Kisah Lelaki Berhati Patah

Kisah Lelaki Berhati Patah
16. Ada Rindu Di Hati Fitri


__ADS_3

Matahari pagi begitu sejuk. Fitri senang sekali, sudah lama ia tak menikmati udara seperti itu. Kendaraan juga belum banyak yang lalu lalang. Rasanya ia ingin merasakannya terus dan terus. Walaupun ia sebenarnya memikirkan kekasihnya yang tak kunjung memberi kabar.


Ia merindukan saat Yusuf tiba-tiba datang di kamar tempat ia dirawat dulu. Ada saja hal-hal menyenangkan yang diberikan kepadanya. Walaupun ia tahu Yusuf menahan rasa capek yang amat sangat setelah seharian bekerja.


Kamu kenapa enggak ngabarin aku? Lagi apa sekarang? Kepalanya pecah juga memikirkan hal-hal seperti itu. Tapi ia benar-benar ingin dikirimi pesan walaupun hanya satu kata saja. Ia merindukannya, itulah yang ia rasakan.


Ia jadi kepikiran, berapa banyak ya orang yang menanggung rindu sepertinya. Apakah ada setengah populasi dunia yang menanti pesan dari orang yang dicintai seperti dirinya? Entah darimana pikiran itu muncul.


***


"Orangnya ganteng banget. Kira-kira dia mau enggak ya sama aku? Aku kok jadi gimana gitu ya. Kau enggak salah ngenalin cowok modelan gitu ke aku?" Waktu itu ia sangat tidak percaya diri saat diberi fotonya Yusuf. Kala itu ia belum mengenal Yusuf. Pikirannya menerawang ke hari itu.


"Dia pasti mau. Udah deketin aja. Pepet aja terus. Sayang lho cowok seganteng itu dianggurin," jawab orang yang menunjukkan fotonya.


"Kalau aku cewek, aku pasti bakal ngedeketin dia. Bakal ku buat dia klepek-klepek dalam sekejap," lanjutnya.


"Ya udah kalau ngedeketin. Aku dukung kok," Fitri berkata begitu karena ia tidak percaya diri . Ia merasa dirinya kurang pantas untuknya. Dalam pikirannya, cewek yang pernah dekat dengan punya badan yang bagus yang cantik.


"Sembarangan kau ini. Aku kan cowok, ya kali aku deketin dia. Emangnya aku cowok apaan?" Dia protes mendengar jawaban yang terlontar dari mulutnya Fitri.


"Aku enggak PD lho. Lagian aku kan belum pernah pacaran sebelumnya. Enggak kayak kau, semua diembat," Fitri mengungkapkan perasaannya. Sebenarnya dia mau tapi dia tidak yakin cowok yang ada di foto itu mau.


"Santai aja. Dia orangnya enggak mandang fisik kok," orang itu berusaha meyakinkan.


"Jadi gimana? Mau enggak?" Lanjutnya sambil meminta jawaban.


"Hmm.... gimana ya?" Fitri masih bingung.


"Dah mau aja. Besok ku bilangi dia buat ketemuan sama kau."


"Eh...? Aku enggak ada bilang mau lho," Fitri protes.


"Dari mukamu udah kelihatan jawabannya. Santai aja, dia enggak gigit kok."


***


Hari yang ditentukan sudah tiba dan mereka bertemu ditempat yang telah disepakati. Fitri rasanya ingin pulang saja, ia belum siap untuk bertemu dengan orang yang kini sudah berada didepannya.

__ADS_1


"Hmm..., Kamu Fitri ya?" tanya pria itu kebingungan.


"Iya. Kamu..... Yusuf ?" Saat pertama kali memulai rasanya aneh sekali ya? begitulah pikirannya saat menjawab pertanyaan pria tampan didepannya.


"Iya, aku Yusuf. Salam kenal ya," Fitri merasa cowok yang didepannya juga merasakan hal yang sama dengannya.


"Iya, Aku juga. Hm.... " Ada sesuatu yang terbersit di otak Fitri, namun belum sempat ia berkata sesuatu itu seperti menghilang.


"Kamu suka film apa?" Fitri yang kebingungan akhirnya bertanya begitu.


"Aku suka film horor sama iksi ilmiah . Kalau film romantis gitu malah kurang.Kalau kamu?"


