
Perjalanan pulang di sore yang terlihat menguning terasa sangat mengasyikkan walaupun harus menghadapi berbagai macam perlakuan dari beberapa pengendara motor yang terlihat ingin cepat-cepat pulang. Sebenarnya dia ingin mengomel , tapi rasanya cuma buang-buang tenaga saja, tak ada manfaatnya . Yang ada malah dia akan mendapatkan masalah.
Hatinya yang begitu bahagia tidak ingin dirusak dengan hal-hal yang tidak penting seperti itu. Ia ingin secepatnya sore yang yang mulai beranjak pergi itu berlalu secepatnya. Malam ini, ia berharap semuanya berjalan dengan lancar .
Waktu berputar seperti yang diinginkan, malam itu selesai sholat Maghrib ia langsung bergegas membuka lemari bajunya. Sebenarnya ia sudah memilih pakaian yang akan ia pakai , tapi ia masih ragu apakah pilihannya itu cocok atau tidak. Ingin bertanya pada Ilyas, tapi rasanya kok gengsi gitu ya?
Setelah berpikir agak lama, ia akhirnya memutuskan untuk memakai kaus dan juga celana dengan warna senada. Segera di setrika pakaian yang ia pilih tadi. Dikasihnya pelembut banyak-banyak biar tetap wangi dan rapi nantinya . Sebenarnya cuma sugesti doang, tapi dia tetap melakukannya.
***
"Gila rapi kali. Mau kondangan apa?" Ilyas otomatis langsung berkata begitu saat melihat Yusuf keluar dengan pakaian yang rapi , ditambah aroma semerbak parfum yang sangat wangi.
"Enggak lah. Emangnya harus ya ke kondangan doang rapi? Mau kencan nih."
"Emang punya pacar?" Omongannya sederhana tapi kok rasanya saat mendengar lumayan masuk ke dalam hati .
"Sepele kali kau. Gini juga mantan bad boy ."
"Ya bukannya mau menyepelekan. Kan aku enggak tahu kalau Abang punya pacar. Habisnya enggak pernah cerita sama aku."
"Iya juga sih. Besok lah lain waktu aku bakal cerita kalau dia udah pasti jadi istriku ."
"Kelamaan."
__ADS_1
"Makanya doain biar ini jadi jodohku. Biar cepet-cepet aku cerita ke kau ."
"Amin. Semoga langgeng terus sama yang ini ya bang."
"Amin, jaga rumah ya aku mau pergi dulu," Yusuf setelah berkata begitu langsung pergi. Ia sudah tak sabar, setelah sekian lama akhirnya ada kesempatan untuk jalan berdua lagi.
Perjalanan dilewati dengan membayangkan hal yang sangat indah. Segala yang ia rencanakan ia harap bisa berhasil. Pokoknya ia ingin menjadikan malam ini sempurna apapun yang terjadi.
***
Tok tok tok
setelah sekian lama ia mengetuk pintu rumah pacarnya. Sebenarnya setiap kali ke rumahnya rasanya agak gimana gitu soalnya rumahnya terlihat dua kali atau bahkan dari rumahnya Yusuf. Kalau tak ada rasa sayang ke dia yang terlanjur sudah berkembang, ia sebenarnya ingin mencari gadis lain yang kondisinya tidak jauh berbeda dengannya.
"Fitri ada?"
"Sebentar, ku panggil dulu. Masuk dulu, mumpung orangtuaku lagi enggak di rumah."
Ia segera masuk dan duduk disebuah bangku yang terletak diruang tamu . Sementara abangnya segera menemui abangnya.
"Mau kemana kalian?" sekembalinya dari kamar adiknya, abangnya Fitri itu langsung bertanya .
"Mau nonton konser. Waktu itu aku pernah berjanji padanya untuk menonton konser bersama setelah dia keluar dari rumah sakit ."
__ADS_1
"Oh gitu, kau masih ingat kan apa yang ku bilang tempo hari?"
"Masih, tapi aku enggak bisa ninggalin dia," sambil mengingat hari itu Yusuf berkata. Dia tahu maksudnya, tapi namanya cinta bakalan susah untuk berpisah begitu saja. Rasanya seperti ada yang kurang .
"Terserah mu aja. Semuanya untuk kebaikanmu juga. Walaupun aku enggak tahu penyakit pastinya apa tapi...."
"Apapun resikonya bakal ku tanggung," belum juga abangnya Fitri itu menyelesaikan ucapannya, Yusuf langsung berkata demikian .
"Terserah kau aja," ia lantas pergi .
Tak lama setelah abangnya pergi, Fitri menampakkan batang hidungnya. Pakaiannya terlihat rapi walaupun tidak mencolok. Sambil membawa tas yang terlihat sederhana dia keluar.
"Dah lama?"
"Enggak kok. Barusan sampai , cepetan yuk keburu konsernya selesai ," Yusuf langsung mengajaknya pergi.
Mereka segera bergegas, konser nampaknya belum dimulai walaupun sudah ramai orang. Kebetulan konsernya di luar ruangan, jadi tidak perlu khawatir kebagian tempat. Mereka mendapat tempat agak dibelakang karena datangnya juga sudah lumayan terlambat.
Teriakan histeris terdengar memenuhi tempat saat pengisi acara berada di atas panggung, acara akhirnya dimulai juga setelah sekitar setengah jam menunggu. Sebenarnya Yusuf tidak terlalu menikmati karena ia memang kurang tahu dengan lagu-lagu mereka. Berbeda dengan pasangannya yang terlihat bersemangat sekali walaupun tidak sampai teriak-teriak seperti yang lain.
Dia terlihat sedang bernyanyi saat lagu favoritnya sedang dibawakan. Entah mengapa, rasanya dia senang sekali saat lagu yang biasa ia dengar itu dinyanyikan oleh penyanyi aslinya. Sementara Yusuf sudah mulai jenuh, andai bukan karena pacarnya ia sebenarnya malas menonton konser musik.
Sebenarnya bukan karena lagunya jelek, cuma karena perbedaan selera saja. Ia lebih suka mendengarkan penyanyi
__ADS_1
luar negeri . Di dalam daftar putarnya, hampir tak ada musik berbahasa Indonesia yang nyangkut. Mungkin kedepannya ia bakal menambah daftar lagu Indonesia untuk didengarnya. Dia akan memulainya dari lagu yang disukai pacarnya itu.