Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
82. Yang Di depan Mata


__ADS_3

Indahnya pemandangan sangat terasa saat mereka sudah naik kepuncak gunung. Untung saja Yusuf tidak fobia terhadap ketinggian, jadi ia masih bisa menikmati pemandangan yang memanjakan matanya itu. Walaupun kakinya benar-benar pegal tapi ia puas dengan hasilnya. Memang benar-benar keren pemandangannya.


"Yuk kita buat tenda!"


"Sekarang?" tanya Yusuf.


"Tahun depan, ya sekarang lah."


"Boleh enggak aku istirahat dulu?"


"Jangan lama-lama ya!"


"Iya," Yusuf segera duduk dan minum. Ia kemudian asyik memotret pemandangan yang ada di depan matanya.

__ADS_1


"Sudah lima menit. Nanti lagi kalau mau memotret. Yang penting sekarang tendanya jadi dulu," kata temannya mengingatkan.


"Enggak bisa lebih lama lagi ya?" sambil berkata begitu ia bangkit dari tempat duduknya sekarang dan kemudian sibuk membantu membuat tenda.


***


Sambil terus memandang wanita didepannya itu, Riski bertanya-tanya dalam hati. Mukanya memang mirip dengan ibunya , tapi dia selalu meragukannya. Bagaimanapun juga , setelah sekian lama ia bahkan mulai sedikit lupa dengan wajah ibunya. Kalau misalnya itu memang ibunya, ia merasa senang sekali .


Tak ada rasa marah di dalam hatinya . Walaupun dia pergi tanpa kabar untuk waktu yang lama juga selama ini ia kesusahan karena tidak ada ibunya, ia tidak ingin membenci ibunya sendiri. Jauh di dalam hati, ia memang menginginkan dia pulang bagaimanapun keadaannya.


***


Senja yang indah terlihat begitu sempurna saat Yusuf memandanginya lagi setelah selesai membangun tenda. Dia bersyukur waktu itu tidak jadi bunuh diri. Seandainya jadi, ia takkan bisa melihat senja di puncak gunung seperti ini.

__ADS_1


Ah, masa-masa sulit yang terjadi waktu itu kini menjadi bagian dari cerita hidupnya yang berharga. Sampai matipun ia takkan terlupa saat yang penuh air mata. Ia kini sudah bisa menerima segalanya.


"Bagus banget ya! Rasanya kayak lagi di surga. Andai aja dari dulu aku melihat pemandangan seperti ini, kenapa sih aku baru sekarang melihatnya?" sambil melihat pemandangan ia protes kepada temannya.


"Lebih baik sekarang daripada enggak sama sekali kan? Karena pemandangan seperti inilah, aku punya alasan untuk hidup. Kedengarannya tidak logis, tapi inilah kenyataannya," dia menghela nafas panjang.


"Kau tau kan pacarku yang belum lama bunuh diri karena ia sudah tak punya rahim lagi? Saat itu aku benar-benar hancur. Orang dah siap mau nikah, malah dengar berita begitu. Siapa yang tidak galau? Awalnya aku ingin ikutan juga, namun setelah melihat dunia yang indah aku jadi berubah pikiran. Aku ingin terus melihat pemandangan semacam ini selama yang aku bisa. Karena hal sederhana itulah, aku bisa kuat," lanjutnya panjang lebar.


"Kamu hebat juga ya. Aku masih ingat waktu itu kamu menangis dihadapan ku. saat itu kamu menangis karena dia berharap kamu bisa bahagia dengan orang lain. Setelah ditinggal, apa kamu tidak berencana mencari orang lain?"


"Untuk sekarang aku belum ingin. Aku masih ingin sendiri entah sampai kapan. Setelah dia meninggal, sekarang aku tidak memikirkan soal pernikahan lagi. Aku tahu, aku bodoh tapi aku masih belum merelakan dia digantikan orang lain di hatiku. Aku entah, mungkin enggak bakal nikah sampai mati."


"Enggak boleh ngomong gitu. Kalau lu enggak mau nikah terus nasib anu mu gimana? Masa mau di anggurkan?"

__ADS_1


"Ada bahasan lain enggak? Soal itu juga anu ku juga enggak bakal protes," jawabnya sambil sedikit protes.


__ADS_2