan favoritnya. Saat semuanya telah selesai, terdengar suara ponselnya berdering.
"Halo, apakah saudara kenal dengan orang yang memiliki ponsel ini?" Suara berat terdengar dari ponsel itu .
"Ada apa ya? Apa yang terjadi?" Yusuf panik karena ia punya firasat yang buruk . Apalagi untuk pertama kalinya orang lain menelponnya . Sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi. Karena adiknya sangat posesif terhadap segala yang ia punya walaupun itu tidak berguna baginya.
"Orang yang punya ponsel ini mengalami kecelakaan yang sangat parah. Sekarang sudah berada di rumah sakit. Tapi sayangnya nyawanya tidak tertolong," suara duka terdengar dengan sangat jelas.
"Ini bercanda kan?"
"Kalau tidak percaya silahkan datang sendiri ke rumah sakit. Mungkin ini menyakitkan, tapi kami menyampaikan kebenaran," setelah itu telpon dimatikan.
__ADS_1
Dengan hati hancur, Yusuf datang ke rumah sakit yang dimaksud. Dilihatnya muka adiknya tertutup kain. Terlihat masih ada sisa darah ditubuhnya yang perlahan mengering. Dengan perasaan yang begitu sedih, ia memeluk adiknya yang telah tiada. Air mata menetes deras dari kedua mataku yang sayu.
Nafasnya sesak, di dalam pikirannya ia ingin berteriak sekeras mungkin . Kakinya terasa lemas sekali. Benar-benar menyedihkan.
Pemakaman dilaksanakan malam itu juga. Dengan hati yang masih tak merela, Yusuf ikut menguburkan adiknya yang malang. Dia berusaha tegar waktu itu.
***
Dua tahun sejak peristiwa itu. Tak pernah sedikitpun ia lupa senja itu. Kejadian itu benar-benar membuat luka dihatinya. Apalagi kejadian itu terjadi tak lama setelah ayahnya meninggal. Andai bisa menyusul, Yusuf lebih memilih ikut juga.
Padahal Yusuf berencana untuk melamarnya. Menemani malam-malam yang begitu sepi. Hidup sebatang kara itu tidak mengenakkan sama sekali. Tapi namanya takdir , menyedihkan sekalipun tetap harus dijalani.
Disaat semuanya memuncak, waktu itu pernah ia sekali ingin bunuh diri menggunakan pisau. Dia berencana menyayat nadinya . Tapi di detik-detik akhir dia membuang pisaunya kemudian menangis.
__ADS_1
Nyatanya ia tak bisa melakukannya. Bagaimanapun ia ingin hidup lebih lama lagi. Mengakhiri hidup dengan cara yang menyedihkan tak akan membuatnya meninggal dengan senyuman .
Ia takut kehilangan lagi, ia sudah puas merasakannya. Itulah mengapa ia bersikap terlalu berlebihan kepada Ilyas. Sebenarnya ia sadar, tapi ia tak bisa menahan diri untuk bersikap seperti itu.
***
Saat Yusuf mendekat ke arah Ilyas setelah menaruh lilin yang ia nyalakan tadi , semuanya nampak terang sekali. Ternyata sudah hidup lampu lagi.
"Kau mau ku ajarin make ponsel enggak Yas? Biar nanti kalau mau nelpon aku enggak bingung," Yusuf berkata begitu saat berada didekat Ilyas yang sedang duduk dipinggiran kasur.
"Boleh," jawabnya sambil mengambil ponsel barunya tadi.
"Kita belajarnya diluar aja yok," Ilyas mengiyakan saja . Setelah itu mereka berdua keluar dari kamar itu menuju ruang tengah yang lebih lebar.
__ADS_1
***