
Yusuf menangis saat sesosok tubuh dingin itu di temukan dipinggiran sungai. Sosok yang manis juga hangat kini tiada lagi. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menangis di dalam kerumunan orang banyak . Sang kekasih hati rupanya telah mendahuluinya untuk selamanya. Dia pergi dengan raut muka penuh kesedihan.
Sampai dirumahnya, ia langsung disambut oleh keluarga yang terlihat sangat bersedih. Bahkan ibunya terlihat pingsan saat melihat wajah kaku anak perempuan satu-satunya itu. Yusuf tak mampu mengatakan sepatah katapun. Hidupnya rasanya seperti hancur. Dalam hati ia ingin menyusulnya juga ke alam yang belum bisa dilihatnya.
Sebelumnya saat pernikahan pacarnya itu terjadi ia tak datang kerumahnya untuk memberikan selamat. Namun sebuah kabar datang mengatakan bahwa pengantin wanita itu kabur dari rumahnya saat semua orang lengah terhadapnya. Mungkin waktu ia kabur hari belum nampak terlihat fajar tiba. Dimana semua orang asyik terlelap dalam tidurnya.
Saat pagi tiba, katanya keadaan menjadi heboh dan kacau karena pengantin wanita tidak ada dimana-mana seperti menghilang dari bumi. Pemaksaan memang biasanya berujung dengan hal yang buruk. Tak ada yang bisa dilakukan selain mencarinya.
Setelah dimakamkan, sesosok tubuh menyerupai pacarnya datang mengatakan bahwa segala penderitaan yang ia alami adalah kesalahan Yusuf karena tidak bisa bersikap tegas kepadanya. Pacarnya bilang kalau Yusuf itu egois. Dia juga bilang kalau Yusuf tidak ingin mengambil resiko demi mempertahankan cintanya. Segala umpatan lain juga dilontarkan.
***
Yusuf terbangun lagi dari tidurnya. Kali nampaknya kondisinya lebih parah daripada mimpi pertama. Sambil duduk dipinggiran kasur ia membenarkan segala umpatan yang dilontarkan kepadanya. Semua yang diucapkan oleh sesosok tubuh yang menyerupai pacarnya itu benar adanya.
__ADS_1
Dia kali ini benar-benar berusaha untuk tidak tidur lagi. Ia takut kalau ia nantinya akan memimpikan Fitri lagi. Ia tidak ingin melihat Fitri yang meninggal di dalam mimpinya karena harus menanggung sikapnya yang bukan sifat seorang lelaki. Entah kenapa rasanya ia kali ini benar-benar merasa gagal menjadi lelaki . Ia benci pikiran itu, tapi ia mengakuinya.
Adzan subuh nampaknya sebentar lagi terdengar, mungkin ada baiknya kalau dia mandi dulu. Lebih baik menyegarkan badan sekaligus menenangkan pikiran dibanding terus memikirkan hal yang itu. Sebenarnya yang penting bukan dipikirkan , lebih baik kalau ia menghilangkan keraguan di dalam dirinya.
***
"Kau ngapain tidur di depan tv Yas?" saat keluar dari kamar ia melihat Ilyas tidak biasanya tiduran disana.
"Enggak bisa tidur tadi. Terus aku dengar ada maling, jadi ya aku ngejar making. Pas pulang rasanya malas banget tidur di kamar. Jadinya ya aku tidur disini aja," dia bercerita mengapa ia bisa tidur disitu .
"Enggak kenal sih aku namanya siapa," jawabnya jujur .
"Yang penting malingnya udah ketangkep kan?"
__ADS_1
"Belum sih, tapi nampaknya dia enggak akan kesini lagi untuk beberapa waktu."
"Yang hilang apa aja?"
"Motor aja sih nampaknya. "
"Enggak ada yang lain lagi kan?"
"Enggak kayaknya cuma motor doang . Aku denger dari orang-orang sih gitu, katanya motor yang kayak gitu lagi diminati banget jadi ya mungkin alasannya nyuri ya itu, buat di jual lagi."
"Ya udah, aku mandi dulu ya," Yusuf langsung meninggalkan dirinya.
"Ya udah. Kalau ada masalah soal asmara jangan sungkan untuk cerita sama aku ya," balas Ilyas. Dia tadi sebenarnya mendengar ucapan-ucapan lirih yang dilontarkan oleh Yusuf. Cuma nampaknya kalau langsung masuk ke dalam kamar dan memergoki kurang sopan. Makanya dia membiarkannya sendiri mengeluarkan segala keluh kesahnya.
__ADS_1
Yusuf diam saja mendengarnya, dalam hati ia merasa malu juga saat mendengar Ilyas berkata begitu . Sebenarnya lebih ke gengsi , bagaimanapun ia ingin terlihat keren dihadapannya. Tapi ya mungkin lain kali ia akan curhat juga dengannya.
Kalau nanti menikah juga istrinya akan menjadi kakaknya iparnya juga. Walaupun tidak ada hubungan darah atau bahkan ia baru mengenalnya sekarang, tapi Ilyas sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Ia sayang sekali dengannya seperti sayangnya kepada adik kandung yang telah lama pergi mendahuluinya. Hidupnya juga tidak terlalu terasa sepi setelah dia tinggal di rumah yang terlihat cukup besar untuk dirinya sendiri.