"Mungkin kayak petualangan seru juga sih . Tapi yang paling aku suka film yang ada referensi dari mitologi kuno gitu. Soalnya aku suka sama hal-hal yang seperti itu," Fitri menjawabnya.


"Wah, jarang-jarang lho ada cewek yang suka mitologi gitu. Biasanya kan yang romantis gitu yang disukai sama cewek. Aku pernah denger sih kalau cewek lebih suka nonton tontonan baper."


" Ya kayak film sejenis Cinderella gitu. Tapi ya selera orang masing-masing," dia melanjutkan ucapannya.


"Wajar namanya juga cewek. Tapi apa cowok enggak suka yang kayak gituan?"


"Kalau aku sendiri sih kurang suka. Oh ya, kita belum pesan apa-apa," Yusuf segera memanggil pelayan dan segera memesan sesuatu.


"Aku suka kok. Tapi ya tetap aja superhero jepang yang dihati. Aku fans Ultraman. Enggak peduli dibilang kekanakan aku. Lagian mau juga kan masih bagian dari superhero. Walaupun Ultraman untuk cerita anak-anak, tapi ya tetep ada unsur-unsur yang enggak bakal anak-anak mengerti. Aku sampai sekarang masih penasaran, Ultraman belajar bahasa Jepangnya dimana? Soalnya bahasa Jepang mereka bagus banget untuk sekelas alien," Yusuf berusaha mencairkan suasana.


"Ultraman itu masuknya Alien ya?"


"Kan dia dari luar angkasa. Lihatlah kalau dah selesai gelut dia terbang ."


"Emang dia terbang ke angkasa?"


"Paling," usai menyedot minuman yang ia pesan, Yusuf berkata.


Walaupun baru bertemu, Fitri merasa bahwa Yusuf itu orang yang unik. Dia bisa mencairkan suasana dengan gampangnya. Ia ingin bisa mengenalnya lebih baik lagi.


"Kau paling suka Ultraman apa?"


"Mebius sih. Ceritanya mantap kali, lagunya pun terngiang-ngiang terus. "

__ADS_1


"Kau hafal lagunya?"


"Hafal pake banget. Tapi ya kalau disuruh nyanyiin sekarang aku enggak mau. Malu dilihat banyak orang."


"Ya udahlah . Kapan-kapan aja."


"Hm....., kau punya pacar?" pertanyaan yang terlontar tiba-tiba dari mulut Yusuf itu menurut Fitri tidak masuk akal. Ya kan tidak mungkin juga ia ketemuan sama cowok kalau dah punya pacar.


"Ini aja kalau enggak terpaksa aku enggak mau."


"Jadi terpaksa nih ketemu sama aku?"


"Iya sih. Soalnya aku belum pernah ketemuan sama cowok. Apalagi sama kamu, dilihat darimanapun kayaknya enggak cocok. Cowoknya ganteng, pasangannya kayak gini " Fitri mengakuinya.


"Aku enggak mandang fisik kok. Jangan merendah gitu, kamu imut kok."


"Ini muji apa ngejek?"


"Terserah deh. Kita bisa ketemuan lagi setelah ini? Tapi ya jangan karena terpaksa ya."


"Hmmmm... bisa enggak ya? Kira-kira kapan waktunya ?"


"Entah. Aku boleh minta nomor telponmu? biar nanti lewat telpon aja."


"Boleh. Tapi jangan untuk macem-macem ya?"


"Macem-macem gimana?"


"Enggak apa-apa. Lupain aja. Nih nomorku," sambil menyodorkan ponselnya ia berkata.


"Udah ku salin. Nanti bakal ku telpon .Kalau ada nomor baru itu berarti aku ya. Jangan bingung ," Selesai menyalin nomor telpon, Yusuf berkata begitu.


"Ok. Siap bos."


"Maaf ya enggak bisa lama-lama. Masih ada urusan lagi habis ini . Besok kalau libur kerja aku bakal lebih lama dari ini. 24 jam juga aku siap kok."


"Santai aja. Bukan salahmu kok."

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Yusuf langsung pergi meninggalkan Fitri sendirian. Walau pertemuan pertama mereka tidak lama. Bahkan hanya membahas hal random, tapi rasanya Fitri merasa ada kesan yang ditinggalkannya olehnya. Ia harap, hubungannya terus berlanjut sampai kapanpun .


__ADS_2